07 Juli 1892

Lahirnya Katipunan, Gerakan Rakyat Filipina Melawan Spanyol

Oleh: Tony Firman - 7 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Katipunan menjadi gerakan rahasia yang memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Filipina atas Spanyol dan reformasi di bidang sosial.
tirto.id - Dikuasai oleh Kerajaan Spanyol sejak 1521, penduduk Filipina mulai gerah pada 1890-an. Mereka ingin mendirikan pemerintah mandiri dan merdeka. Pembicaraan seputar reformasi dan mengkiritis kebijakan Spanyol mulai jadi topik seksi di kalangan intelektual muda Filipina.

Di antara para intelektual pemikir reformasi Filipina, Jose Rizal adalah yang paling menonjol. Ia adalah seorang dokter, sastrawan, dan telah menjadi salah satu perintis gerakan nasionalisme Filipina. Meski diyakini tak pernah secara langsung menganjurkan kemerdekaan Filipina, tetapi karya tulisan Rizal di surat kabar dan novel banyak bicara soal kritik terhadap Spanyol dan bicara soal reformasi sosial dan politik.

Sebagian besar karya pemikiran Rizal dibikin saat ia menempuh pendidikan di Madrid, Spanyol. Sepulangnya dari Madrid pada 1892, Rizal mendirikan gerakan reformis bernama Liga Filipina di Kota Manila. Rupanya, tindakan Rizal itu tak disukai oleh penguasa Spanyol. Rizal lantas ditangkap dan diasingkan ke Dapitan, di barat laut Mindanao.

Penangkapan dan pengasingan Rizal itu mengejutkan sekaligus memantik amarah sejumlah rakyat Filipina yang selaras dengan jalan pikiran reformasi Rizal. Mereka melihat, simbol kebebasan berserikat, berkumpul dan berpendapat telah mati.

Pada malam hari 7 Juli 1892, atau tepat 127 tahun yang lalu, sekelompok intelektual lainnya yang digalang oleh Andres Bonifacio bersama Valentin Diaz, Teodoro Plata, Ladislao Diwa, Deodato Arellano dan beberapa lainnya mendirikan sebuah gerakan rahasia bernama Katipunan di Tondo, Manila. Katipunan berarti asosiasi yang dalam bahasa Tagalognya adalah Kataastaasang Kagalang-galang na Katipunan ng mga Anak ng Bayan (Asosiasi Tertinggi dan Terhormat dari Putra Putri Negeri).

Sejak awal, Katipunan erat dengan solidaritas dan loyalitas tinggi. Ini ditandai dengan pemakaian cap jempol darah saat melakukan pendaftaran keanggotaan. Tugas mereka pertama-tama adalah merekrut orang baru menggunakan metode segitiga: anggota asli akan menerima dua anggota baru yang tidak saling kenal. Contohnya, A adalah anggota awal Katipunan dan menerima anggota baru B dan C. Baik B dan C tahu siapa A, tetapi B dan C tidak saling kenal.

Di bawah kepemimpinan Bonifacio, Katipunan menetapkan tiga tujuan dasar; politik, moral, dan sipil. Dasar politik mencakup pemisahan Filipina dari Spanyol. Tujuan moral berkisar tentang pengajaran perilaku yang baik, kebersihan, moral yang baik, dan melawan pembatasan ilmu pengetahuan, fanatisme agama, dan kelemahan karakter. Dan terakhir tujuan sipil yang berkutat di seputar prinsip gotong royong dan membela kaum miskin yang tertindas.

Keanggotaan Katipunan dalam dua tahun tumbuh dari yang semula hanya lusinan orang menjadi ratusan dan terkonsentrasi di Kota Manila. Keat Gin Ooi dalam Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor (2004) menyebut, para anggota Katipunan berlatar belakang masyarakat kelas menengah ke bawah seperti buruh, pegawai toko, pedagang kecil dan petani.


Pada awal 1896, Katipunan meluncurkan surat kabar propaganda bernama Kalayaan (kebebasan) yang dicetak dan didistribusikan ke seantero Manila. Cara itu cukup efektif membikin banyak orang tertarik bergabung. Meski begitu, organisasi ini tak menarik minat para pedagang kaya.

Katipunan mulai muncul sempalannya saat salah seorang anggotanya Emilio Aguinaldo beserta saudaranya mulai memimpin organisasi Katipunan cabang Cavite pada Maret 1896 dan merekrut lebih banyak orang karena melonggarkan beberapa syarat perekrutan.

Dari Gerakan Rahasia ke Gerakan Bersenjata


Menjadi sebuah perkumpulan rahasia selama empat tahun, Katipunan pada akhirnya tak bisa menyembunyikan diri lebih lama lagi. Terlebih keanggotaan mereka makin membesar dan sudah berani membikin media cetak dan menyebarkannya ke publik di Manila. Keberadaan Katipunan terendus oleh pemerintah kolonial Spanyol pada Agustus 1896. Encylopaedia Britannica menyebut, ketika organisasi ini diketahui, anggota Katipunan sudah mencapai 100.000 orang.

Bonifacio selaku pemimpin tertinggi Katipunan saat itu segera mengeluarkan seruan pemberontakan bersenjata melawan Spanyol. Itu sekaligus menandai dimulainya Revolusi Filipina (1896 - 1898) atau kerap juga disebut Perang Tagalog.

Amado Guerrero dalam Philippine Society And Revolution (1970) menyebut, Bonifacio terinspirasi oleh Revolusi Prancis yang melihat bahwa sudah saatnya rakyat Filipina bergerak menumbangkan kekuasaan monarki Spanyol. Para anggota Katipunan turut merobek kartu identitas penduduk sebagai simbol pembangkangan melawan otoritas Spanyol.


Bulan-bulan berikutnya, pasukan Bonifacio berusaha menaklukan Manila dari tangan Spanyol namun masih kesulitan dan mampu dikalahkan oleh kekuatan pasukan Spanyol. Di waktu yang sama faksi Katipunan pimpinan Aguinaldo berhasil memukul mundur pasukan Spanyol dari Cavite.

Di bawah kepemimpinan Jenderal Camilo de Polavieja yang menjadi gubernur militer Filipina, Jose Rizal ditangkap guna melemahkan perlawanan rakyat Filipina. Rizal dianggap sebagai biang kerok penyemai bibit-bibit perlawanan.

Tak sekedar menangkap, Rizal dijatuhi hukuman mati di depan publik pada 30 Desember 1896. Namun perhitungan Polavieja salah kaprah. Kematian Rizal tidak membuat Katipunan melemah, tetapi memantik kemarahan makin besar. Spanyol harus membayar kelakuannya itu dengan menerima bara perlawanan rakyat yang tak bisa lagi mereka padamkan.

Infografik Mozaik Gerakan Katipunan
Infografik Mozaik Gerakan Katipunan. tirto.id/Nauval


Di tengah situasi peperangan, kepemimpinan Katipunan pecah antara Bonifacio dan Aguinaldo. Kedua tokoh ini terlibat perselisihan sengit. Sebuah pemilihan umum pertama sejak Filipina dijajah Spanyol terselenggara melalui Konvensi Tejeros pada 22 Maret 1897. Pemilihan pemimpin itu diikuti oleh tiga faksi Katipunan termasuk kandidat Aguinaldo dan Bonifacio. Aguinaldo akhirnya keluar menjadi pemenang setelah mendapat suara terbanyak dari para anggota Katipunan.

Pada bulan-bulan berikutnya, gerilyawan Aguinaldo berhasil didorong hingga ke pegunungan tenggara Manila oleh militer Spanyol yang mendapat kekuatan tambahan dari para tentara bayaran. Posisinya terdesak, Aguinaldo menerima perundingan dengan Spanyol yang menyepakati penghentian perang lewat pakta Biak-na-Bato

Aguinaldo dan para pemimpin revolusi lainnya diasingkan ke Hong Kong dan mendapat duit 400.000 peso. Ditambah Spanyol janji akan melakukan reformasi besar-besaran atas kepemimpinannya di Filipina. Aguinaldo tentu tak begitu saja menerima kekalahan sepenuhnya. Ia sudah merencakanan memakai uang kompensasi dari Spanyol itu untuk membeli senjata dan bisa kembali ke Filipina untuk melakukan perlawanan bersenjata lagi.

Di saat kemelut revolusi Spanyol yang belum sepenuhnya padam, pada tanggal 1 Mei 1898 komodor Angkatan Laut AS George Dewey memusnahkan armada Spanyol di Manila Bay. Aguinaldo kembali ke Filipina dan memulai revolusi baru melawan Amerika Serikat yang ingin menguasai Las Islas Filipinas setelah sukses menendang Spanyol.


Sebuah negara Republik Filipina pertama pernah didirikan pada 1899 di mana Aguinaldo menjadi presiden. Itu juga menandai dimulainya Perang Filipina - Amerika (1899 -1902). Republik pertama itu hanya berumur cekak dan segera dilumat Amerika. Paman Sam menjadikan Filipina sebagai negara persemakmuran.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono