Kendaraan Listrik: Dibutuhkan tapi Masih Diragukan

Oleh: Dio Dananjaya - 5 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kendaraan berbasis elektrifikasi diklaim bisa menjadi solusi atas permasalahan seperti polusi udara atau mahalnya biaya BBM.
tirto.id - Kualitas udara di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir masuk dalam kategori buruk. Air Visual, situs penyedia data polusi kota-kota besar dunia yang diperbarui setiap saat, sering kali menaruh Jakarta pada urutan pertama dalam peringkat kota paling tercemar udaranya.

Dengan banyaknya populasi yang seliweran setiap hari, serta bertambahnya penjualan dari tahun ke tahun, kendaraan bermotor dengan mudah jadi kambing hitam dalam masalah pencemaran udara. Hal ini turut didukung sejumlah data dari pihak terkait.

Misalnya Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) telah menyebut pencemar 2,5 mikron (PM 2,5) paling besar berasal dari kendaraan bermotor yakni sekitar 57 persen. Kemudian industri 25 persen, debu jalanan delapan persen, domestik tiga persen, pembakaran sampah dua persen, dan proses konstruksi lima persen.

Kendaraan bermotor juga menyumbang angka paling besar untuk pencemar 10 mikron (PM 10), yakni 47 persen; pencemar sulfat (SOx) sebesar 72 persen; pencemar nitrogen (NOx) sebesar 85 persen; dan pencemar karbonat (CO) sebesar 84 persen.


"Fakta di atas menunjukkan sumber utama berbagai parameter pencemaran udara di DKI Jakarta, (PM 2.5, PM 10, SOx, NOx, dan CO) adalah kendaraan bermotor,” kata Ahmad Safrudin, Direktur KPBB dalam laporan Tirto belum lama ini.

Menguatnya tren pencemaran udara karena kendaraan bermotor, menghasilkan sebuah kesimpulan sementara: migrasi kendaraan konvensional berbahan bakar fosil ke energi listrik yang ramah lingkungan bisa mengurangi polusi. Regulasi Peraturan Presiden mengenai mobil listrik pun tengah dipersiapkan, demi memuluskan rencana ini.

Tapi apakah konsumennya sudah benar-benar siap?

Keraguan Terhadap Mobil Masa Depan


Meski sejumlah produsen otomotif tengah berlomba-lomba mengembangkan teknologi kendaraan yang makin canggih, nyatanya tidak semua konsumen menginginkan hal tersebut. Khususnya dengan dua teknologi yang tengah ramai diperbincangkan: mobil otonom dan mobil listrik.

Studi Mobility Confidence Index Study (2019) dari JD Power menghimpun pendapat lebih dari 5.000 konsumen tentang kendaraan otonom dan listrik. Hasilnya: masih banyak orang yang perlu diyakinkan tentang perkembangan terbaru dalam industri otomotif. Dari skala 100 poin, rata-rata hanya 36 yang yakin pada kendaraan autonomous driving dan 55 untuk kendaraan yang menggunakan baterai-listrik.

“Tak disangka-sangka, angka ini jelas tidak menggembirakan,” ujar Executive Director Driver Interaction & Human Machine Interface Research JD Power, Kristin Kolodge.

Di luar kemampuan daya beli, sejatinya mobil-mobil elektrifikasi bisa menjadi salah satu solusi terhadap polusi. Namun ternyata, penerimaan dari konsumen tidak semulus yang dibayangkan. Menurut Kolodge, banyak orang yang belum dapat memahami dan menerima kendaraan dengan teknologi baru.

Dalam studi rilisan JD Power itu, tingkat keyakinan konsumen terhadap mobil otonom dan listrik itu dibagi ke dalam tiga kategori: rendah (0-40), netral (41-60), dan positif (61-100). Mobil otonom ternyata mendapat keyakinan yang begitu rendah dari konsumen

Alasannya beragam: mulai dari takut akan gangguan teknis, hingga tak yakin dengan dasar hukum jika terjadi kecelakaan.

Sementara mobil listrik mendapat angka 55 alias masuk dalam kategori netral. Artinya masih ada harapan bahwa masyarakat akan cepat menerima mobil listrik. Beberapa konsumen terbukti menyukai manfaat positif kendaraan listrik bagi lingkungan.

Namun, sebagian responden tetap tidak mau memilih kendaraan listrik lantaran khawatir dengan keandalannya dibanding mobil bermesin konvensional. Konsumen juga khawatir soal biaya, kurangnya infrastruktur, dan berbagai masalah lainnya.

Infografik Konsumen Mobil Listrik
Infografik Konsumen Mobil Listrik. tirto.id/Fuad


Tawaran Berbeda dari Tesla


Jika keyakinan konsumen soal mobil listrik masih setengah-setengah, lain halnya dengan produk Tesla. Pabrikan asal Amerika Serikat ini sudah lebih dulu diterima dalam jumlah yang besar, dan konsumen pun menikmati produk ini.

Laman Car Sales Base mencatat, permintaan Tesla di AS melonjak drastis dalam tiga tahun terakhir. Dari 47.644 unit pada 2016, meningkat jadi 50.145 unit tahun 2017, dan menjadi 191.627 unit sampai akhir 2018. Pada semester I/2019, tiga produk Tesla yang diwakili Model S, Model 3, dan Model X bahkan telah terjual sebanyak 84.575 unit.


Salah satu faktor yang membuat Tesla laris adalah biaya BBM di AS yang begitu tinggi. Besarnya harga BBM memacu permintaan mobil hemat energi, seperti electric vehicle (EV). Selain itu, ada juga keinginan untuk berkontribusi mengurangi emisi gas buang guna mendapat kualitas udara yang lebih baik.

Merek Tesla juga dianggap sebagai kendaraan yang membawa prestise tinggi. Analis otomotif ternama, Edmunds, menilai target konsumen Tesla merupakan para pebisnis dan eksekutif yang merupakan wakil dari kelas menengah atas di AS. Orang-orang ini sebelumnya telah memiliki merek mobil mewah lainnya, seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Audi.

Karenanya, mayoritas, atau sekitar 77,3 persen, pemilik Tesla adalah mereka yang berpenghasilan lebih dari 100.000 dolar AS per tahun. Konsumen yang mengendarai Tesla umumnya juga didominasi usia mapan, sekitar 45–65 tahun (50,6 persen). Sedangkan usia 18 – 44 tahun sekitar 33,2 persen, dan lebih dari 65 tahun hanya sebanyak 16,2 persen.

Di Indonesia, popularitas mobil listrik juga masih terkendala banyak hal, termasuk infrastruktur pengisian daya. Bagaimana bisa mobil listrik populer di Indonesia, kalau masih sering terjadi pemadaman listrik yang bisa mencapai belasan jam.

Baca juga artikel terkait MOBIL LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight