tirto.id - Indonesia sedang mempersiapkan pengiriman sekitar 8.000 pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza. Apakah ada kaitannya dengan agenda Board of Peace?
Meski masih belum ada keputusan final mengenai jumlah pasukan, jadwal penempatan, dan detail kegiatan operasionalnya, namun diperkirakan sebanyak 5.000-8.000 personel TNI akan siap dikirim ke Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi.
"Kalau untuk proses persiapan, memang Indonesia melakukan persiapan tersebut. Mengenai timeline, belum ada yang definitif. Jumlah juga belum definitif, tapi prosesnya sedang dilakukan," ujar Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela dikutip Antara (10/2).
Indonesia Kirim TNI ke Gaza Apakah Agenda Board of Peace?
Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengumumkan jika saat ini sedang mempersiapkan pengiriman pasukan keamanan ke Gaza, Palestina.
Posisi Indonesia adalah sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF) yang dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2803 pada 17 November 2025.
ISF bertugas membantu menstabilkan keamanan di Gaza, mengamankan wilayah perbatasan, melindungi warga sipil, mendukung proses demiliterisasi, dan memastikan akses bantuan kemanusiaan.
Pasukan ini beroperasi di bawah komando terpadu yang diarahkan oleh Board of Peace (BoP), yang memberikan panduan strategis, dan didanai melalui kontribusi sukarela dari negara anggota dan donor internasional.
Indonesia bergabung dalam ISF dan BoP sebagai bagian dari komitmennya untuk mendukung perdamaian di Palestina, terutama sesuai dengan prinsip Solusi Dua Negara, yang menekankan keberadaan negara Palestina merdeka sejajar dengan Israel.
“Setiap kontribusi Indonesia akan dilandaskan pada komitmen untuk mendukung perdamaian yang adil dan berkelanjutan bagi Palestina, sesuai dengan Solusi Dua Negara,” jelas Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang.
Keputusan Indonesia ini menekankan peran non-ofensif dan kemanusiaan pasukannya. Artinya, TNI tidak akan terlibat dalam pelucutan senjata atau operasi militer ofensif, melainkan fokus pada perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi infrastruktur Gaza.
Partisipasi Indonesia di BoP juga menjadi bentuk dukungan politik dan moral terhadap perjuangan Palestina, termasuk pengakuan kemerdekaan negara tersebut.
Bergabungnya Indonesia bersama tujuh negara muslim lain diharapkan dapat meredam eskalasi konflik, memfasilitasi pengiriman bantuan, dan meringankan penderitaan warga Gaza akibat konflik yang berkepanjangan.
"Setidaknya kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza, sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Dengan sekarang proses tersebut, bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza. Yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita," urai Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Dikutip dari laman CNA, persiapan pengiriman TNI ini dilakukan menyusul undangan resmi kepada Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri pertemuan perdana BoP pada 19 Februari 2026.
Pemerintah Indonesia juga mempertimbangkan peluang untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan AS selama kunjungan tersebut.
Selain Indonesia, beberapa negara lain juga mempertimbangkan pengiriman pasukan ke ISF, termasuk Uni Emirat Arab, Mesir, Qatar, dan Azerbaijan, sedangkan Arab Saudi dan Yordania menolak berpartisipasi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































