tirto.id - Pemerintah berupaya mendorong Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah untuk bertransformasi menjadi kawasan industri hijau atau Eco-Industrial Park (EIP).
Dorongan itu mengemuka dalam diskusi multipihak bertajuk "Diplomasi Dekarbonisasi yang Berdaya Ungkit: Merumuskan Strategi Kemitraan Transformatif di KEK Industropolis Batang" yang digelar Kementerian Luar Negeri bersama Synergy Policies di Gedung LPPM Universitas Negeri Semarang (UNNES), beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut melibatkan pemerintah pusat dan daerah, Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, pengelola KEK Industropolis Batang, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asosiasi pengusaha, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha.
Direktur Eksekutif Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, mengatakan terdapat sejumlah agenda yang perlu diperkuat untuk mendorong transformasi Batang menjadi kawasan industri hijau. Salah satunya adalah memperkuat kerja sama Indonesia dan Cina melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP).
Selain itu, diperlukan pemetaan potensi energi bersih, integrasi rantai pasok dan transfer teknologi beserta skema pembiayaannya, serta pelibatan masyarakat di sekitar kawasan.
"Penguatan kerja sama Indonesia-Tiongkok melalui Two Countries Twin Parks (TCTP), pemetaan energi bersih, integrasi rantai pasok dan alih teknologi berikut pembiayaannya, serta pelibatan masyarakat sekitar," katanya, dalam keterangan resmi, dikutip Senin (10/8/2026).
Kerja sama TCTP menjadi salah satu instrumen yang dinilai dapat mempercepat pengembangan kawasan industri berkelanjutan. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, Edwin Manansang, menyebut estimasi investasi dalam kerangka TCTP mencapai Rp37,1 triliun.
Dalam kerja sama tersebut, KEK Industropolis Batang menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam kerangka kemitraan Indonesia-Cina, bersama Bintan Industrial Estate dan Aviarna Industrial Estate.
Menurut Edwin, kerja sama di Batang diarahkan tidak hanya untuk menarik investasi, tetapi juga mempercepat transfer teknologi hijau, pengembangan simbiosis industri, pemanfaatan energi bersih, ekonomi sirkular, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta integrasi kawasan dengan rantai pasok internasional.
"Transformasi kawasan industri menjadi EIP membutuhkan integrasi berbagai aspek, mulai dari lingkungan hingga ekonomi," kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah, Yusmanto, menyebut kawasan tersebut telah memperoleh capaian Greenship Neighborhood Platinum pada tahap desain dan perencanaan. Capaian itu menjadi modal awal untuk KEK Industropolis Batang dikembangkan sebagai kawasan industri hijau.
Selain itu, kawasan telah memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk kebutuhan Network Operation Center dan penerangan jalan. Infrastruktur pengelolaan lingkungan juga telah tersedia, termasuk instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terintegrasi dengan kapasitas 18.000 meter kubik per hari.
KEK Industropolis Batang juga memiliki jaringan perpipaan sepanjang sekitar 18 kilometer serta fasilitas pengolahan sampah terpadu dengan kapasitas 35 ton per hari.
Namun, modal awal tersebut dinilai belum cukup. Pengembangan EIP harus diukur secara konsisten melalui empat dimensi, yakni pengelolaan kawasan, lingkungan, sosial, dan ekonomi.
"Perlunya kemajuan yang terukur dan konsisten pada empat dimensi EIP, yakni pengelolaan kawasan, lingkungan, sosial, dan ekonomi," ujar dia.
Persoalan lain yang muncul adalah bagaimana memastikan proyek-proyek hijau di Batang dapat memenuhi standar yang dibutuhkan investor dan lembaga pembiayaan.
Perwakilan ISEI Pusat sekaligus Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional APINDO, Arief Budiman, menilai kesiapan proyek menjadi salah satu tantangan utama. Menurut dia, proyek transisi industri membutuhkan data yang terverifikasi, standar yang diakui pasar tujuan, baseline, serta sistem measurement, reporting, and verification (MRV). Proyek juga harus disiapkan hingga memenuhi persyaratan due diligence pembiayaan.
"Batang tidak kekurangan modal. Batang kekurangan bukti," kata Arief dalam kesempatan yang sama.
Karena itu, ia mengusulkan pembentukan fasilitas penyiapan proyek Batang. Fasilitas tersebut dapat digunakan untuk menyiapkan proyek bersama di kawasan agar memenuhi aspek teknis sekaligus layak dibiayai.
Kebutuhan pembiayaan menjadi penting karena transformasi menuju industri rendah karbon membutuhkan investasi pada teknologi, energi bersih, efisiensi sumber daya, hingga pengelolaan limbah.
"Perlu ada pembentukan fasilitas penyiapan proyek Batang untuk menyiapkan proyek bersama kawasan yang layak secara teknis dan dapat dibiayai," tutur dia.
Transformasi KEK Industropolis Batang juga diarahkan agar memberikan dampak langsung kepada masyarakat sekitar.
Pelaksana Tugas Kepala Divisi Operation Services PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Herjuno Kuncorojakti, memaparkan program tanggung jawab sosial perusahaan yang mencakup lima bidang, yakni pendidikan dan lapangan kerja, komunitas sosial, ekonomi dan UMKM, kesehatan, serta lingkungan.
Direktur Jenderal sekaligus Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri, Muhammad Takdir, menilai transformasi kawasan industri perlu didukung kebijakan yang mampu mempercepat investasi energi terbarukan.
Ia menekankan pentingnya memperluas akses perusahaan terhadap energi bersih, menjaga iklim investasi tetap kompetitif, dan memastikan transfer teknologi masuk dalam kesepakatan energi.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu melakukan diversifikasi sumber pendanaan, mempercepat peta jalan transisi energi, serta memastikan tersedianya kerangka regulasi yang kuat.
Dengan demikian, agenda menjadikan Batang sebagai Eco-Industrial Park tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur hijau.
"Diskusi multipihak kemudian diarahkan pada tindak lanjut yang menghasilkan transfer teknologi bersih, pembiayaan hijau, pengembangan pemasok lokal, tenaga kerja kompeten, serta kinerja EIP dan manfaat lokal yang terukur," tutup Takdir.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































