tirto.id - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, mengungkapkan prajurit Detasemen Intai Para Amfibi 1 (Den Ipam 1) Marinir, Praka Zaenal Mutaqim, sempat menabrak penerjun lain di udara saat melakukan aksi terjung payung dalam rangkaian HUT TNI ke-80 di perairan Teluk Jakarta pada Kamis (2/10/2025) lalu.
“Pada pada saat exit dari pesawat kemudian opening parasut, kemudian terjadi lah tabrakan,” tutur Freddy kepada para wartawan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (9/10/2025).
Freddy mengatakan, insiden tabrakan antar penerjun di udara seperti itu memang kerap terjadi. Menurut Freddy, hal itu bisa saja terjadi karena para penerjun membuka parasut dalam waktu yang bersamaan.
“Kadang itu karena karena leveling pada saat pencabutannya bersamaan,” ujarnya.
Selain itu, faktor lainnya yang bisa saja menyebabkan terjadinya insiden tabrakan seperti itu adalah karena penerjun sempat berputar atau spinning setelah terjun dari pesawat pengangkut. Akibatnya, penerjun bisa saja menabrak penerjun lainnya yang berada posisi berdekatan.
“Kemudian bisa juga karena faktor begitu dia exit habis itu spin, sehingga nabrak penerjun yang lainnya. Jadi ada beberapa faktornya,” tutur Freddy.
Freddy pun mengaku pernah mengalami insiden serupa saat ia masih berpangkat mayor. Saat itu, lulusan AAL 1998 itu menyebut dirinya hampir kehilangan nyawa akibat insiden tersebut.
“Saya pribadi pernah merasakan itu, di pangkat mayor saya pernah seperti itu dan pernah nyaris meninggal,” akunya.
Untuk insiden yang menimpa Praka Zaenal, Freddy bersyukur bahwa prajurit Detasemen Intai Para Amfibi 1 (Den Ipam 1) Marinir itu masih sempat membuka parasut setelah insiden tabrakan.
Ia menyebut, insiden tabrakan antar penerjun seperti itu sangat berpotensi membuat penerjun mengalami blackout sehingga tidak sempat membuka parasut.
“Ada beberapa kejadian yang tidak sempat mencabut parasut karena blackout. Begitu tabrakan, blackout, enggak bisa nyabut parasut sampai darat, sampai laut. Tapi yang kemarin, almarhum sempat nyabut, kemudian mendarat di laut,” jelasnya.
Atas kejadian tersebut, Freddy menegaskan bahwa TNI akan terus mengevaluasi keterampilan prajurit, termasuk terkait dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang baik dan benar.
“Itu akan terus dievaluasi, akan terus dievaluasi dari sisi keterampilan, kemampuan, kemudian teknis,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama (Laksma) TNI Tunggul, mengatakan Praka Zaenal gugur saat melaksanakan penerjunan Rubber Duck Operations (RDO) dalam rangkaian HUT Ke-80 TNI, yaitu Presidential Inspection yang berlangsung di perairan Teluk Jakarta.
“Dengan penuh rasa duka cita sedalam-dalamnya, TNI Angkatan Laut menyampaikan bahwa salah satu prajurit terbaik kami yaitu Praka Mar Zaenal Mutaqim Personel Detasemen Intai Para Amfibi 1 (Den Ipam 1) Marinir telah gugur dalam tugas saat melaksanakan penerjunan Rubber Duck Operations (RDO) dalam rangkaian HUT Ke-80 TNI,” kata Tunggul dalam keterangan resmi, Minggu (5/10/2025).
Pada saat itu, Praka Zaenal mengalami kendala di udara saat hendak membuka parasut atau Processing Opening Parachute.
“Praka Marinir Zaenal Mutaqim mengalami kecelakaan di udara saat Processing Opening Parachute. Parasut tetap mengembang hingga mendarat di air,” jelas Tunggul.
Kemudian, lanjut Tunggul, tim pengaman di laut pun segera mendekati Zaenal dan langsung melakukan evakuasi menggunakan ambulance sea rider menuju posko kesehatan Kolinlamil.
Lalu, Zaenal dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk menjalani penanganan intensif. Ia lalu dinyatakan meninggal dunia ada Sabtu (4/10/2025) pukul 03.01 WIB.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id






























