tirto.id - Semenjak hujan deras tidak berhenti mengguyur sejak Selasa (09/09/2025) hingga Rabu (10/09/2025), air mulai menggenangi Bali. Jalan raya berubah menjadi lautan, rumah-rumah mulai disusupi, hingga dinding berbahan semen yang semula kokoh perlahan terkikis. Warga berbondong-bondong menyelamatkan hartanya agar tidak terbawa arus, lalu mencabut akses listrik agar tidak tersengat setrum.
Namun, keadaan nahas terjadi di Jalan Sulawesi tepat setelah ayam berkokok. Air dari Tukad Badung mulai naik hingga mencapai pinggang orang dewasa, lalu setelahnya meruntuhkan Toko Tasnim dan Toko New Centrum yang menjadi tempat istirahat sekaligus mencari nafkah warga setempat. Keluarga yang menempati ruko tersebut lantas hanyut terbawa arus, bahkan ditemukan tanpa nyawa di Muara Tukad Badung.
Tidak kalah menyedihkan situasi di sekelilingnya. Jalan Sulawesi merupakan salah satu destinasi andalan masyarakat setempat yang ingin membeli kain, pakaian, dan perhiasan. Dekat di sana, berdiri Pasar Kumbasari yang merupakan tempat menyambung hidup banyak pedagang. Banjir yang datang tiba-tiba menghantam barang dagangan di pelataran dan lantai satu, membiarkannya dilahap arus.
Amatullah Rafiqa yang memiliki Toko Setia Kawan sedang mengepel lantai. Seharian, dia bersusah payah membersihkan lumpur yang menggenangi toko kainnya yang telah eksis sejak tahun 1973 itu. Menurutnya, banjir di tahun ini menjadi yang terparah sejak bertahun-tahun menggelar lapak, mengalahkan banjir tahun 1989 yang debit airnya tidak terlalu tinggi.

“Belum bisa buka ini. Dari kemarin, kita masih bersih-bersih. Lumpurnya banyak. Belum bisa jualan, belum bisa apa-apa,” katanya ketika Tirto menghampiri toko tersebut, Kamis (11/09/2025).
Dia bercerita, air mulai menggenangi tokonya sejak jam 03.00 WITA, lalu volume air tersebut meningkat hingga sebatas lutut pada 06.00 WITA. Lokasi tokonya yang dekat dengan Toko New Centrum membuatnya mendengarkan kengerian di luar sana, tetapi tidak ada yang Rafiqa bisa lakukan. Air terus menggenang dan barang dagangannya mulai rusak oleh lumpur.
“Air kotor itu masuk, ada lumpurnya. Memang barangnya banyak rusak. Kerugiannya perkiraan sampai puluhan juta,” keluh Rafiqa.
Namun, dia bersyukur karena beberapa barangnya yang sudah dilapisi plastik masih dapat diselamatkan. Rafiqa menganggap bancana yang terjadi merupakan kehendak Tuhan, sehingga dia mengikhlaskan selagi masih dapat mengatasi. Dia juga berharap, pemerintah mau membantu pedagang-pedagang di sekitar sana.
“Saya merasa sedih (dengan runtuhnya ruko), prihatin juga. Saya sampai berdoa. Karena kita ini semua saudara, kita semua di Bali ini saudara,” lanjutnya.
Tidak jauh dari sana, Muhammad dan keponakannya yang bernama Ahmad membersihkan Toko Sabrina Batik. Toko tersebut sudah mulai dibuka karena keduanya harus menyambung hidup, tetapi lumpur masih terlihat menggenangi jalan menuju pintu masuk toko. Mereka mengaku, musibah banjir tersebut baru yang pertama terjadi selama toko tersebut beroperasi.

“Saya takut. Selama saya 62 tahun dari lahir di sini, enggak pernah terjadi musibah begini. Orang-orang tua yang di belakang (ruko) juga, dia bilang baru kali ini mengalami,” kata Muhammad.
Saat kejadian, Muhammad sedang berada di rumahnya. Namun, setelah dikabari oleh rekannya, dia langsung memacu langkah menuju toko. Air sudah menggenang sampai sepaha orang dewasa ketika Muhammad tiba, sementara lumpur mulai menodai tekstil-tekstil yang dijual oleh toko tersebut.
“Barang (tekstil) kena juga. Ada sampai puluhan juga, barang-barangnya agak mahal. Ruginya sekitar 30 sampai 50 juta. Banyak sekali yang kena,” ucap Ahmad.
Dari kejadian tersebut, Muhammad dan Ahmad berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mau memerhatikan aliran sungai. Menurut mereka, aliran sungai yang meluap tersebut merupakan kiriman dari hulu.
Nasib pedagang di Pasar Kumbasari tidak jauh berbeda dari yang berjualan di ruko kawasan Jalan Sulawesi. Terlihat lantai satu dan dua dari pasar tersebut basah oleh air bercampur lumpur. Tidak ada satu pun toko yang membuka pintu, bahkan lorong yang semula ramai oleh pengunjung menjadi gelap dan sepi akibat banjir.
Made, seorang pedagang kain Bali dan pakaian, mengaku air yang meluap sudah mencapai lantai dua pada pukul 07.30 WITA. Akibatnya, dia harus memarkir sepeda motornya di depan pasar agar dapat masuk dan membuka kiosnya. Ketika sampai di kios, alangkah terkejutnya dia ketika melihat barang-barang yang dijualnya terendam oleh banjir.
“Dari tadi saya bersih-bersih. Barang saya pun ada yang masih terendam (air banjir). Saya rugi hampir 50 juta dari kejadian tersebut,” ucap Made.
Dia mengaku, kejadian banjir tersebut membuka lukanya mengenai kebakaran Pasar Badung pada tahun 2016. Kala itu, tiga kios yang dimiliki Made hangus dibakar si jago merah. Namun, bukannya bernasib lebih baik, tahun ini dia harus menderita kerugian signifikan karena barang dagangannya terkena air berlumpur.
“Sekarang tidak tahu kapan jualan kembali. Jadi kami bersih-bersih dulu,” imbuhnya.
Kisah Pilu di Posko Pengungsian
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat banjir telah menerjang lebih dari 120 titik yang tersebar di tujuh wilayah administrasi kabupaten dan kota. Kota Denpasar menjadi wilayah terdampak banjir paling banyak, yakni dengan 81 titik. Selanjutnya diikuti oleh Kabupaten Gianyar sebanyak 14 titik, Kabupaten Badung sebanyak 12 titik, dan Kabupaten Tabanan sebanyak 10 titik.
Banjir juga melanda Kabupaten Jembrana di 23 titik dan Kabupaten Karangasem di 4 titik. Selain banjir, terjadi tanah longsor di 27 titik dengan Kabupaten Karangasem memiliki 12 titik longsor, paling banyak di Bali. Pohon tumbang pun terjadi di 19 titik, dengan Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Tabanan memiliki masing-masing 5 titik.
Akibat dari bencana tersebut, sebanyak 562 warga mengungsi, dengan rincian 372 jiwa berada di Kabupaten Jembrana dan 235 jiwa di Kota Denpasar. Pengungsi di Kabupaten Jembrana berada di Banjar Semblong, Desa Yeh Kuning, Loloan Barat, Tegal Badeng, dan Polres Jembrana. Sementara di Kota Denpasar, pengungsi berada di SD 25 Pemecutan, Banjar Sedana Mertha, Banjar Dakdakan, Banjar Kesambi, Pulau Misol, dan Banjar Tohpati.
Salah satu keluarga asal Banyuwangi, Jawa Timur, terdampak banjir dan harus mengungsi ke Balai Banjar Sedana Mertha, Kelurahan Ubung, Denpasar Utara. Riki dan Oki berserta anaknya, Aksen, yang baru berumur 7 hari berada di sana usai indekos mereka dikepung banjir.
“Awalnya air masuk masih satu jengkal. Enggak lama, airnya naik. Saya mengungsi sekitar jam 3 pagi. Waktu itu mengungsi di kos tetangga yang agak tinggi. Kondisi kos saya hancur sekali, barang-barang sudah enggak ada yang bisa diselamatkan,” jelasnya kepada Tirto yang berkunjung ke Balai Banjar, Kamis.

Riki bekerja sebagai buruh proyek di Denpasar dan tinggal lebih dari satu tahun di kos tersebut. Banjir yang terjadi secara tidak terduga membuatnya tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Mereka hanya mampu membawa baju anaknya, lalu secepatnya beranjak mencari tempat yang lebih aman agar tidak ikut terseret banjir.
“Anak saya katanya agak panas. Usianya baru 7 hari. Ini sekarang sama istri dan petugas dibawa ke rumah sakit. Kalau kemarin, sehat-sehat saja kondisinya,” kata Riki.
Sementara itu, Yogi, seorang pengungsi di Kelurahan Ubung, bercerita bahwa debit air banjir meningkat dengan sangat cepat sewaktu kejadian. Akibatnya, barang-barang yang dimilikinya tidak mampu diselamatkan. Dia menyebut, indekos yang ditempatinya hancur terkena banjir dan tidak lagi bisa dihuni.
“Selain itu, kita juga ada yang diputus kerja di sini karena tuntutan di dunia kerja, jadi banyak yang perekonomiannya dari kami ini yang benar-benar lesu,” keluhnya.
Bagaimana Ekonomi di Denpasar Dapat Bangkit Kembali?
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas Denpasar, Ida Bagus Raka Suardana, melihat fenomena banjir menimbulkan dampak yang cukup signifikan terhadap UMKM, terlebih terdapat 474 unit kios dan ruko yang terdampak. Hanyutnya barang dagangan dan rusaknya stk barang mengakibatkan kegiatan distribusi dan aktivitas jual beli menurun tajam.
“Kerugian ini tidak hanya melemahkan modal kerja pelaku UMKM, tetapi juga menekan daya beli masyarakat sekitar. Pasar tradisional sebagai pusat ekonomi rakyat ikut terguncang, sehingga terjadi penurunan sirkulasi uang. Akibatnya, ekosistem usaha kecil jelas makin rapuh dan membutuhkan intervensi cepat agar tidak terjadi kebangkrutan. Itu bisa saja berantai,” kata Raka kepada Tirto, Kamis.
Menurut Raka, skema yang paling tepat adalah kombinasi bantuan jangka pendek dan program pemulihan jangka panjang. Dalam tahap awal, pemerintah dapat menyalurkan bantuan darurat berupa dana tunai, relaksasi kredit, dan subsidi untuk perbaikan usaha bagi pelaku UMKM yang terdampak langsung.
“Selanjutnya, skema pemulihan berupa akses modal murah, pendampingan manajemen risiko, serta fasilitasi pemasaran digital. Kolaborasi dengan BUMN, BPR, dan koperasi lokal dapat mempercepat pemulihan. Program asuransi bencana untuk UMKM juga perlu diperkenalkan sebagai mitigasi risiko,” jelasnya.
Selain langkah penanggulangan, Raka juga menyebut antisipasi bencana harus dilakukan melalui strategi mitigasi terpadu. Hal yang dapat dilakukan oleh Pemprov Bali agar mampu mengantisipasi bencana lainnya adalah dengan memperkuat sistem asuransi dan dana cadangan bencana khusus untuk UMKM agar risiko kerugian dapat dikurangi.
“Lalu membangun infrastruktur pasar dan sentra yang lebih tahan bencana, serta mendorong digitalisasi usaha sehingga pelaku UMKM dapat bertransaksi meskipun lokasi fisik terdampak. Terakhir, memperkuat jejaring distrikusi dan logistik alternatif agar suplai barang tetap terjaga,” terang Raka.
Langkah Pemerintah Daerah Demi UMKM
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, mengungkap Pemprov Bali akan mengucurkan anggaran khusus bencana untuk pihak-pihak terdampak, terutama 474 ruko dan kios milik para pedagang. Saat ini, anggaran provinsi untuk kebencanaan mencapai Rp40 miliar dengan opsi realokasi atau berbagi dengan Kota Denpasar apabila kurang.
“Kita sudah sepakat dengan Kota Denpasar, bahwa bantuan ganti rugi, peralatan dan barang para pedagang yang hanyut dan rusak, akan diganti tadi APBD Bali dan Kota Denpasar,” terang Giri.
Sementara itu, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, membenarkan akan ada skema ganti rugi untuk pedagang yang terdampak banjir. Namun, sebelum memberikan ganti rugi, Pemerintah Kota Denpasar akan melakukan verifikasi terlebih dahulu yang bertujuan untuk memperkirakan jumlah bantuan yang harus dikucurkan.
“Ada aturan untuk perbaikan ekonomi, modal kerja, ada bantuan sampai puluhan juta. Intinya, semua pendataan yang dilakukan dari desa dan kelurahan akan kami verifikasi bersama tim BPBD. Dari hasil verifikasi itulah dasar kami menghitung pengeluaran dan pembayaran,” terangnya.
Selain mengganti rugi pedagang yang terdampak banjir, Jaya menyebut terdapat pula bantuan tempat tinggal hingga maksimal Rp100 juta. Dia berkata bahwa hal itu merupakan komitmen pemerintah untuk meringankan beban masyarakat sesuai regulasi yang ada. Pemerintah Kota Denpasar juga memiliki anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp14 miliar.
“Lalu, Rp4 miliar hasil efisiensi dari perjalanan dinas yang ada di rencana induk. Kami memang ada perubahan penurunan biaya pergerakan dinas,” kata Jaya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































