Menuju konten utama

Aceh Perlu Atensi Khusus, Baru Satu Wilayah Normal Pascabencana

Berdasar informasi Kemendagri, 5 dari 16 daerah di Sumatra Barat dan di Sumatra Utara 5 dari 18 daerah di Sumatra Utara sudah kembali normal.

Aceh Perlu Atensi Khusus, Baru Satu Wilayah Normal Pascabencana
Foto udara kondisi Desa Kota Lintang pascabanjir bandang di Desa Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengatakan Provinsi Aceh masih membutuhkan perhatian khusus setelah banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada penghujung November 2025. Hingga kini, delapan kabupaten/kota di Aceh masih menjadi fokus penanganan pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan Tito dalam rapat koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatra di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, dari total 18 kabupaten/kota terdampak di Aceh, baru satu daerah yang dinyatakan pulih sepenuhnya. Sementara itu, sembilan kabupaten/kota lainnya tercatat sudah mendekati kondisi normal.

“Aceh ini kami memang perlu bekerja lebih keras lagi karena di Aceh ini yang normal baru satu, yaitu Kabupaten Aceh Besar,” ujar Tito.

Tito menyebut wilayah dataran tinggi Aceh masih menjadi perhatian utama, khususnya Kabupaten Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah. Di daerah-daerah tersebut, masih terdapat ruas jalan dan jembatan yang terputus akibat longsor.

“Jalan nasional sudah masuk. Kalau tidak memakai jembatan sementara, dia memakai jalan alternatif,” kata Tito.

Kondisi tersebut berdampak pada distribusi logistik masyarakat, terutama di wilayah dataran tinggi. Menurut Tito, warga tetap harus menyalurkan hasil produksi pertanian meski berada dalam situasi pascabencana.

“Di daerah highland, mereka harus mengeluarkan produk mereka karena mereka ada produk kopi, produk cabai. Itu terus (diproduksi), meskipun sudah bencana kan tetap panen,” ujarnya.

Sementara itu, wilayah dataran rendah Aceh juga masih menghadapi persoalan, terutama endapan lumpur. Daerah yang disebut masih terdampak antara lain Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.

“Ini endapan lumpur yang jadi problem utama. Endapan lumpur yang masuk ke mana-mana,” tutur Tito.

Khusus Aceh Tamiang, Tito menyebut kondisi wilayah tersebut yang sebelumnya lumpuh total kini sudah mulai berangsur aktif dan bersih kembali.

Kondisi Sumatra Barat: 5 dari 16 Daerah Terdampak Banjir Sudah Kembali Normal

Dalam rapat yang sama, Tito juga memaparkan perkembangan penanganan bencana di Sumatera Barat. Dari 19 kabupaten/kota di provinsi tersebut, sebanyak 16 wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor.

“Itu lima sudah kembali normal,” kata Tito.

Lima daerah yang telah kembali pulih yakni Kabupaten Solok Selatan, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Selain itu, enam kabupaten/kota di Sumatera Barat tercatat sudah mendekati normal, yaitu Kota Solok, Kepulauan Mentawai, Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Lima Puluh Kota, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Perpanjangan masa tanggap darurat di Agam

Warga menjemur gabah padi di antara material lumpur di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat, Jumat (26/12/2025). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/wpa.

Kondisi Sumatra Utara: Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara Perlu Perhatian Khusus

Tito juga menyampaikan kondisi di Sumatera Utara. Dari 18 kabupaten/kota terdampak, lima daerah telah kembali normal, yakni Kota Medan, Kabupaten Nias, Kabupaten Langkat, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Batu Bara.

Namun, sebanyak 11 kabupaten/kota lainnya masih berada dalam tahap pemulihan. Dua daerah yang memerlukan perhatian khusus adalah Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

“Ada yang memerlukan atensi khusus meskipun tidak menafikan tentunya yang lain, yaitu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara,” ujarnya.

TNI bersihkan sisa longsor di Tapanuli Utara

Prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 906/Sanalenggam membersihkan material longsor pada jalan akses menuju Gereja HKBP Parsingkaman di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Sabtu (24/1/2026). Pembersihan sisa material longsor di sekitar area gereja dan makam yang dilakukan puluhan prajurit TNI tersebut untuk membantu memudahkan masyarakat dalam beribadah maupun berziarah pascabencana tanah longsor pada akhir November 2025. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Tito menambahkan, hambatan pemulihan masih terjadi pada sejumlah ruas jalan provinsi di Tapanuli Selatan. Selain itu, sedimentasi di Sungai Batang Tor dan Sungai Garoga juga menjadi perhatian utama pemerintah.

“Itu tumpukan sedimentasi masih sangat-sangat banyak di sana. Kalau kita lihat yang perlu atensi sungai itu adalah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, itu yang paling utama,” kata Tito.

Baca juga artikel terkait ACEH atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto