tirto.id - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara telah kembali berjalan pascabencana hidrometeorologi yang melanda ketiga wilayah tersebut pada akhir 2025, meski sebagian sekolah masih melaksanakan pembelajaran dari tenda darurat.
Pemulihan KBM tersebut mencakup ribuan sekolah terdampak dengan kondisi kerusakan yang beragam, mulai dari kerusakan ringan hingga sekolah yang harus direlokasi karena tidak memungkinkan dibangun kembali di lokasi asal.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyatakan, seluruh proses pembelajaran di tiga provinsi tersebut telah kembali berjalan.
“Sampai saat ini proses pembelajaran di tiga provinsi sudah 100 persen. Yang masih harus diperbaiki adalah sarana fisiknya,” ujar Atip dalam rapat koordinasi Satgas Pascabencana Sumatra di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (26/1/2026).
Atip memaparkan terdapat 4.359 sekolah terdampak bencana, dengan sebaran terbesar di Aceh sebanyak 3.703 sekolah, Sumatera Barat 207 sekolah, dan Sumatera Utara 1.259 sekolah.
Di Aceh, sebanyak 2.966 sekolah telah kembali melaksanakan pembelajaran di lokasi asal setelah melalui pembersihan akibat kerusakan ringan.
Namun, 82 sekolah masih beroperasi di tenda darurat dan 25 sekolah menumpang di sekolah lain.
“Status yang menumpang ini perlu relokasi yang benar-benar jauh dari daerah bencana karena tidak mungkin dibangun di lokasi asal. Kami perlu bantuan BNPB [Badan Nasional Penanggulangan Bencana] untuk itu,” tegasnya.
Pembangunan kembali sekolah-sekolah terdampak akan diprioritaskan melalui dana revitalisasi pada tahun ini.
Sementara itu, di Sumatra Barat, masih terdapat 41 sekolah yang melaksanakan pembelajaran di tenda darurat dan dua sekolah menumpang. Adapun di Sumatra Utara, saat ini tidak terdapat sekolah dengan status menumpang.
Sejak awal masa tanggap darurat, Kemdikdasmen telah menyalurkan berbagai bantuan, antara lain 30.500 paket peralatan sekolah, 168 unit tenda darurat, dan 147 ruang kelas darurat.
Selain itu, bantuan pendidikan darurat untuk 1.339 satuan pendidikan disalurkan senilai Rp12,2 miliar.
Pemerintah juga menyalurkan tunjangan khusus guru kepada 16.467 guru senilai Rp32,9 miliar dan mendistribusikan 7.067 eksemplar buku pembelajaran.
Selain itu, pemerintah memberikan dukungan psikososial di 680 satuan pendidikan senilai Rp2,7 miliar.
Untuk Aceh, dukungan tambahan berupa pembersihan sekolah dengan kategori kerusakan ringan telah dilakukan sejak 5 Januari di Padang Pariaman dan Aceh Tamiang.
Upacara pembukaan sekolah juga dilaksanakan serentak pada 5 Januari 2026, dengan tingkat kehadiran siswa sekitar 70 persen, meski terkendala faktor transportasi.
Pemerintah juga merealisasikan pembayaran berbagai tunjangan guru senilai Rp500,89 miliar serta bantuan untuk 21 ribu satuan pendidikan terdampak senilai Rp1,98 triliun.
Untuk pekan ketiga Januari, Kemendikdasmen merencanakan penyaluran 5.510 paket school kit ke Aceh dan Sumatra Utara.
Selanjutnya, rapat koordinasi lanjutan dengan dinas pendidikan setempat, verifikasi lapangan sekolah terdampak, pelatihan dukungan psikososial di Aceh, serta bantuan peralatan sekolah senilai Rp60 miliar akan dilaksanakan.
“Alhamdulillah sampai saat ini untuk proses pembelajaran di ketiga provinsi tersebut sudah terlaksana 100 persen proses pembelajarannya,” ungkapnya.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































