tirto.id - Gedung Putih pada Jumat (16/1) mengumumkan pembentukan National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) untuk mengawasi transisi kekuasaan di Jalur Gaza, Palestina. Komite "teknokratik" tersebut merupakan bagian dari rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang Israel di wilayah itu.
Seturut pemberitaan Antara, NCAG akan dipimpin Dr. Ali Sha'ath, mantan wakil menteri di Otoritas Palestina. Di lapangan, NCAG bertugas memulihkan layanan publik, membangun kembali institusi sipil, dan menstabilkan kehidupan Gaza.
Untuk mengawasi operasional di lapangan, NCAG memiliki Dewan Eksekutif yang melibatkan sejumlah tokoh, di antaranya Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan; Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff; menantu Trump, Jared Kushner; mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, serta pejabat senior dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir.
Selain itu, NCAG memiliki Dewan Perdamaian sebagai otoritas tertinggi yang mengarahkan transisi kekuasaan di Gaza. Dewan ini dipimpin langsung oleh Trump dengan anggota antara lain Menlu AS Marco Rubio, Witkoff, Kushner, Blair, dan Presiden Kelompok Bank Dunia Ajay Banga.
Pengumuman pembentukan NCAG menandai dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, yang berfokus pada demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi.
Fase tersebut mencakup penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pelucutan senjata Hamas, pengerahan pasukan stabilisasi internasional, serta pembentukan pemerintahan sementara Palestina di Gaza.
Sejak Oktober 2023, Israel telah melancarkan perang brutal yang menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina. Meski gencatan senjata resmi diberlakukan sejak Oktober 2025, Israel terus menyerang Gaza dan menewaskan hampir 450 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.
Masuk tirto.id


































