Penyakit Mulut dan Kuku

Kisah Peternak & Pedagang Hewan Kurban Iduladha di Tengah Wabah PMK

Reporter: Farid Nurhakim, tirto.id - 4 Jul 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Fuad bercerita soal pengamalan ternaknya kena virus PMK pada Mei lalu. Dari 50-an ekor sapi yang terjangkit, sekitar 80% sembuh.
tirto.id - Iduladha atau hari raya lebaran kurban sejatinya menjadi momen bagi para peternak dan pedagang sapi menghasilkan cuan. Namun, tiga tahun terakhir situasinya tidak begitu berpihak. Pada Iduladha 2020 dan 2021, dunia termasuk Indonesia dihadapkan dengan pandemi COVID-19. Hal ini membuat sebagian besar peternak dan pedagang kecil tak begitu beruntung.

Secercah harapan muncul tahun ini ketika kasus COVID-19 mulai melandai sejak awal 2022. Sayangnya, harapan itu kembali pupus saat muncul kasus penyakit mulut dan kaki (PMK) di Indonesia sejak April 2022. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan telah menetapkan Status Keadaan Tertentu Darurat PMK pada hewan ternak lewat Surat Keputusan Kepala BNPB Nomor 47 Tahun 2022. Saat ini kasus PMK sudah menyebar di 246 kabupaten/kota di 22 provinsi.

Hal tersebut membuat para peternak, baik sapi perah dan hewan kurban cemas dan menanggung kerugian yang cukup besar. Sebab mereka tidak bisa memproduksi susu dan ternaknya rawan mati karena penyakit PMK tersebut.

“Produksi susu sapi perah langsung habis, tidak keluar susunya,” kata Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) Agus Warsito kepada reporter Tirto, Selasa (22/6/2022).

Agus menjelaskan susu tidak keluar karena sapi perah tidak mau makan lantaran mulutnya sakit melebihi sariawan. Lalu, sapi juga kesakitan saat ambing dan puting susunya dipegang, terlebih saat diperah. “Belum lagi kalau sampai mengalami kematian. Sapi perah rentan mati kalau terpapar PMK,” kata dia.

Agus memaparkan rata-rata produksi susu satu ekor sapi sebanyak 15 liter per hari. Dengan harga susu Rp7.000 per liter, maka kerugian mencapai Rp105.000 per ekor dalam sehari.

Hal senada diungkapkan, Asep Firmansyah (38), salah satu peternak sapi perah dan hewan kurban saat ditemui reporter Tirto, di peternakannya, di Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (30/6/2022). “Rasanya gimana ya? Enggak bisa diungkapin sama kata-kata.” Karena bagi Asep, dampak dari PMK sangat merugikan sekali.

Asep mencontohkan, dari sapi perah saja yang biasanya bisa berproduksi 80 liter susu sehari, saat ini dapat 10 liter saja sudah sangat bagus. “Kami, kan, ngandelin dari susu ya. Dari susu itu, ya ancur dah, ancur-ancuran peternak sapi itu. Ancur-ancuran,” kata dia.

Ia menambahkan, “Biasanya, kalau normal aja, pemasukkan kita, ya alhamdulillah dari 5 ekor itu, kami bisa sampai Rp15 juta [sebulan]. Lah sekarang, Rp3 juta saja berat sebulan. Jauh banget. Efeknya luar biasa,” kata Asep.



Kisah serupa dialami Fuad Al Athor (42), pemilik peternakan sapi perah dan sapi potong. Fuad bercerita soal pengamalan ternaknya kena virus PMK pada Mei lalu. Saat itu, kata dia, terdapat 50 ekor sapi milik dia dan tiga orang lain di peternakan yang ia kelola terserang wabah tersebut.

“Waktu itu perkiraan sekitar 50-an ekor, yang roboh [ada yang sempat disembelih] mungkin ada 10-an. Tapi sebagian besar sempat kami sembelih, potong paksa, ya sekitar 10-11 ekor lah, sebagian. Kalau yang kecil-kecil, ya mati begitu saja,” kata Fuad saat ditemui di peternakannya, di Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Kota Depok pada Kamis siang, 30 Juni 2022.

Dari 50 ekor sapi itu, kata Fuad, sekitar 80 persennya sembuh. Gejalanya yaitu sapi tidak mau makan karena ada sariawan, lama-lama sama sekali tidak mau makan, tidak kuat berdiri, dan bahkan mati.

“Kalau yang parah banget, [kakinya] mulai mengelupas. Wah kalau sudah kena itu, ya 90 persen [akan mati],” ujar dia.

Sebagai antisipasi terserang PMK lagi, Fuad mengatakan sudah memberikan ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit, telur, temulawak, yang diblender. Tujuannya agar stamina sapi kuat, karena menurut dia virus PMK ada siklusnya.

Dari pantauan Tirto di perternakan Fuad, masih ada seekor sapi berwarna coklat yang terlihat kukunya masih terluka akibat PMK dan ada robekan di kulit area kaki. Sapi ini juga tidak bisa berdiri. Menurut Asep dan Fuad, hewan ternak mereka yang satu itu sudah sembuh dari PMK, tapi memang kukunya masih sakit, itulah alasan mengapa sapi tersebut belum bisa berdiri normal.


Peternak dan Pedagang Sapi Jelang Iduladha
Suasana tempat berjualan yang terdampak penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jl. Gas Alam, Kel. Curug, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Kamis (30/6/2022) sore. (tirto.id/Farid Nurhakim)

Cerita dari Peternak Bogor

Cerita yang sama dialami Ferry Kusmawan (45), peternak sapi perah di kawasan peternakan sapi perah KPS Bogor, di Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogo. Saat dihubugi Tirto, Ferry mengatakan sapinya masih ada yang belum sembuh dari virus PMK ini.

“Jelas berdampak, logikanya gini, sapi kami, sapi perah menghasilkan susu, susunya sekarang drop banget bahkan lebih dari 50 persen produktivitasnya turun. Sedangkan makan dia dan itu sekarang bukan sekadar makan, tapi ekstra pengobatan, setelah pengobatan, kita ekstra rehabilitasi dan yang sekarang sudah terlihat sehat pun tidak bisa kembali ke 70-80 persen, baru di 50 sampai 60 persen [produksi susu], itupun enggak semuanya,” kata Ferry.

Ferry menyebut tidak memiliki penghasilan lagi dari selain susu, bahkan sampai minus. “Minus itu karena, jadi gini, contohnya dari 30 ekor sapi, 15 ekor produktivitas susunya normal, itu kami menghasilkan susu sekitar 200 liter. 200 liter itu berarti kami punya uang seharinya sekitar Rp1.100.000,” tutur Ferry.

Dia menambahkan, “Rp1.100.000, nah itu belanjakan lagi untuk pakan dengan tenaga kerja segala macam itu di sekitar di Rp500 sampai Rp700 ribu. Nah sisanya tabungan kita buat bayar ya, di samping kehidupan kita sendiri, sisanya buat bayar cicilan kami ke koperasi atau ke bank,” kata Ferry.

Kemarin saja, kata Ferry, penghasilan susu dari peternakannya hanya mencapai 60 liter. Satu liternya seharga Rp6.000. Artinya saat itu dia hanya mendapatkan Rp360 ribu. Sedangkan, dalam sehari dia harus mengeluarkan uang Rp500 hingga Rp700 ribu. Dan itu belum biaya pengobatan sapi.

“Ya minus. Dari penghasilan itu, penghasilan peternak sapi perah hari ini mungkin kebanyakan rata-rata minus,” ucap Ferry.


Pedagang Sapi Jelang Iduladha

Tidak jauh berbeda dari para petenak sapi, pedagang hewan kurban pun ikut terdampak PMK. Hal ini dialami Ahmad Nakib (25), pria yang tiap tahun atau jelang Iduladha berdagang sapi potong. Walau sapi-sapi dia tidak ada yang terkena wabah PMK, tetapi justru dia mendapatkan sepi pembeli hewan kurban tahun ini.

“Kalau untuk dampak masalah harga sapi, tentu harganya jadi melonjak gitu. Itu harga sapinya jadi melonjak, kemudian daya belinya juga untuk tahun ini saya berkurang. Ya berkurang daya belinya, kurang 20 persen lah dari tahun lalu,” kata Nakib saat ditemui Tirto di tempat berjualannya di Kelurahan Curug, Cimanggis, Kota Depok, Kamis sore (30/6/2022).

Pedagang sapi Bali itu mencontohkan, sapi Bali tahun lalu dijual seharga Rp21 juta per ekor, sekarang bisa mencapai Rp24 juta. Perbedaannya hingga tiga juta rupiah. Namun akibat PMK, kata dia, selain daya beli mayarakat menurun, stok yang dia jual juga lebih sedikit.

Tahun lalu, Nakib memiliki stok 105 ekor sapi Bali dan habis terjual pada Iduladha 2021. Pada lebaran kurban tahun ini, dia hanya punya 81 ekor sapi Bali dan 2 ekor sapi Limosin. Namun, hingga H-10, baru 58 sapi Bali yang terjual.

“Karena masyarakat takut, karena takut PMK, yang sudah disebar di televisi di mana-mana, yang membuat rasa ketakutan masyarakat terhadap sapi kurban gitu. Ya paling signifikan masalah harga kita belinya ya, dari Bali-nya langsung, kami sudah tinggi harganya gitu,” ujar dia.

Dari pantauan Tirto saat berkunjung ke lapak Nakib, memang terlihat sepi pembeli, hanya ada 1-2 keluarga yang membawa anak kecil untuk sekadar mengambil foto bareng keluarga, tetapi tidak beli.


Peternak dan Pedagang Sapi Jelang Iduladha
Seorang pedagang sapi potong, Ahmad Nakib di tempat berjualannya di Jl. Gas Alam, Kel. Curug, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Kamis (30/6/2022) sore. (tirto.id/Farid Nurhakim)

Harapan kepada Pemerintah

Para peternak dan pedagang sapi memiliki sejumlah harapan bagi pemerintah, khususnya Kementan. Asep berharap agar pemerintah bisa memperhatikan peternak, terutama yang berada di perbatasan-perbatasan provinsi. Karena lokasi peternakan dia berada di perbatasan Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Selain itu, dia berharap agar bila mereka ingin mengurus surat-surat ke dinas terkait, tidak memakan waktu yang lama dan dapat diproses lebih cepat. Asep juga berharap pemerintah segera memvaksinasi hewan-hewan ternaknya.

“Kalau ganti rugi, setiap peternak pasti [mau]. Karena dampaknya luar biasa. Ya paling enggak setengahnya dari harga sapi, kan, sudah bersyukur gitu ya, kita ada gantinya,” sambung Asep.

Fuad menambahkan, ia menginginkan agar pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto direalisasikan. Yaitu dapat memberikan Rp10 juta rupiah bagi hewan ternak yang mati akibat PMK.

“Ya saya kira, ya kami sambut baiklah kalau pemerintah bisa merealisasikan [rencana] itu,” kata Fuad.

Hal senada diungkapkan Ferry yang berharap agar pemerintah dapat memperhatikan dampak dari wabah PMK. Karena para peternak merugi, sapi banyak yang hilang, dan populasi sapi juga hilang.

“Saya minta bukan cuma sekadar penggantian Rp10 juta dari pemerintah, tapi pemerintah juga lebih memikirkan penggantian sapinya, bagaimana penghasilan si peternak ini bisa pulih kembali sehingga dia bisa berkehidupan yang layak dan dia menunaikan kewajibannya seperti ke perbankan,” ucap dia.

Ferry juga memohon agar ada minimal kompensasi untuk masalah utang-piutang peternak se-Indonesia. “Jujur, kami sama COVID enggak begitu takut. Tapi kami sama PMK, stresnya setengah mati. Sampai kami harus ronda di kendang, bayangkan. Kita COVID masih tenang-tenang tidur di rumah, kayak gini boro-boro tidur, gantian di kandang itu ronda,” kata Ferry.

Sementara itu, Nakib berharap agar pemerintah mempunyai obat untuk benar-benar mengatasi masalah PMK tersebut. Pemerintah juga harus cepat tanggap dalam menyelesaikan persoalan ini.

“Ya pemerintah juga enggak boleh diam gitu, kan, harus segera cepat tanggap lah untuk menyelesaikan masalah PMK ini. Karena, kan, sapi Bali juga banyak dikonsumsi sama masyarakat gitu, kan, kalau masyarakatnya takut beli, otomatis sapi Bali jadi kurang peminat,” tutup Nakib.


Baca juga artikel terkait WABAH PMK atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Abdul Aziz

DarkLight