tirto.id - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan Indonesia akan menghadapi potensi fenomena cuaca La Nina pada akhir tahun 2025 hingga Februari 2026 mendatang.
Hal itu disampaikan Listyo saat memimpin Apel Kesiapan dalam Rangka Tanggap Darurat Bencana yang dilaksanakan di Lapangan Markas Komando (Mako) Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/10/2025) pagi.
“BMKG juga mendeteksi bahwa bulan November 2025 akan mulai terjadi fenomena La Nina yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026,” kata Listyo.
Menurutnya, fenomena cuaca La Nina itu berada dalam kategori lemah. Meski begitu, ia menegaskan bahwa seluruh aparat kepolisian akan tetap disiagakan untuk mewaspadai potensi meningkatnya kerawanan bencana.
Listyo menjelaskan, daerah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi di antaranya adalah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi bagian Selatan, hingga sebagian Papua.
Sementara itu, Listyo menjelaskan, berdasarkan data BNPB sampai dengan 19 Oktober 2025, telah terjadi 2.606 kasus bencana alam, di antaranya 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 kebakaran hutan, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, hingga 4 erupsi gunung berapi.
“Berbagai bencana tersebut telah mengakibatkan 361 orang meninggal dunia, 37 orang hilang, 615 orang luka-luka, 5,2 juta orang mengungsi, 31.496 rumah rusak, serta 887 fasilitas umum dan perkantoran rusak,” jelas Listyo.
Dalam menghadapi berbagai tantangan bencana alam tersebut, Listyo menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan respons menjadi salah satu faktor utama dalam penanganan bencana.
Ia pun mengimbau personel kepolisian untuk melakukan deteksi dini dan pemetaan wilayah rawan bencana secara berkelanjutan melalui kolaborasi dengan BMKG serta berbagai pihak terkait lainnya di wilayah masing-masing.
"Kedua, berikan informasi dan imbauan kamtibmas terkait potensi ancaman bencana. Ketiga, pastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana, termasuk peralatan evakuasi, kendaraan operasional, serta ketersediaan bantuan logistik pendukung, sehingga dapat segera digerakkan kapanpun dibutuhkan," katanya.
Listyo meminta seluruh kegiatan penanggulangan bencana dilaksanakan sesuai prosedur, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadinya bencana dengan terus melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, guna meningkatkan resiliensi bencana.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dan sinergi antar lembaga, seperti dengan TNI, BNPB, PMI, BMKG, Basarnas, Pemerintah Daerah, hingga unsur relawan dan masyarakat.
“Untuk itu, dibutuhkan langkah strategis yang komprehensif, responsif, dan berkesinambungan dalam rangka mencegah serta menanggulangi berbagai potensi bencana tersebut,” tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































