12 Juni 1898

Kemerdekaan Filipina: Peran Gereja, Perniagaan, dan Amerika Serikat

Oleh: Christopher Reinhart - 12 Juni 2021
Dibaca Normal 3 menit
Gerakan nasional di Filipina muncul jauh lebih awal dibandingkan negeri-negeri sekawasannya di Asia Tenggara.
tirto.id - Gerakan kebangsaan atau tumbuhnya nasionalisme di Filipina pada paruh kedua abad ke-19 disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berhubungan. Embrio nasionalisme tak tumbuh secara instan. Sejak akhir abad ke-16 hingga permulaan abad ke-19, praktik perdagangan galleon (galiung) atau kapal layar besar antara Spanyol yang berpos di Meksiko dan Tiongkok via Filipina, menghasilkan keuntungan dagang yang besar bagi kalangan tengkulak Tionghoa Filipina.

Kemakmuran akibat praktik perdagangan ini menyebabkan anak-anak golongan menengah baru mampu merasakan pendidikan di Eropa, dan menyerap pemikiran-pemikiran modern sejak sebelum abad ke-19. David Joel Steinberg dalam In Search of Southeast Asia: A Modern History (1971), menyebut golongan terpelajar baru ini sebagai ilustrados atau erudite yang berarti “mereka yang tercerahkan”—agen perubahan Filipina.

Melalui kalangan ilustrados inilah nasionalisme Filipina pada mulanya tumbuh—sekalipun nantinya terdapat pula kelompok lain seperti organisasi akar rumput Katipunan (Anak Bangsa yang Tinggi dan Terhormat) serta “petani-petani yang tercerahkan”.


Tumbuhnya golongan elite ilustrados sesungguhnya tidak serta-merta menimbulkan kondisi yang mempercepat munculnya gerakan nasional. Dukungan yang tak terduga justru datang dari betapa problematisnya struktur pemerintahan Spanyol di Filipina. Steinberg menyebut lembaga gubernur jenderal di Filipina adalah pegawai dari dua tuan, “raja (negara) dan salib (gereja)”.

Negara Spanyol dan Kepausan terkadang memberi arahan yang bertentangan sehingga membebani gubernur jenderal dengan pedoman yang mendua. Tanpa kekuatan yang memadai karena amat berkuasanya gubernur-gubernur daerah, Gubernur Jenderal Filipina kadang terpaksa mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan kolonial.

Salah satu kasus yang tersohor adalah kebijakan Gubernur Jenderal Don Pedro Manuel de Arandia (1754–1759). Dia menyingkirkan golongan Tionghoa non-Katolik karena dianggap berbahaya bagi keberlangsungan perdagangan Spanyol di Filipina. Kebijakan ini strategis secara ekonomi, namun terhambat karena Arandia tidak dapat menyingkirkan orang-orang Tionghoa Katolik—padahal bahaya persaingan yang ditimbulkan golongan ini juga tidak berbeda. Golongan lain yang tak dapat disingkirkan adalah kelompok mestizo Tionghoa yang kelak menjadi bagian penting dari ilustrados.

Amalgamasi kepentingan agama dan negara juga menjadi bumerang bagi pemerintah kolonial. Gubernur jenderal yang mengemban tugas kristenisasi harus mendukung pendirian sekolah-sekolah Katolik. Akibatnya, pendidikan modern muncul di Filipina mendahului wilayah koloni Eropa lain di Asia Tenggara.

Norman G. Owen dalam The Emergence of Modern Southeast Asia: A New History (2005:154) memberikan gambaran mengenai betapa tuanya sistem pendidikan Katolik yang didirikan imam-imam Jesuit di Filipina. Universitas Ateneo, misalnya, didirikan pada 1611 dan masih berdiri hingga kiwari. Sekalipun pada masa kolonial kurikulumnya dikenai berbagai macam sensor untuk menjamin ketertiban koloni, namun tingkat pendidikan penduduk Filipina pada abad ke-19 tetap selangkah lebih maju daripada Hindia Belanda, Birma, atau Vietnam.

Kawin silang kepentingan seperti ini sama sekali tidak dapat ditemukan di Hindia Belanda yang pemerintah kolonialnya mengamalkan pemikiran model Max Weber. Hal ini seperti diutarakan dalam Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus atau Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (1905), yang membedakan dengan jelas antara agama dan ekonomi.

Usaha kristenisasi yang dilakukan Spanyol di Filipina sukses besar. Seperti diungkapkan Leonard Andaya dan Barbara Watson Andaya dalam A History of Early Modern Southeast Asia, 1400–1830 (2015:1–3), masyarakat awal Filipina di utara sama sekali tidak tersentuh proses indianisasi maupun islamisasi.

Religi awal Filipina langsung digerus oleh kristenisasi ketika Spanyol mulai berkuasa sehingga Katolik dengan cepat menyebar ke sebagian besar penduduk. Akhirnya, seperti ditulis Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Early Modern Era: Trade, Power, and Belief (1993:151), pemerintah kolonial Spanyol kesulitan untuk mengatur saingan-saingan seperti bumiputra dan Tionghoa yang telah memeluk agama Katolik. Hal ini karena ada tekanan dari Vatikan untuk memperlakukan mereka secara manusiawi.


Infografik Mozaik Deklarasi kemerdekaan Filipina
Infografik Mozaik Deklarasi kemerdekaan Filipina. tirto.id/Sabit


Perdagangan Galleon mencapai puncak kegemilangannya pada akhir abad ke-18 akibat ledakan gula dan tembakau. Saat itulah anak dari para tengkulak mestizo Tionghoa dan bumiputra yang mendapat keuntungan diperbolehkan mengenyam pendidikan di Spanyol atau negeri-negeri lain di Eropa.

Sepanjang abad ke-19, pemikiran liberal sedang melanda seluruh Eropa akibat Revolusi Prancis (1789–1799). Pada akhir abad ke-19, semua faktor tadi mengkristal dan gerakan nasionalis Filipina pertama akhirnya terbentuk sekitar tahun 1880 di Spanyol atas dukungan kaum liberal Spanyol. Gerakan awal ini bernama Gerakan Propaganda atau Propagandistas. Salah satu anggotanya yang terkemuka adalah penulis dan aktivis mestizo Tionghoa, Jose Rizal (1861–1896).


Manifestasi gerakan nasionalisme Propagandistas juga hadir dalam surat kabar lintas bangsa La Solidaridad yang diasuh oleh Marcelo Hilario del Pilar (1850–1896) dan kawan-kawan. Ketika gerakan ini menjadi masif setelah mencapai Filipina, muncul pula gerakan semi-militer dari kalangan bawah dalam naungan Katipunan yang dipimpin oleh Andrés Bonifacio. Kedua gerakan ini kemudian saling melengkapi sekalipun terdapat konflik-konflik internal yang sempat menggoncangkan kursi kepemimpinan gerakan nasional Filipina.

Faktor paling akhir yang tidak dapat dipandang sebelah mata adalah kehadiran Amerika Serikat pada panggung kontestasi politik di Filipina. Hal ini mempercepat kristalisasi ide pembentukan negara.

AS yang terlibat Perang Amerika-Spanyol di Kuba dan Puerto Rico pada 1898 rupanya "mengejar" Spanyol hingga ke Filipina. Ketika mendapat informasi tentang gerakan nasionalis di sana, AS mempergunakannya dengan baik. Dukungan mereka pada pembentukan “negara Filipina” pada mulanya untuk memenangkan hati kaum nasionalis agar dapat membantu pelucutan Spanyol.

Setelah berbagai konflik fisik pada ujung paling akhir abad ke-19, Emilio Aguinaldo (1869–1964) akhirnya berhasil memproklamasikan kemerdekaan Filipina pada 12 Juni 1898, tepat hari ini 123 tahun lalu. Teks proklamasinya ditandatangani juga oleh seorang purnawirawan militer AS, Kolonel L. M. Johnson.

Baca juga artikel terkait KEMERDEKAAN FILIPINA atau tulisan menarik lainnya Christopher Reinhart
(tirto.id - Politik)

Penulis: Christopher Reinhart
Editor: Irfan Teguh
DarkLight