Jokowi yang Tak Jera Gaet Influencer Selama Pandemi COVID-19

Oleh: Mohammad Bernie, Irwan Syambudi - 18 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Pemerintah tak pernah belajar dari kesalahan kala merekrut artis cum influencer mengampanyekan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.
tirto.id - Selebriti Raffi Ahmad dipilih menjadi salah satu orang pertama yang disuntik vaksin COVID-19 di Indonesia bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/1). Harapannya, Raffi dapat mendorong penerimaan masyarakat terhadap vaksin sekaligus memotivasi agar mau divaksin.

Namun masih di hari yang sama usai divaksin, Raffi justru tertangkap kamera sedang berpesta tanpa memperhatikan jarak dan tanpa mengenakan masker pada malam harinya. Acara yang diduga merupakan pesta ulang tahun Ricardo Gelael ini juga dihadiri Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ini bukan kali pertama pemerintah menggandeng selebritas dan berujung masalah dalam menangani pandemi COVID-19. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman tak habis pikir kenapa pemerintah masih menggunakan artis untuk promosi kesehatan.

Menurutnya, pemerintah tidak belajar dari kesalahan kala merekrut artis ataupun influencer untuk mengampanyekan kesehatan di masa pandemi COVID-19 saat ini.

"Pemerintah harus belajar dari kesalahan strategi sebelumnya. Semua kebijakan strategi itu harus berbasis sains," kata Dicky saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (15/1/2021).


Pada Rabu (17/7/2020) Presiden Joko Widodo mengundang 23 artis ke istana, di antaranya adalah Erdian Aji Prihartanto alias Anji dan Yuni Shara. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kala itu Wishnutama mengatakan, artis-artis itu diharapkan mampu mengedukasi masyarakat tentang protokol kesehatan.

Sehari berselang, lewat akun Instagramnya, @duniamanji, Anji menyinyiri foto jepretan fotografer National Geographic Joshua Irwandi. Ia menduga foto itu menjadi viral karena ada strategi yang tertata rapih. Di akhir caption ia menulis: "Saya percaya covid itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa covid semengerikan itu yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil".

Beberapa waktu berselang, Anji kembali menuai kontroversi karena mewawancarai Hadi Pranoto, sosok yang mengaku pakar mikrobiologi dan sudah menemukan obat COVID-19--belakangan diketahui itu hanya bualan semata. Wawancara itu disiarkan di kanal YouTube Anji dan viral di media sosial karena banyak klaim yang disampaikan Hadi justru ngawur dan bertentangan dengan fakta. Ia bahkan sempat dilaporkan polisi atas video itu. Anji lantas meminta maaf atas kegaduhan yang dibuatnya.

Sementara itu, Yuni Shara mempromosikan kalung eucalyptus buatan Kementerian Pertanian. Yuni mengaku kalung itu membuatnya merasa lebih aman dari virus corona COVID-19 kala beraktivitas di luar rumah. Padahal, tak ada hasil uji klinis yang menyatakan kalung itu mampu menangkal virus Sars-Cov-2. Kementan sendiri sudah membantah kalung buatannya mampu menangkal COVID-19.

Dicky menilai evaluasi strategi penggunaan artis untuk komunikasi publik menurutnya mutlak untuk dilakukan. Mereka dianggap kurang tepat sebagai penyampai pesan, hanya pas sebagai magnet untuk meramaikan suatu kegiatan, kata Dicky.

Ia khawatir upaya menggandeng artis dalam komunikasi publik selama pandemi hanya akan ramai di awal, tetapi target-target program tak akan pernah tercapai.

"Kalau pesan dan pelaksanaan secara teknis baik itu vaksin atau menyampaikan pesan penting lain yang tepat ya tokoh kesehatan atau politisi yang mumpuni kompetensi dan integritasnya," ujar Dicky.

Pemerintah Kurang Kreatif

Pengajar Paramadina Graduate School of Communication, Ika Karlina Idris menilai pemerintah kurang kreatif dalam kampanye komunikasi dengan menggandeng artis untuk divaksin. Sebab masih banyak orang terkenal selain artis yang lebih berkompeten, menurutnya.

Dalam kampanye komunikasi, memang dibutuhkan pemimpin opini dalam menjembatani pesan pemerintah ke masyarakat. Namun, perlu ada kriteria dalam menyampaikan retorika ke publik yang dilakukan pemimpin opini untuk bisa efektif menyampaikan pesan yakni penguasaan terhadap argumen, memahami emosi audiens, dan tentu memiliki kompetensi baik perilaku maupun keahliannya.

Pada Oktober-November, Paramadina Public Policy Institute menggelar penelitian dengan pertanyaan: "Apakah Anda percaya dengan informasi seputar pandemi COVID-19 dari sumber berikut?"

Hasilnya, dari 1.560 responden di 34 provinsi, komunikator yang paling dipercaya masyarakat yakni media massa (95,45 persen), website pemerintah (93,94 persen), media sosial pemerintah (93,86 persen), RT/RW setempat (89,4 persen), dan tenaga kesehatan (81,82 persen).

Hanya 62,12 persen responden mengaku percaya pada influencer media sosial dan 51,51 persen percaya pada tokoh publik untuk urusan COVID-19.

"Meski artis itu terkenal, namun belum tentu mereka mampu berargumen dan belum tentu mereka kompeten. Artis cocok hanya untuk meningkatkan awareness, misalnya pesan untuk memberitahukan sudah ada vaksin," kata Ika.


Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito tidak ambil pusing dengan maraknya blunder yang dilakukan artis sekaligus influencer, termasuk yang terakhir oleh Raffi Ahmad. Ia bahkan memaklumi kecerobohan yang dilakukan Raffi hanya karena sudah meminta maaf dan memberikan klarifikasi.

Ia pun berharap seiring program vaksinasi, semakin banyak orang yang divaksin, termasuk para artis dan influencer, mereka dapat bekerja bersama untuk mempromosikan vaksin ke masyarakat lainnya.

"Ketika lebih banyak orang divaksinasi, termasuk influencer, kita harus bekerja sama dalam strategi komunikasi sehingga mereka bisa mengadaptasinya dan dipahami oleh pengikut mereka," kata Wiku dalam International Press Briefing, Kamis (16/1/2021).

Baca juga artikel terkait PROTOKOL KESEHATAN atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie & Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie & Irwan Syambudi
Penulis: Mohammad Bernie & Irwan Syambudi
Editor: Bayu Septianto
DarkLight