Menuju konten utama

Kongres Brussels 1927, Menolak Kompromi pada Imperialisme

Jika hari ini pemerintah Indonesia kompromis pada pendudukan Israel di Palestina, para bapak bangsa di masa lalu berdiri tegas: menolak tandas imperialisme.

Kongres Brussels 1927, Menolak Kompromi pada Imperialisme
Header Mozaik Kongres Brussels 1927. tirto.id/Tino

tirto.id - “Kita harus menjamin kenegaraan Palestina. Tetapi, Indonesia juga menyatakan bahwa setelah Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, Indonesia akan segera mengakui Negara Israel dan kami akan mendukung semua jaminan keamanan Israel,” begitu kata Prabowo, dalam pidatonya di Sidang Umum ke-80 PBB, di New York, AS, Selasa (23/9/2025).

Meski terdengar adil, banyak pengamat menganggap retorika tersebut sebagai pengulangan sikap lama yang tak tegas.

Sikap pragmatis Indonesia hari ini berdiri kontras dengan semangat nasionalisme awal yang menolak kompromi. Hampir seabad lalu, para pejuang kemerdekaan melihat kolonialisme bukan sebagai konflik yang bisa dinegosiasikan, tapi sebagai sistem yang harus dihapus total.

Tidak ada ruang untuk memberikan posisi seimbang antara penjajah dan yang dijajah. Etos itu paling nyata tampak dalam Kongres Liga Anti Imperialisme (LAI) di Brussels tahun 1927. Di sana, delegasi Indonesia berdiri bersama bangsa-bangsa tertindas, menolak segala bentuk kompromi dengan kekuatan imperialis.

Anti-Kolonialisme Tanpa Kompromi

10 Februari 1927, di tengah dinginnya Brussels, sebuah peristiwa bersejarah berlangsung di Palais d’Egmont. Itu adalah Kongres Internasional pertama melawan kolonialisme dan imperialisme.

Di jantung negara yang dikenal karena kekejaman kolonialnya di Kongo, para pejuang kemerdekaan, aktivis buruh, dan intelektual dari berbagai penjuru dunia berkumpul. Tujuan mereka satu: menantang tatanan global dan membangun solidaritas bagi kaum tertindas.

Kongres tersebut lahir dari inisiatif Komintern, organisasi revolusioner berbasis di Moskow, dengan Willi Münzenberg sebagai penggerak utama. Ia ingin menyatukan perjuangan rakyat jajahan dengan gerakan buruh di negara penjajah.

“Kami ingin membentuk aliansi suci, kami, underdog kulit putih, kuning, hitam, dan warna berbeda... untuk pembebasan semua orang yang menderita,” ujar Münzenberg, dikutip oleh Kasper Braskén dalamThe International Workers' Relief, Communism, and Transnational Solidarity: Willi Münzenberg in Weimar Germany (2015:160).

Kampanye serupa sudah beberapa kali menguar, termasuk “Hands of China!” dan dukungan bagi pemberontak di Suriah dan Maroko. Itu menunjukkan bahwa solidaritas lintas batas bukan lagi utopia.

Saat itu, Liga Bangsa-Bangsa yang dibentuk pasca-Perang Dunia I dianggap hanya memperhalus kolonialisme lewat sistem mandat. Bagi para delegasi di Brussels, Jenewa adalah simbol kekuasaan imperialis. Maka, kongres ini hadir sebagai “Liga Bangsa-Bangsa yang sesungguhnya” bagi mereka yang selama ini tak punya suara.

Seturut Journal of Global History, selama lima hari, 174 delegasi dari 34 negara, termasuk 107 dari wilayah jajahan, bertemu dan berbagi pengalaman penindasan yang dialaminya. Mereka kemudian merumuskan resolusi bersama dan merasakan kekuatan persatuan.

Suasana kongres dipenuhi semangat solidaritas. Itu tecermin dari berbagai demonstrasi simbolik, termasuk ketika A. Fenner Brockway dari Partai Buruh Independen Inggris berjabat tangan dan mengangkat tangan bersama delegasi Tiongkok, Liao Huanxing, di hadapan tepuk tangan gemuruh seluruh peserta.

