Menuju konten utama
Bencana Alam Sumatra

Kementerian PU Mulai Bangun Jembatan Permanen Gantikan Darurat

Langkah ini diambil karena kekhawatiran jembatan sementara atau fungsional ambruk akibat sering dilintasi kendaraan bermuatan berlebih.

Kementerian PU Mulai Bangun Jembatan Permanen Gantikan Darurat
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (2/12/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mulai mengarahkan pembangunan jembatan permanen di wilayah terdampak bencana Sumatra. Langkah ini diambil karena kekhawatiran jembatan sementara atau fungsional ambruk akibat sering dilintasi kendaraan bermuatan berlebih.

Dody menyampaikan, jembatan sementara dibangun untuk kepentingan tanggap darurat dan pengiriman logistik, dengan kemampuan menopang beban maksimal 10–20 ton. Namun, di lapangan, jembatan tersebut kerap dilalui truk dengan muatan hingga 40 ton.

“Dengan jembatan-jembatan fungsional yang maksimum hanya bisa dilalui 10 sampai 20 ton, kami sering dikomplain. Pak, tim Bapak juga sering komplain ke kami, kapan ini dibuat permanennya. Makanya kemudian agak-agak susah di Kementerian PU itu membedakan mana tanggap darurat, mana rehab-rekon,” kata Dody dalam rapat Satgas di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).

Ia mengaku telah berulang kali mengimbau agar kendaraan yang melintas tidak melebihi batas muatan.

Namun, pengawasan pada malam hari sulit dilakukan, sementara kebutuhan distribusi logistik seperti BBM, LPG, dan beras tetap berjalan.

“Ada beberapa jembatan fungsional yang hari ini sudah mulai progres mengarah ke tahapan permanen, Pak. Karena mengejar itu tadi, takut kalau saya diamkan kemudian itu ambruk gitu, nanti yang dihujat saya juga ujung-ujungnya,” ujarnya.

Dody menjelaskan, pembangunan jembatan permanen membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan bulan.

Selama masa tersebut, jembatan fungsional akan terus dipantau dan diperkuat secara berkala.

“Jadi, nah, sementara waktu kami mengerjakan secara permanen, karena butuh waktu sekitar 7 sampai 8 bulan, Pak, jembatan-jembatan fungsional ini secara berkala, secara dua mingguan kita cek, Pak, strukturnya. Dan biasanya tiap dua minggu itu pasti kita harus lakukan perkuatan,” imbuhnya.

Sementara itu, Dody menyatakan seluruh jalan nasional di wilayah terdampak bencana telah berfungsi 100 persen. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kelancaran distribusi logistik.

“Dan alhamdulillah, terakhir itu di 30 Desember, Pak, 30 Desember 2025, semua jalan nasional itu bisa fungsional, Pak. Memang, memang yang kita kejar hari ini, kemarin itu adalah fungsionalnya dulu, Pak. Agar logistik itu bisa lancar,” kata Dody.

Namun, satu ruas jalan nasional di Sumatera Utara, yakni Tarutung–Sibolga, masih dalam tahap penanganan agar dapat digunakan secara sementara.

“Itu memang sekarang sudah sebetulnya masih tanggap darurat, tapi khusus PU agak susah, Pak, membedakan antara apa, timing tanggap darurat dengan rehab-rekon,” jelasnya.

Dody menambahkan, jalan daerah saat ini baru mencapai sekitar 90 persen fungsional. Sejumlah akses ke wilayah pedalaman masih dalam pendataan, termasuk kemungkinan pembangunan trase baru jika jalan lama ambles.

“Jalan daerah itu sudah boleh dibilang sudah 90 persen. Memang jalan-jalan yang masuk-masuk ke dalam memang masih banyak yang kurang. Nah itu sedang kita kejar,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada jembatan daerah. Meski jembatan nasional telah 100 persen fungsional, jembatan penghubung antardaerah baru tersambung sekitar 43 persen.

“Kita sedang, sedang percepatan membuat jembatan-jembatan perintis agar mobilitas,” terang Dody.

Baca juga artikel terkait BENCANA ALAM atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher