tirto.id - Komisi I DPR RI menyetujui penerimaan hibah kapal dari Pemerintah Jepang kepada TNI senilai 1,9 miliar yen atau setara dengan lebih dari Rp200 miliar melalui program Official Security Assistance (OSA). Hibah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemampuan pengamanan wilayah laut Indonesia.
Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, memberikan catatan penting terkait prinsip kedaulatan dan berdampak pada keinginan asing dalam mempengaruhi kebijakan Indonesia.
“Bahasa sederhananya, kalau kita dibantu kita senang, tetapi yang kami underline adalah jangan sampai bantuan ini mendikte,” ucap Utut di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Utut menekankan bahwa hubungan Indonesia dan Jepang merupakan hubungan persahabatan yang telah terjalin lama dan proses hibah telah melalui tahapan diplomatik.
“Jepang adalah sahabat lama kita. Saat itu disetujui 27 Januari melalui charge d’affaires-nya, kuasa usahanya, karena dubesnya waktu itu belum hadir dan awal dirintis oleh saudara Dirjen Kuathan, saudara Marsekal Muda Haris,” kata Utut.
Utut menambahkan, setelah disetujui di tingkat Komisi I, mekanisme selanjutnya adalah pembahasan dalam Rapat Paripurna DPR RI.
“Perjalanannya sudah melalui tahapan dan hari ini persetujuan. Mekanisme selanjutnya adalah diparipurnakan,” katanya
Utut menyebut setelah seluruh proses politik rampung, kapal hibah tersebut akan diserahkan kepada kementerian terkait untuk dioperasikan.
“Setelah itu, baru barang biasanya menggelinding ke sini dan bisa digunakan. Nanti, tentu kementerian yang mengatur, biasanya kalau kapal ya ke Angkatan Laut,” terang Utut.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Donny Ermawan Taufanto, menyampaikan bahwa persetujuan hibah kapal dari Jepang dibahas dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI. Tahun ini, nilai hibah yang diterima Indonesia mencapai 1,9 miliar yen.
“Untuk jumlah kapal, itu tadi nilainya sekitar 1,9 miliar Japanese yen. Itu kalau dikapalkan itu kira-kira antara tiga atau empat kapal,” jelas Donny.
Donny menjelaskan, pada tahun sebelumnya, Indonesia telah menerima dua kapal hibah senilai 1 miliar yen. Tambahan alutsista tersebut dinilai strategis bagi TNI Angkatan Laut.
“Yang kami sampaikan bahwa dari aspek strategis, hibah ini sangat penting bagi kita. Kita tahu bahwa wilayah kita itu sangat luas sekali, banyak kerawanan-kerawanan yang ada di wilayah kita sehingga tambahan alutsista ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi TNI Angkatan Laut untuk mengamankan wilayah perairan kita,” kata Donny.
Selain itu, kapal hibah tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik perairan Indonesia. Dari sisi anggaran, Donny menegaskan hibah tersebut tidak membebani keuangan negara.
“Dari aspek ekonomi juga kita tidak mengeluarkan anggaran sepeserpun dari APBN kita, kita tinggal menerima. Memang peralatan yang ada secukupnya untuk non-combatan,” ucap Donny.
Sementara dari sisi hubungan luar negeri, hibah ini dinilai dapat memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia-Jepang.
“Kemudian berikutnya dari aspek hubungan luar negeri, ini akan mempererat hubungan kerja sama kita dengan Jepang, khususnya antara Kementerian Pertahanan Indonesia dan Kementerian Pertahanan Jepang,” ucap Donny.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