Kongres ini juga menarik perhatian dunia. Fisikawan termasyhur, Albert Einstein, bahkan menjadi ketua kehormatan. Namun, sorotan utama tentu saja tetap pada para delegasi dari dunia terjajah.

Banyak di antara para delegasi kelak memimpin negaranya menuju kemerdekaan, seperti Jawaharlal Nehru, Mohammad Hatta, Josiah Gumede, Messali Hadj, dan Lamine Senghor. Mereka berdiri bersama tokoh revolusioner, seperti Liau Hansin dari Tiongkok dan aktivis hak asasi asal AS, Roger Baldwin.

Suara Mohammad Hatta dan Perhimpoenan Indonesia

Di tengah kongres itu, kehadiran wakil dari Hindia Belanda mencuri perhatian. Mereka bukan tokoh politik besar, melainkan mahasiswa muda yang tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia (PI), organisasi kecil beranggotakan sekitar dua puluh orang di Belanda.

Selain Mohammad Hatta, mahasiswa jurusan ekonomi berusia 25 tahun yang kelak dikenal sebagai salah satu bapak bangsa, turut bergabung pula beberapa rekan-rekan mahasiswa lainnya, seperti Nazir Pamontjak, Gatot Taroenamihardjo, Abdul Manaf, dan Achmad Soebardjo. Merujuk catatan Retno Suffatni dan Yanto Bashri dalam buku Sejarah Tokoh Bangsa (2005:51), terdapat juga perwakilan dari Sarekat Rakyat/Partai Komunis Indonesia (PKI), yakni Semaoen. Ia kebetulan diasingkan ke Belanda pada 1923 dan merupakan anggota PI.

Para delegasi dari Hindia Belanda tersebut tampil menonjol bukan karena kekuatan massa, tapi karena momentum politik global yang berpihak. Beberapa bulan sebelum kongres, pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatra mengguncang Hindia Belanda. Meski cepat ditumpas, peristiwa itu membuat wilayah jajahan Belanda masuk radar Komintern sebagai titik panas anti-imperialisme.

Setelah PKI lumpuh dan para pemimpinnya ditahan, Komintern butuh suara autentik. PI, yang aktif di Eropa dan tidak terlibat langsung dalam pemberontakan, menjadi pilihan strategis. Mereka terpelajar, fasih berbahasa asing, dan punya posisi ideologis yang selaras dengan semangat kongres.

 ilustrasi kongres internasional:

ilustrasi kongres internasional. foto/istockphoto

Hatta, nasionalis non-komunis dengan pandangan anti-kapitalis, dianggap sebagai saksi yang kredibel. Ia bisa bicara tentang kekejaman kolonial tanpa dicap sebagai "alat Moskow". Hubungan ini saling menguntungkan: PI mendapat panggung internasional, Komintern memperoleh narasi kuat untuk gerakan globalnya.

Sejak berdiri pada 1908, PI telah berubah dari klub sosial menjadi organisasi politik yang tegas menolak kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Prinsip mereka menekankan pentingnya persatuan nasional, aksi massa yang sadar, dan penolakan terhadap kompromi dengan penjajah.

Di Brussels, ideologi ini menemukan panggungnya. Hatta bahkan terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif Liga, sejajar dengan Nehru yang juga menjadi anggota. Ia konsisten mengaitkan perjuangan Indonesia dengan gerakan global melawan imperialisme.

“Betapapun berwarna dan beragamnya ras dan warna politik, dalam tujuan dan aspirasi, kita semua satu pikiran,” ujar Hatta.

Kongres Brussels memberikan dampak jangka panjang yang signifikan bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di acara inilah ia memperkenalkan istilah Indonesia untuk pertama kalinya kepada khalayak global. Hal ini menandai awal mula istilah Indonesia diakui secara luas di tatanan internasional.

Namun, keberhasilan itu memicu reaksi keras dari pemerintah kolonial. Juni 1927, beberapa bulan setelah kongres, Belanda menggerebek kediaman para pemimpin PI. Hatta dan aktivis lain ditangkap dan dituduh sebagai penghasut sehingga harus mendekam dalam sel selama hampir enam bulan.

