Pemilu Serentak 2024

Ketika Bakal Capres Berlomba-lomba Mencari Dukungan Pesantren

Reporter: Andrian Pratama Taher - 13 Jun 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Wasisto menilai ponpes sebagai lembaga pendidikan pasti akan netral. Namun secara personal, bagi ulama atau santri tentu lain cerita.
tirto.id - “Peran santri saat ini menjadi jauh lebih vital dalam proses pembangunan negara kita. Dengan kekuatan pikiran dan iman menjadikan santri sebagai sentral rujukan dalam banyak hal.”

Kalimat di atas adalah potongan ucapan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk acara musyawarah Ikatan Santri dan Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah (IKSASS) Sukorejo, Jawa Timur. Ganjar juga menilai acara tersebut akan membawa nilai positif bagi bangsa.

“Saya haqul yakin dari ruang ini bakal melahirkan sebuah gagasan yang futuristik yang bakal memberi manfaat di dunia hingga di akhirat,” kata Ganjar dalam video berdurasi 42 detik sebagaimana dilihat Tirto.

Aksi Ganjar melengkapi langkah sejumlah bakal capres maupun bakal cawapres yang akan bertarung pada Pemilu 2024. Bahkan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang berniat maju lagi pada pilpres mendatang juga sudah melakukan safari politik ke sejumlah pesantren.

Dalam catatan Tirto, Prabowo masif bersilaturahmi ke pondok pesantren usai lebaran 2022. Misal, Prabowo berkunjung ke Ponpes Al-Qodiri, Jember pada 3 Mei 2022. Lalu, mengunjungi Pesantren Tebuireng Jombang hingga ziarah ke makam Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid pada 4 Mei 2022.

Prabowo juga bersilaturahmi ke Ponpes Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah. Prabowo pun berkunjung ke Ponpes Butet, Cirebon, Jumat (6/5/2022). Apabila disimpulkan, langkah safari Prabowo tersebut semua adalah mengunjungi pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Hal yang sama dilakukan Menteri BUMN Erick Tohir. Erick yang juga Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) mendatangi beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Sebut saja Pondok Pesantren Annur 2 di Malang, Minggu (16/1/2022). Erick juga sempat mendatangi acara silaturahmi dengan para kiai dan alim ulama se-Pasuruan Raya pada Minggu (8/5/2022).

Selain itu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang juga bakal capres potensial tercatat pernah 'mampir' ke pesantren. Ia pernah berkunjung ke Pondok Pesantren Sabilurrosyad Karangbesuki, Sukun, Malang, Jumat (21/11/2021). Di Jakarta, Anies pun berkeliling berbagai pondok pesantren selama Ramadan lalu.



Fenomena bakal capres potensial mendatangi pondok pesantren bisa dianggap sebagai proses politik. Peneliti Pusat Riset Politik di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati menilai, aksi silaturahmi ke pesantren itu memiliki sejumlah aspek.

Pertama, bisa dimaknai upaya membangun sinergi dengan ulama dan umaro/ulil amri karena keduanya tidak bisa dipisahkan. Kedua, kata Wasisto, adalah upaya untuk mendapatkan wasiat dari para ulama sebagai modal tambahan karisma seseorang.

Ketiga adalah faktor politis. Ia tidak memungkiri bahwa kedatangan para bakal capres sebagai upaya menjemput pemilih muslim yang masih belum menentukan pilihan. Akan tetapi, Wasisto menilai pemilihan satu ponpes mendukung satu paslon tergantung pada afiliasi organisasi ponpes tersebut atau sikap dari ulama bila di luar ormas.

“Tergantung dari afiliasi ponpesnya. Kalau terafiliasi NU, untuk masa sekarang, peluangnya minim setelah ada titah Gus Yahya [Yahya Cholil Staquf] bahwa NU netral," kata Wasisto kepada reporter Tirto.

Wasisto mengatakan, para bakal paslon pun tidak bisa langsung mendapatkan suara pemilih dengan sekali datang. Mereka harus membangun silaturahmi intensif untuk menarik pemilih.

“Takar intensifnya bisa dilihat dari silaturahminya tidak hanya sekadar seremonial saja saat pencapresan, namun hendaknya dilakukan jauh hari sebelumnya," kata Wasisto.

Wasisto menekankan bahwa setiap pondok pesantren punya sikap yang berbeda-beda. Namun ponpes yang belum berafiliasi dengan kelompok mana pun dapat menjadi momentum untuk mengeruk suara.

Wasisto menambahkan, “Ponpes secara institusional berstatus lembaga pendidikan itu netral. Namun secara personal, bagi ulama atau santri tentu lain cerita.”



Sementara itu, Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai, pondok pesantren krusial dalam memenangkan pemilu. Ia menilai pesantren harus dikuasai calon demi mendapatkan suara besar dalam pemilu.

“Pondok pesantren ini, kan, lumbung suara ya, karena di situ santri dan keluarganya terafiliasi satu arah," kata Adi kepada reporter Tirto, Kamis (9/6/2022).

Adi menuturkan, pesantren adalah sebuah komunitas yang terdiri atas banyak orang. Hal itu menjadi seksi sebagai basis pemilih. Kemudian, politik Indonesia yang terpolarisasi akan memberi benefit bagi paslon. Sebab, keberadaan ponpes akan membuat kandidat akan mendapat stigma dekat dengan tokoh Islam. Kedekatan ini akan menjadi instrumen dan variable penting bagi paslon dalam mendulang suara terutama pemilih muslim tengah.

Menurut Adi, hampir semua bakal calon potensial sudah agresif dalam upaya mencari dukungan ulama. Nama-nama yang kerap masuk radar survei mulai Ganjar, Anies, Prabowo, hingga Sandiaga Uno maupun Puan Maharani melakukan hal yang sama.

Akan tetapi, Adi menegaskan bahwa upaya mengambil suara pemilih di pesantren tidak mudah. Sebab, kata dia, upaya mengambil suara di pesantren perlu intensitas, seperti sering mendatangi ponpes tersebut untuk bersilaturahmi. Kemudian ada upaya bertukar pandangan antara ponpes dengan kandidat dan kesediaan paslon untuk mendukung program ponpes.

Adi mengatakan, tindakan untuk mengambil suara di pondok pesantren tidak hanya harus intens, tetapi juga harus jelas. Ia mengingatkan bahwa pondok pesantren juga tidak ingin “membeli kucing dalam karung” ketika mendukung salah satu kandidat.

“Jadi pendekatan itu, nggak gampang. Bukan sekali dua kali datang ke pesantren langsung didukung. Belum tentu. Butuh penetrasi, pendekatan, suasana batin harus sama. Syukur kalau saat bersamaan juga memberikan bantuan logistik, pasti semakin suka pesantren-pesantren itu," kata Adi.


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz

DarkLight