Menuju konten utama

Kisah Suami Istri Berjuang Bangun Rumahnya yang Terdampak Banjir

Kendati harus tertatih-tatih, sepasang suami istri ini tetap berjuang membangun kembali rumahnya yang telah hancur tersapu banjir dan tanah longsor.

Kisah Suami Istri Berjuang Bangun Rumahnya yang Terdampak Banjir
Pasangan suami istri Abdul Salam dan Nurbaeti sedang memperbaiki rumah mereka yang tersisa sepaeuh bangunan di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan pada Sabtu (6/12/2025). tirto.id/M. Irfan Al Amin

tirto.id - Meski hanya tersisa separuh bangunan, pasangan suami istri Abdul Salam dan Nurbaeti beserta lima anaknya tetap bertekad kuat kembali ke tempat tinggal asal. Rumah mereka, yang berada di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, nyaris luluh lantah tergerus banjir dan tanah longsor pada Selasa, 25 November 2025.

Dulu, rumah itu mereka bangun pelan-pelan, sedikit demi sedikit, mengumpulkan hasil dari usaha berjualan martabak. Kini, bangunannya hanya tersisa dapur dan ruang keluarga. Itu pun menganga karena atap sengnya terseret arus dan nyaris roboh akibat tiang fondasinya tercerabut bersama banjir.

Di ruang keluarga, hanya tersisa satu tiang penyangga yang, apabila tersenggol oleh sedikit guncangan, bisa ambruk kapan saja. Meski demikian, Abdul Salam dan Nurbaeti masih rela memperjuangkan dan memperbaiki "istana kecil"-nya.

Abdul Salam mencari sisa kayu di sekitar rumahnya untuk menggantikan tiang rumah yang hancur terseret banjir. Dia kemudian memasangnya secara swadaya, tanpa bantuan orang lain.

Namun, ia akhirnya mengalami kesulitan saat harus menyambungkannya dengan bagian atap rumah yang tersisa. Ia pun meminta Nurbaeti naik ke atas pundaknya. Sang istri diminta menancapkan paku serta mengakali sedemikian rupa, yang penting tiang kayu bekas temuannya itu bisa sedikit mengokohkan rumahnya.

Nurbaeti melaksanakan instruksi dari suaminya dengan sepenuh hati. Dia memukul paku menggunakan palu yang dicengkeram kuat. Beberapa kali, sang suami tak terlihat puas dengan hasil karya istri. Meski begitu, pekerjaan renovasi rumah itu selesai sesuai target. Sederhana saja, yang penting bangunan itu dapat ditinggali lagi.

Setelah tiang penyangga darurat itu terpasang, Nurbaeti membentangkan tikar plastik, yang kemudian digunakan oleh anak-anaknya untuk bermain. Seiring waktu, sejumlah tetangganya ikut menghampiri. Kini, mereka menjadikan rumah yang telah kehilangan banyak tembok itu sebagai tempat bercengkerama.

Nurbaeti bercerita, dia dan suaminya bekerja secara swadaya, mulai dari pembersihan lumpur menggunakan sekop hingga memperkuat sejumlah tiang agar atap tak roboh.

"Hanya kami berdua membersihkan pasir dari kamar menggunakan sekop," kata Nurbaeti di rumahnya, Sabtu (6/12/2025).

Kisah Suami Istri memperbaiki Rumah di Tapanuli Selatan

Anak dari pasangan suami istri Abdul Salam dan Nurbaeti bermain di rumah mereka pada Sabtu (6/12/2025). Kondisi rumah hanya menyisakan separuh bangunan akibat diterjang banjir dan tanah longsor pada Selasa, 25 November 2025. tirto.id/M. Irfan Al Amin

Apabila ditilik dari jauh, rumah Nurbaeti sedikit "beruntung". Sebab, hanya rumah itu yang "selamat" dari bencana, sedangkan rumah tetangga di sebelah kanan dan kirinya telah rata dengan tanah, terseret derasnya banjir.

Ada satu hal yang membuatnya heran dalam tragedi banjir dahsyat tersebut, yakni ikut terseretnya kayu berjumlah ribuan dan berukuran besar.

Dia menjelaskan, banjir pada 25 November 2025 itu terjadi dua kali. Banjir pertama setinggi betis, yang menurutnya menjadi "hal rutin" saat musim penghujan tiba. Namun, banjir kedua terjadi begitu cepat dan tingginya sepinggang orang dewasa.

"Di sini banjir adalah hal biasa, tapi baru kali ini ada kayunya," terangnya.

Beruntung, dari seluruh anggota keluarganya, tak ada yang menjadi korban. Nurbaeti, yang saat itu tengah sibuk berbelanja di pasar, menyebut bahwa anak-anaknya berhasil dievakuasi oleh sang suami ke jembatan yang tak jauh dari rumahnya.

"Lari semua ke arah jembatan," jelas Nurbaeti.

Saat ini, Nurbaeti beserta keluarga mengungsi di rumah saudara yang berjarak satu kilometer dari rumahnya. Untuk bisa kembali ke rumah, Nurbaeti bersama suami dan anak-anaknya harus berjalan kaki menempuh jalan berdebu bekas lumpur banjir. Jika beruntung, dia bisa menumpang truk atau mobil milik relawan maupun pemerintah yang melintas.

"Terkadang kami naik mobil, menumpang," ungkapnya.

Sebetulnya dia memiliki becak motor dan sepeda motor pribadi. Namun, sepeda motor itu rusak akibat tertimbun lumpur sehingga harus diperbaiki untuk bisa dipakai. Sementara itu, becak motornya sudah tak bisa diselamatkan karena hancur dan terhanyut aliran deras banjir.

"Kami ada satu kereta [motor] dan satu becak kereta. Tapi becak kereta hanyut, dan udah kayak gitulah [tidak bisa diselamatkan]," sesalnya.

Dengan segala kondisi kekurangan yang dialaminya, Nurbaeti berharap bisa kembali menghuni rumahnya, meski hanya tersisa separuh. Harapannya, dengan menghuni rumah tersebut, Nurbaeti dan keluarganya bisa kembali beraktivitas seperti sediakala, layaknya sebelum banjir menerpa, dan perlahan bisa membangun rumahnya utuh kembali.

"Yang penting bisalah kami tempati rumah ini segera," jelasnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Sosial Budaya
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fadli Nasrudin