Akan tetapi, penangkapan itu justru membuka panggung baru. Di persidangan Den Haag, Hatta menyampaikan pidato pembelaan yang kelak dikenal sebagai “Indonesia Vrij”. Di sana, ia menegaskan bahwa tidak ada titik temu antara penjajah dan yang dijajah. Kerja sama hanya mungkin jika Indonesia merdeka dan diperlakukan setara sebagai negara.

Respons cepat dan represif dari Belanda menunjukkan betapa berpengaruhnya aliansi antara nasionalis Indonesia dan gerakan anti-imperialis internasional. Di mata penguasa kolonial, solidaritas yang ditempa di Brussels bukan sekadar retorika, tapi ancaman nyata terhadap tatanan yang mereka pertahankan.

Bayang-Bayang Komintern dan Kemunduran Liga

Euforia Kongres Brussels 1927 tak bertahan lama. Aliansi luas antara nasionalis, sosialis, dan komunis yang membentuk LAI mulai retak hanya dalam hitungan tahun. Ironisnya, yang menghancurkan adalah Komintern sendiri, kekuatan yang notabene berperan melahirkan Liga tersebut. Bukan tekanan eksternal yang meruntuhkan LAI, melainkan perubahan ideologis tajam dari dalam Uni Soviet yang kemudian dipaksakan ke panggung gerakan global.

Setahun setelah kongres, Komintern, di bawah kendali Joseph Stalin, berubah haluan. Strategi “front persatuan” yang inklusif diganti dengan kebijakan ultra-kiri “Periode Ketiga”. Kapitalisme dianggap sedang sekarat, dan revolusi proletariat diyakini sudah dekat.

Dalam logika baru ini, semua kelompok di luar kendali komunis, termasuk sosial demokrat dan nasionalis borjuis, dan dianggap musuh. Mereka dicap sebagai “fasis sosial”, agen moderat yang menyesatkan kaum buruh dari revolusi sejati.

Pergeseran ini bukan respons terhadap dunia luar, melainkan bagian dari perebutan kekuasaan internal Soviet. Menurut jurnal European History Quarterly, Stalin menggunakan doktrin baru untuk menyingkirkan rival di dalam Partai Komunis Soviet, yakni Nikolai Bukharin yang lebih moderat. Lalu, doktrin itu diterapkan ke Komintern dan semua afiliasinya, termasuk LAI. Liga pun berubah dari ruang solidaritas menjadi alat disiplin ideologis.

Kongres Kedua LAI di Frankfurt tahun 1929, yang dihadiri oleh 260 delegasi, menunjukkan dampaknya. Suasana hangat Brussels digantikan oleh pertarungan ideologi yang penuh kecurigaan. Menurut artikel dari pihak Komintern, Willi Münzenberg bahkan menyebut para nasionalis borjuis sebagai pengkhianat yang menjual diri ke imperialisme.

Kongres tersebut berlangsung di tengah meningkatnya represi kolonial. Salah satunya penangkapan serikat buruh di Meerut, India, yang dituduh bekerja sama dengan Uni Soviet untuk menggulingkan pemerintahan Inggris dalam revolusi sosialis.

Organisasi seperti Kongres Nasional India dan tokoh-tokoh revolusioner macam Nehru dan Hatta, yang dulu dielu-elukan, kini dikritik atau dipaksa keluar.

Setelah para tokoh non-komunis disingkirkan, LAI kehilangan semangat dan legitimasi. Organisasi yang semula penuh harapan berubah menjadi kelompok kecil terisolasi, hanya berisi kaum komunis dan simpatisan setia.

Upaya membangun gerakan massa gagal. Liga tersebut menjadi ruang intelektual yang tidak menapak tanah. Memasuki 1930-an, aktivitasnya nyaris berhenti. Ketika Nazi berkuasa di Jerman pada 1933, sekretariat Liga berpindah-pindah, sempat ke Paris, pernah pula ke London, Hal itu melemahkan efektivitas organisasinya.

Warsa 1935, Komintern kembali membuka pintu bagi aliansi non-komunis. Akan tetapi, bagi LAI, perubahan ini datang terlambat. Pada 1937, LAI secara resmi dibubarkan.

Baca juga artikel terkait IMPERIALISME atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin