Hari Ulang Tahun DKI 2022

Kado Pahit HUT DKI Jakarta ke-495: Kualitas Udara Terburuk Sedunia

Reporter: Riyan Setiawan - 22 Jun 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Koalisi IBUKOTA sebut kualitas udara terburuk di dunia versi IQAir menjadi 'kado buruk' pada Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-495.
tirto.id - Penampakan kabut gelap polusi udara terlihat dari pandangan Shafa Sabila Fasha (20) saat ia bersama temannya, Julio (26) mengendarai sepeda motor sekitar pukul 6 pagi, Senin, 20 Juni 2022. Pada hari itu tepat pukul 06.00 WIB, data situs pemantau udara IQAir melaporkan kadar polusi Jakarta mencapai 205 US AQI yang masuk ke level sangat tidak sehat (very unhealthy).

Pemandangan tak sehat itu mereka saksikan saat melintasi kawasan Rawamangun, Jakarta Timur menuju Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Kelihatannya kaya kabut agak gelap. Tapi bukan kabut kaya di puncak, lebih terasa polusi, karena udaranya nggak segar, kelihatan ngebul gitu," kata Shafa kepada reporter Tirto, Selasa (21/6/2022).

Pandangan mereka pun sempat terganggu ketika tengah mengendarai motor karena kabut yang cukup tebal, tak seperti hari-hari biasanya. "Untuk jarak dekat kelihatan. Tapi untuk jarak jauh, itu nutup gitu," ucapnya.

Ketika melintasi fly over Sunter, mereka menyaksikan gedung-gedung tinggi tampak gelap, tertutup kabut tebal. "Jadi nggak kelihatan jelas ketutup polusi," tuturnya.

Perempuan yang akrab disapa Caca itu mengaku kurang nyaman bernapas ketika melintas kabut di jalan meski dirinya telah mengenakan masker. “Padahal pakai helm, pas dibersihin muka hitam parah. Nempel [debu] parah banget. Masker juga jadi abu-abu dan kotor," ujarnya.

Sementara itu, temannya juga merasa kesal akibat sweater berwarna putih yang dikenakannya menjadi kotor akibat debu hitam yang menempel.

Dia menyayangkan kondisi seperti ini terjadi dan polusi udara DKI menjadi terburuk sedunia di saat Jakarta berulang tahun ke-495 pada 22 Juni 2022. “Sangat-sangat tidak menyenangkan,” kata dia.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ayu Utami ketika berangkat dari kediamannya di Cirendeu, Banten menuju kantornya di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (20/6/2022) pukul 7 pagi.

Pagi itu, ia merasakan udara Jakarta yang kotor dan berkabut agak hitam tak seperti hari-hari biasanya saat berangkat kerja. "Saya masuk Jakarta Selatan sudah nggak ada sejuk-sejuknya," kata Ayu kepada Tirto, Selasa (21/6/2022).

Akibat polusi udara Jakarta yang tinggi, kulit Ayu menjadi kusam, pakaian lebih berbau tak sedap, hingga mengalami batuk-batuk.

“Oleh karena itu untuk menghindari polusi, saya akhirnya memilih naik MRT atau Transjakarta ke kantor," ucapnya.


Kado Buruk HUT Jakarta

Koalisi IBUKOTA mengkritik keras Jakarta menjadi daerah dengan kualitas udara terburuk di dunia versi IQAir. Menurut mereka, hal ini menjadi 'kado buruk' pada Hari Ulang Tahun Jakarta ke-495. Koalisi IBUKOTA terdiri dari sejumlah organisasi sipil, yakni ICEL, Greenpeace, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Greenpeace Indonesia mencatat, sejak 15 - 20 Juni 2022, kualitas udara Jakarta berada di urutan teratas kota dengan polusi tertinggi di dunia pada pengukuran udara di pagi hari. Pada data Selasa pagi (21/6/2022) pukul 06.33 WIB, Jakarta berada di urutan tinggi dengan udara paling berpolusi dengan 154 US AQI, di bawah Beijing (176 US AQI) dan Kuwait (154 US AQI).

Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menuturkan, salah satu penyebab polusi udara Jakarta tertinggi memang cuaca. Namun, penyebab utama lainnya adalah masih adanya sumber pencemar udara (bergerak dan tidak bergerak) yang terbukti belum bisa dikendalikan serius melalui kebijakan yang seharusnya diambil oleh pemerintah.

“Hal ini terjadi karena tingginya kelembaban udara sehingga menyebabkan peningkatan proses adsorpsi atau perubahan wujud dari gas menjadi partikel atau dikenal dengan istilah secondary air pollutants," kata Bondan dalam diskusi daring, Selasa (21/6/2022).

Berdasarkan catatan Greenpeace Indonesia pada 2015, polusi udara bersumber dari asap knalpot kendaraan 32-41% (penghujan)/42-57% (kemarau); Aerosol sekunder 6-16% (penghujan)/1-7% (kemarau); Pembakaran batu bara 14% (penghujan); Aktivitas konstruksi 13% (penghujan); Pembakaran biomasa dan bahan bakar 11% (Penghujan)/9% kemarau; Debu jalan aspal 1-6% (penghujan)/9% (kemarau); Partikel tanah tersuspenai 10-18% (kemarau); dan Garam laut 1-10% (penghujan/19-22% (kemarau).



Sementara itu, Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko menjelaskan pada beberapa hari terakhir PM2.5 mengalami lonjakan peningkatan konsentrasi dan tertinggi berada pada level 148 µg/m3. PM2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan kualitas udara tidak sehat.

“Tingginya konsentrasi PM2.5 dibandingkan hari-hari sebelumnya juga dapat terlihat saat kondisi udara di Jakarta secara kasat mata terlihat cukup pekat/gelap," kata Urip dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip Antara.

PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 µm (mikrometer). Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru.

Selain itu, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

Merujuk Allianz, studi yang dilakukan oleh peneliti lokal tanah air menunjukkan bahwa polusi udara berhubungan dengan terjadinya gangguan kesehatan paru yakni penurunan fungsi paru (21% sampai 24%), asma (1,3%), PPOK (prevalensi 6,3% pada bukan perokok), dan kanker paru (4% dari kasus kanker paru).

Penyakit yang terjadi akibat pencemaran udara, antara lain: Asma/asthmatic bronchiale; infeksi saluran pernapasan akut (ISPA); kanker paru; penyakit paru obsturktif kronik penyakit (PPOK); paru-paru basah/pneumonia pneumonia; bronchopneumonia; dan serangan jantung.

Sedangkan menurut data terbaru dari Air Quality Life Index (AQLI) dari University of Chicago dan Nafas, saat ini lebih dari 93 persen dari 262 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah dengan tingkat Particulate Matter (PM) 2.5 rata-rata tahunan. Angka ini melebihi ambang batas pedoman World Health Organization (WHO).

Rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun dari usia harapan hidupnya akibat polusi udara saat ini, karena kualitas udara tidak memenuhi ambang aman sesuai pedoman WHO untuk PM2.5.


Desak Pemerintah Uji Emisi

Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (ICEL), Fajri Fadhillah mengatakan, polusi udara yang terjadi di Jakarta adalah permasalahan lintas batas. Sumber-sumber pencemar udara dari luar Jakarta, terutama industri dan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, cukup signifikan berkontribusi terhadap memburuknya kualitas udara Jakarta.

Dalam kondisi seperti ini, dia mendesak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya harus menjalankan kewajibannya melakukan pengawasan dan supervisi terhadap ketiga gubernur, yaitu Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.

“Untuk melakukan upaya pengetatan batas ambang emisi untuk seluruh sumber pencemar udara di daerahnya masing-masing," kata Fajri.

Menurutnya, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi tidak lagi perlu saling tuding ataupun berdebat mengenai sumber pencemar udara di Jakarta. Seharusnya, mereka dengan cepat menyusun langkah-langkah pengendalian pencemaran udara yang lebih ketat bersama.

“Baku mutu emisi baik untuk kendaraan bermotor maupun untuk industri seperti pembangkit-pembangkit listrik bertenaga fosil harus diperketat. Kedua sumber pencemar udara sama-sama perlu diperketat," tegasnya.

Sementara itu, pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jeanny Sirait mendesak pemerintah selaku tergugat untuk melaksanakan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada September 2021 mengenai gugatan warga negara atas polusi udara.

“Sampai saat ini, pemerintah pusat dan daerah terkesan lepas tangan dengan permasalahan polusi dalam beberapa hari ini dan hanya menyalahkan cuaca," ucap Jeanny.

Anggota DPRD DKI dari Fraksi PDIP, Gilbert Simanjuntak pun mengkritisi Gubernur Jakarta, Anies Baswedan yang lebih fokus mengurusi persiapan dirinya menjadi bakal calon presiden saat polusi udara Jakarta terburuk sedunia.

“Jelas polusi beracun ini mengurangi angka harapan hidup sebesar 4 tahun dan lebih berbahaya dari AIDS dan penyakit lainnya," kata Gilbert yang juga epidemiolog melalui keterangan tertulis, Senin (20/6/2022).


Respons Pemerintah

Wakil Gubernur DKI, Ahamd Riza Patria mengakui polusi udara di Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah. Untuk menangani hal tersebut, Pemprov DKI akan menyiapkan perlengkapan, petugas, hingga program penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Tentang polusi udara, program langit biru, itu memang tidak mudah, perlu waktu. Tidak bisa sepihak, perlu ada perlu ada pengurangan kendaraan, uji emisi dan sebagainya, kemudian peningkatan RTH dan sebagainya," kata Riza di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2022).

Politikus Partai Gerindra itu pun menyinggung pabrik-pabrik yang ada di ibu kota menjadi salah satu penyebab polusi udara di Jakarta terburuk di dunia.

“Pabrik-pabrik yang ada, cerobong asap, semuanya saling melekat satu sama lain. Tidak bisa secara sepihak atau parsial, semua harus secara komprehensif program itu disusun,” kata dia.

Sementara itu, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar mengatakan kualitas udara Jakarta yang buruk berdasarkan penilaian metode swasta yang bisa saja berbeda dengan penilaian pemerintah.

“Saya tidak bermaksud untuk membela diri, tetapi kita lihat dari metode yang biasa dipakai," kata Siti Nurbaya usai rapat sidang kabinet terbatas di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2022).

Dia menuturkan, hasil analisis di waktu yang sama tidak serta-merta sama dengan hasil analisis sebagaimana kualitas udara buruk yang disampaikan. Ia justru mengklaim bahwa Jakarta berada di peringkat ke-44.

“Jadi sebetulnya buat saya itu hanya ukuran dan indikator dan kita paling penting adalah kita lihat metodenya apa sih yang dipakai. Selain itu apa tindaklanjutnya. Itu yang paling penting," tuturnya.


Baca juga artikel terkait HUT DKI JAKARTA 2022 atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight