tirto.id - Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah menyatakan tak setuju dengan usulan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla soal langkah pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) di tengah konflik global. Menurut dia, yang seharusnya diperhatikan adalah subsidi yang tepat sasaran.
“Kalau subsidi BBM dikurangi, kami tidak setuju,” ujar Said saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).
Said menilai kenaikan harga pada sektor energi memang berdampak pada beban keuangan negara. Namun, kata dia, hal itu tidak selalu menjadi alasan untuk mengurangi subsidi terhadap masyarakat yang seharusnya menerima subsidi.
“Mengapa kita selalu mengutak-atik subsidi? Kenapa kita tidak bicara terhadap harga BBM nonsubsidi yang sampai sekarang belum naik? Kenapa untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan dong,” kata Said.
“Kalau mau diotak-atik, yang sudah dijual di pasar yang gak harga keekonomian. Itu lebih make sense,” sambung Said.
Lebih jauh, Said pun meminta agar setiap kenaikan yang direcanakan dapat dihitung juga dengan benar terkait dampak inflasinya. Sebab, hal itu akan mempengaruhi banyak sektor.
“Jadi, kita lagi berhitung betul. Kasih kesempatan lah. Jangan kemudian BBM begitu harga minyak naik, kita kayak kebakaran jenggot seakan-akan besok langit akan runtuh. Enggak,” kata Said.
Sebelumnya, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan pengurangan subsidi BBM di tengah konflik global. Hal itu disampaikannya pada Minggu (5/4/2026).
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























