Kapten Bintang Hardiono

"Kalau Tak Segera Dibenahi, Garuda Bisa Mati Seperti Merpati"

Oleh: Arbi Sumandoyo - 29 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Direksi Garuda Indonesia dianggap tak becus memimpin perusahaan dan mengurusi karyawan.
tirto.id - Perbincangan kami baru dimulai ketika para petinggi Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) berkumpul di Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Hari itu mereka menunggu kabar rencana mediasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang berjanji bakal menengahi persoalan yang mereka keluhkan kepada manajemen Garuda Indonesia.

Perseroan terbuka milik pemerintah ini jadi sorotan pemberitaan sejak rencana mogok pilot Garuda mencuat pada awal Mei lalu. Masalah lain: performa keuangannya terus melorot sehingga gagal menyetor dividen kepada negara. Serikat karyawan dan pilot menuding direksi baru telah gagal memperbaiki manajemen Garuda.

Puncaknya, para karyawan mendesak Menteri BUMN Rini Soemarno dan Presiden Joko Widodo untuk turun tangan membenahi persoalan Garuda. “Karena semua bagian sudah mengeluh dengan kebijakan-kebijakan yang tidak benar,” klaim Kapten Bintang Hardiono, Presiden Asosiasi Pilot Garuda.

“Bukan hanya di pilot, Mereka [direksi] mau cutting cost dengan alasan efisiensi,” tambah Hardiono.

Apa penyulut pilot berencana melancarkan aksi mogok?

Penyulut sebenarnya banyak, ya. Kalau mengikuti pergerakan [tuntutan] kami, dimulai saat April 2017 ketika RUPS [Rapat Umum Pemegang Saham] yang menghapus dua jabatan direksi: direktur operasi dan direktur teknik. Jabatan ini diganti direktur produksi.

Setelah kami teriak, akhirnya diangkat direktur operasi dan direktur teknik tanpa melalui RUPS Luar Biasa.

Tuntutan kami dianggap [manajemen] tidak masuk akal dengan alasan sedang efisiensi. Awalnya kami redam di internal, tapi masalah ini merembet ke eksternal, ke (pelayanan) penumpang. Kami gerah juga.

Orang naik pesawat Garuda Indonesia itu, kan, bayar mahal. Kenapa? Harapannya garuda itu maskapai bintang lima; dia harus tepat waktu, aman (safety), yang berhubungan dengan konsumen.

Situ kalau sudah bayar mahal kemudian pelayanan tidak bagus, kan, akan komplain dan yang ngadepin kami. Sampai kapan kami harus seperti ini? Maka kami sudah teriak, sudah bersurat, dan memohon ditinjau.


Kapan surat itu dikirim kepada manajemen Garuda Indonesia?

Tahun lalu kami sudah mencoba membicarakan ini di internal agar tidak sampai keluar (publik). Coba untuk berdialog, tapi buntu dan tidak ada solusi.

Lalu kami menyurati Kementerian BUMN dan Presiden. Hasilnya tidak ditanggapi, tapi komisaris mencoba menengahi dan berjanji, "Tunggu deh di RUPS yang akan datang.”

RUPS baru April 2018 kemarin dan orang-orangnya (direksi) itu-itu juga. Terus apa yang saya harapkan untuk kemajuan Garuda?

Apakah melayangkan surat pengaduan kepada Kementerian Perhubungan sebagai regulator?

Oh tidak. Justru kalau situ tidak benar, saya kasih tahu situ dulu. Saya juga harus menjaga perusahaan saya. Nah, masalah salah atau tidak, yang memvonis adalah perhubungan.

Dari penjelasan Anda, problem Garuda merupakan akumulasi sejak tahun lalu?

Komunikasinya tidak nyambung. Sekarang kalau melihat kinerja dari seluruh BUMN, kelihatan bagus atau tidak itu dari mana? Kalau laporan-laporan [keuangan] bisa dimanipulasi. Menurut saya, dari harga saham. Yang naik-turun itu kepercayaan publik. Kalau menurut saya, sudah gagal.


Tudingan Dirut Garuda sekarang, Pahala Mansury, tidak kapabel bisa Anda terangkan?

Ya itu, kan, nilai. Kalau Garuda mau bagus ya di-handle lah sama orang yang benar di bidangnya. Kalau mau nanya siapa? Lah orang dalam banyak, kok, yang jago-jago. Orang yang dari dulu kerja di Garuda. Memang tidak ada orang lagi? Memang orang Garuda bodoh-bodoh semua?

Ada tuntutan untuk mengganti seluruh direksi, apa dampaknya jika ini tidak diselesaikan?

Ya nunggu mati saja seperti Merpati (PT Merpati Nusantara Airlines).

Rencana mogok pilot Garuda saat ini ditengahi oleh Menteri Luhut Panjaitan. Apa langkah selanjutnya jika hasil mediasi ini gagal?

Kami menunggu rencana berikutnya.

Mogok?

Ujung-ujungnya mogok, karena senjata kami cuma mogok. Memang senjata kami apa? Tapi tujuannya bukan untuk kami, [melainkan] kepentingan pengguna jasa, kepentingan Garuda di mata dunia, di mata negara. Kami memberi tahu, "Ini lho kondisinya seperti ini." Salah enggak saya seperti itu? Tapi dari media-media ada menyudutkan.

Pernah ada tanggapan dari Kementerian BUMN?

Sampai saat ini belum pernah dipanggil. Dipanggil saja belum ada, apalagi penjelasan. Karyawan bukan mementingkan kepentingan individu, lho, tapi kepentingan nasional, yakni Garuda Indonesia.

Pernah ada pertemuan antara serikat dan manajemen Garuda?

Bertemu, tapi tidak pernah nyambung.

Jadi tidak pernah ada titik temu antara pekerja dan manajemen Garuda?

Kalau tidak ada titik temu, ya enggak akan seperti ini. Mungkin satu yang dicatat: katanya Garuda punya pilot cadangan kalau kami mogok. Pertanyaan saya: Kapan kami pernah menyatakan melakukan mogok, tanggal berapa? Tidak ada.

Yang membuat cerita kami mau mogok siapa? Mereka.

Kenapa kami protes dibilang mau mogok? Tidak pernah kami berbicara itu.

Memang gampang menggunakan pilot cadangan? Berarti dia enggak mengerti aturan penerbangan. Manajemen menuduh saya punya beking. Sebaliknya, mereka menunjukkan ketidakmampuan dalam dunia penerbangan.

Mengelola karyawan saja tidak bisa, apalagi mengelola penerbangan.

Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Wawancara)

Reporter: Arbi Sumandoyo & Mawa Kresna
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
Dari Sejawat
Infografik Instagram