tirto.id - Khutbah Jumat 31 Juli 2026 bulan Safar bertema sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw dalam menyiarkan Islam. Isi teks khutbah Jumat bulan Safar dapat menjadi rujukan khatib dan imam yang bertugas. Simak selengkapnya.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Nabi yaitu hijrah dari Makkah ke Yatsrib, yang kini disebut Madinah. Hijrah tersebut bukan tanpa alasan.
Situasi di Makkah kala itu tidak lagi kondusif, karena penolakan dan ancaman dari orang-orang kafir Quraisy. Akibatnya, agama Islam tidak dapat berkembang.
Nabi hijrah ke Madinah setelah mendapat petunjuk Allah melalui malaikat Jibril. Perjalanan kurang lebih kurang menempuh jarak 450,4 km. Nabi Muhammad akhirnya berhasil tiba di Madinah dengan selamat.
Teks Khutbah Jumat 31 Juli 2026 Bulan Safar: Sejarah Perjuangan Nabi
Secara etimologi, hijrah adalah meninggalkan suatu perbuatan, menjauhkan diri dari pergaulan, pindah dari satu tempat ke tempat lain atau meninggalkan suatu daerah menuju daerah lain.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna hijrah merupakan perpindahan yang dilakukan Nabi Muhammad saw bersama sebagian pengikut, dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy.
Keputusan Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah memiliki sejumlah latar belakang. Peristiwa penting dalam perkembangan Islam ini juga dapat dipetik sejumlah hikmah bagi umat Islam.
Teks khutbah Jumat 31 Juli 2026 bulan Safar kali ini bertema sejarah perjuangan hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah. Teks khutbah disusun sesuai rukun-rukun khutbah.
Khutbah 1
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ.
اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.
Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.
Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah…
Menuju akhir bulan Safar, marilah kita isi dengan kebaikan dan amal shalih. Setelah melewati bulan Muharram, Safar menjadi kesempatan bagi setiap muslim untuk terus menjaga semangat beramal dan memperbaiki diri.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Seiring penolakan Kafir Quraisy di Makkah yang semakin masif, keselamatan Nabi Muhammad dan para sahabatnya semakin terancam. Sebab itu, Nabi memerintahkan para sahabat untuk berhijrah secara sembunyi sembunyi.
Mereka meninggalkan tanah kelahiran, rumah, dan segala yang diimiliki untuk berjuang menyebarkan agama Islam dan menggapai ridha Allah. Allah pun telah mengingatkan bahwa siapa yang berhijrah dengan tujuan baik maka akan mendapatkan hal yang baik. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
nnalladzîna âmanû walladzîna hâjarû wa jâhadû fî sabîlillâhi ulâ'ika yarjûna raḫmatallâh, wallâhu ghafûrur raḫîm
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al-Baqarah: 218).
Suatu hari, hanya tersisa Nabi Muhammad saw, Ali bin Abi thalib, dan Abu Abu Bakar as-Siddiq bersama keluarganya. Dalam sebuah musyawarah di Dar al-Nadwa yang dihadiri oleh seluruh perwakilan Kabilah Arab, terdapat tiga opsi yang perlu dilakukan untuk mematikan agama Islam.
Pertama, Nabi Muhammad harus diusir dari kota Makkah. Kedua, Nabi Muhammad harus dimasukkan dalam penjara, dan ketiga Nabi Muhammad harus dibunuh. Opsi pertama dan kedua masing memungkinkan bagi umat Islam untuk menyebarkan agamanya.
Dalam musyawarah tersebut, Kafir Quraisya memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad dengan beragam cara. Salah satunya menugaskan perwakilan masing-masing suku Arab untuk membunuh Nabi.
Tipu daya dan siasat kaum musyrik Quraisy ini temaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 30:
وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الْمٰكِرِيْنَ ٣٠
wa idz yamkuru bikalladzîna kafarû liyutsbitûka au yaqtulûka au yukhrijûk, wa yamkurûna wa yamkurullâh, wallâhu khairul-mâkirîn
Artinya:"(Ingatlah) ketika orang-orang yang kufur merencanakan tipu daya terhadapmu (Nabi Muhammad) untuk menahan, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya."
Hadiri yang dirahmati Allah.....
Di suatu malam yang mencekam, Kafir Quraisy telah mengintai Nabi Muhammad untuk membunuhnya. Mereka melihat Nabi tidur di atas ranjang menggunakan selimut hijau dari Arabia Selatan.
Di malam itu pula, Nabi telah diperintahkan Allah melalui malaikat Jibril untuk berhijrah. Dalam kitab al-Tarikh halaman 72, Ibn al-Atsir al-Kamil menjelaskan Malakiat Jibril berkata kepada Rasulullah
“Muhammad janganlah kamu tidur malam ini di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk berhijrah ke Madinah" (Ibn al-Atsir al-Kamil fi al-Tarikh, hal. 72).
Setelah mendengar perintah tersebut, Nabi Muhammad memanggil Ali bin Abi Thalib untuk mencatat barang berharga yang dititipkan oleh masyarakat Makkah kepada Nabi. Nabi juga memerintahkan agar Ali tidur di atas ranjang Nabi lengkap dengan menggunakan selimutnya.
Ali kemudian melaksankan perintah tersebut di tengah kepungan Kafir Quraisy yang siap membunuh Nabi. Pada tanggal 2 Rab’ul Awwal tahun ketiga belas dari kenabian, bertepatan dengan 20 Juli 622 M, Nabi berangkat dari rumah, setelah lewat dua pertiga malam, untuk berhijrah.
Saat keluar rumah, Nabi melempar segenggam pasir kepada orang-orang Quraisy yang akan membunuhnya. Atas izin Allah orang-orang Quraisy tertindur tanpa mengetahui kepergian Nabi. Setelah itu, Nabi menemui Abu Bakar yang telah menyiapkan dua ekor unta untuk berhijrah.
Perjalanan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah melewati rute dan waktu yang tidak umum. Mereka tak langsung bergegas ke Yatsrib, namun berjalan ke arah selatan menuju gua di Gunung Tsur. Rasul dan Abu Bakar berada di dalam gua tersebut selama tiga hari.
Ada pula Abdullah dan Asma’ (putra dan putri Abu Bakar) yang membantu memberikan informasi sekaligus membawakan keperluan serta makanan untuk mereka.
Selama proses perjalanan hijrah, terdapat berbagai mukjizat yang menunjukkan luar biasanya pertolongan Allah. Contoh mukjizat itu adalah sarang laba-laba yang muncul di depan gua sehingga mengecoh para pemburu Rasul. Kemudian, burung yang hinggap dan pohon tumbuh seolah menyamarkan keberadaan Rasul.
Saat mengetahui orang-orang Quraisy mencari Nabi di depan gua, Allah menenangkan hati Nabi Muhammad dan Abu Bakar yang berkecamuk. Hal ini diabadikan dalam At-Taubah ayat 40:
اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٤٠
illâ tanshurûhu fa qad nasharahullâhu idz akhrajahulladzîna kafarû tsâniyatsnaini idz humâ fil-ghâri idz yaqûlu lishâḫibihî lâ taḫzan innallâha ma‘anâ, fa anzalallâhu sakînatahû ‘alaihi wa ayyadahû bijunûdil lam tarauhâ wa ja‘ala kalimatalladzîna kafarus-suflâ, wa kalimatullâhi hiyal-‘ulyâ, wallâhu ‘azîzun ḫakîm
Artinya:"Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
Hadiri yang dirahmati Allah.....
Kisah Nabi tersebut memiliki hikmah yang penting. Pertama, keteguhan iman dan keberanian Nabi dan para sahabatnya patut kita contoh di tengah beratnya cobaan memperjuangkan Islam. Hingga di titik ancaman pembunuhan, Nabi masih menunggu perintah Allah untuk berhijrah.
Kedua, semangat pengorbanan nabi dan para sahabatnya patut kita contoh. Di tengah kemapanan dan segala kenyamanan yang dimiliki, beliau rela meninggalkan itu semua untuk membangun kehidupan baru di Madinah demi menyiarkan agama Islam.
Ketiga, hijrahnya Nabi ke Madinah memiliki misi ukhuwah islamiyah dan persaudaraan. Nabi Muhammad mempersatukan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah dan kaum Anshar atau penduduk asli Madinah dalam semangat persaudaraan.
Keempat, pertolongan Allah akan dekat pada hamba-hamba yang mendekatkan diri kepada Allah. Ketika Rasulullah dan Abu Bakar merencanakan perjalanan ke Madinah, terdapat berbagai pertolongan Allah. Perencanaan matang yang disusun oleh Rasulullah dan Abu Bakar disertai dengan memasrahkan diri kepada Allah SWT.
Keyakinan dan kepercayaan kedua orang ini kepada Allah terbukti dengan dikirimkannya pertolongan. Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim mampu menempatkan usaha dan kepasrahan kepada Allah dalam menghadapi setiap peristiwa.
Semoga dengan memahami peristiwa hijrah dan hikmahnya ini, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan ketakwaan di dunia hingga akhirat kelak. Amin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ،
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































