tirto.id - Masyarakat akan mengumandangkan takbir saat Idul Fitri 2026. Lantas, kapan batas takbiran Idul Fitri 2026 dan kenapa hanya sehari? Simak ulasan lengkapnya.
Salah satu hal yang lazim dilakukan oleh umat Islam pada hari raya yaitu takbiran atau melafalkan takbir. Di Indonesia, takbiran dikemas dengan berbagai acara. Misalnya takbiran mengelilingi kampung dengan membawa obor dan menyalakan petasan.
Beberapa orang juga takbiran melalui pengeras suara di masjid atau menggunakan rekaman. Takbiran adalah bagian dari cara masyarakat untuk menghidupkan malam Idul Fitri 2026. Adapun tuntunan takbir yang umum dilafalkan oleh masyarakat yaitu:
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.”
Batas Waktu Takbiran Idul Fitri 2026
Menghidupkan malam Idul Fitri merupakan salah satu ibadah yang disunahkan bagi semua umat Islam. Hal ini termaktub dalam sebuah hadis yang berbunyi:
من أحْيَا لَيلَةَ الْعِيد، أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْت القُلُوبُ
“Barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, Allah akan menghidupkan hatinya di saat hati-hati orang sedang mengalami kematian. (Lihat: Ibrahim Al Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, [Thaha Putra], h:227)
Dalam Islam, sebagian ulama menilai hukumnya sunah untuk membaca takbir sejak matahari terbenam hingga setelah shalat Idul Fitri. Pendapat ini salah satunya disampaikan oleh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi:
ويكبر ندبا كل من ذكر وأنثى وحاضر ومسافر في المنازل والطرق والمساجد والأسواق، من غروب الشمس من ليلة العيد، أي: عيد الفطر، ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام في الصلاة للعيد، ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلاة، ولكن النووي في "الأذكار" اختار أنه سنة
Artinya:"Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fitri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fitri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan,".
Berangkat dari keterangan tersebut, takbiran Idul Fitri yang disunahkan yaitu pada waktu terbenamnya matahari hingga shalat Idul Fitri. Setelah itu, takbiran tidak lagi disunahkan. Sedangkan menurut Imam Nawawi, takbir setelah shalat Idul Fitri tetap disunahkan.
Adanya perbedaan pendapat ulama tersebut dikembalikan pada tradisi masing-masing daerah dalam melafalkan takbiran. Saat Idul Adha disunahkan takbir setiap usai shalat fardlu selama hari tasyriq yaitu 11,12, 13 Dzulhijah.
Selain bacaan takbir di atas, umat Islam juga menambahkan zikir takbir Rasulullah saat di bukit Shafa. Berikut lafal zikir takbir Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na‘budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa‘dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: “Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.”
Pembaca dapat mengakses artikel mengenai Lebaran 2026 melalui tautan berikut ini:
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































