Menuju konten utama

Keluarga Korban Pesawat ATR Belum Ingin Pasang Bendera Kuning

Keluarga masih berharap Deden Maulana selamat dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesian Air Transport (IAT).

Keluarga Korban Pesawat ATR Belum Ingin Pasang Bendera Kuning
Ayah Deden Maulana, Mukhsin di kediamannya, Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/1/2026). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Keluarga Deden Maulana, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan, masih menggantungkan harapannya. Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu merupakan satu dari 10 penumpang di dalam pesawat Indonesian Air Transport (IAT) tujuan Yogyakarta-Makassar, yang jatuh pada Sabtu (17/1/2026).

Mukhsin, ayah Deden, mengaku pihak keluarga dan tetangganya belum berani mengambil langkah-langkah simbolik duka, seperti memasang bendera kuning di lingkungan tempat tinggalnya.

“Iya itu, makanya warga di sini belum berani pasang karena belum ada kepastian yang pastinya gimana,” kata Mukhsin saat dijumpai di kediamannya, Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/1/2026).

Mukhsin mengaku tidak tinggal serumah dengan Deden. Ia menetap di Garut, sementara anaknya menjalani aktivitas dinas di luar daerah.

“Enggak, kalau saya tinggalnya di Garut,” kata Mukhsin ketika ditanya soal tempat tinggalnya.

Lalu, Mukhsin mengatakan terakhir dirinya bertemu dengan Deden terjadi pada akhir Desember lalu.

“Ketemu teh tanggal 24 kalau enggak salah, Desember (2025),” ujarnya.

Setelah itu, komunikasi hanya dilakukan lewat pesan singkat. Bahkan, beberapa hari sebelum insiden, keduanya masih sempat berhubungan.

Menurut Mukhsin, biasanya Deden selalu memberi kabar sebelum berangkat menjalankan tugas. Namun, tepat pada Sabtu (17/1/2026), rupanya tepat pada insiden terjadi, Deden tak kunjung memberikan kabar kepada pihak keluarga.

“Tapi kemarin hari kamis lah tanggal berapa ya, kamis kemarin sempat WA-an (Whatsapp), jadi dia ngasih tau kalau mamahnya udah pulang ke Garut mau kontrol gitu,” tutur Mukhsin.

“Hari Kamis, biasanya kalau dia mau berangkat dinas itu suka bilang minta didoain. (Kemarin) Enggak ada kabar, saya tahu kabarnya udah begitu (pesawat hilang kontak,” lanjut Mukhsin.

Deden merupakan anak pertama Mukhsin. Deden juga merupakan seorang ayah dari satu anak laki-laki. Di tengah ketidakpastian, Mukhsin menyebut keluarga masih berharap akan adanya keajaiban.

“Ya mudah-mudahan ada keajaiban dari Allah, bisa segera ditemukan,” katanya lirih.

Harapan itu pula yang membuat keluarga dan warga sekitar belum memasang bendera kuning sebagai penanda duka. Hingga kini, keluarga Deden Maulana masih menunggu kepastian resmi dari tim pencarian dan otoritas terkait, seraya berharap sang anak dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjabarkan bahwa Pesawat ATR 42-500 dengan rute Yogyakarta-Makassar yang dilaporkan hilang kontak di wilayah antara Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, mengangkut total 10 orang.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, membenarkan tiga penumpang yang berada di pesawat tersebut adalah pegawai KKP.

“Kami sampaikan bahwa benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia,” kata Sakti dalam konferensi pers KKP, Sabtu (17/1/2026).

Tiga penumpang tersebut adalah Ferry Irawan dengan pangkat Penata Muda Tingkat I dengan jabatan Analis Kapal Pengawas; Deden Mulyana dengan pangkat Penata Muda Tingkat I, jabatannya Pengelola Barang Milik Negara; dan Yoga Naufal jabatannya Operator Foto Udara.

Baca juga artikel terkait PESAWAT HILANG KONTAK atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto