tirto.id - Pemerintah Kabupatan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai deteksi dini kebakaran pada musim kemarau. Pasalnya, 70 persen wilayah OKI merupakan lahan gambut.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki mengungkapkan kebijakan ini sebagai langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung panjang. Status ini berlangsung hingga Desember 2026 sesuai prediksi berakhirnya musim kemarau.
"Kami sudah tetapkan status siaga darurat bencana asap pertama di Indonesia. Ini langkah kami sebagai deteksi dini atasi karhutla," ungkap Muchendi, Kamis (23/4/2026).
Muchendi menyebut status siaga tersebut memungkinkan koordinasi lintas instansi berjalan lebih efektif, terutama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan di lapangan. Kesiapan mencakup seluruh sumber daya, mulai dari personel, peralatan, logistik, hingga sistem komando lapangan.
Tim patroli terpadu juga mesti diperkuat dan percepatan verifikasi titik panas agar kebakaran dapat dikendalikan sejak dini. Lebih-lebih, tantangan karhutla tahun ini diperkirakan semakin berat karena potensi fenomena iklim ekstrem El Nino yang dapat meningkatkan suhu panas dan risiko munculnya titik api.
Kondisi itu diperparah dengan karakteristik lahan gambut yang mudah menyebarkan api di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Berdasarkan data, sebaran lahan gambut di wilayah OKI mencapai 640.000 hektare.
"70 Persen wilayah kami adalah lahan gambut. Pencegahan menjadi prioritas karena penanganan karhutla biaya lebih tinggi, waktu lebih lama, dan risikonya sangat besar," kata Muchendi.
Muchendi juga mengatakan karhutla yang terjadi setiap tahun menjadi pengalaman dalam antisipasi ke depan. Apalagi, wilayah terdampak karhutla di OKI termasuk paling luas dibanding daerah lain di Sumsel.
Selama status siaga darurat bencana asap berlangsung, ribuan personel disiagakan, mulai dari TNI, polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api.
"Dan tentunya, kami imbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar," kata Muchendi.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di Sumsel tahun ini datang lebih awal dan lebih lama ketimbang tahun lalu. Kondisi ini perlu diwaspadai seiring terjadinya karhutla yang terjadi setiap tahun.
Kepala BMKG Sumsel Wandayantolis mengatakan musim kemarau di wilayah ini dimulai Mei dan Juni 2026. Dari analisis Zona Musim (ZOM) periode 1991-2020, kemarau di provinsi itu akan lebih panjang dan lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.
Parahnya, kemarau datang lebih awal terjadi di daerah-daerah bagian selatan yang menjadi langganan karhutla parah, yakni OKI dan Ogan Ilir. Sementara itu, kemarau di Sumsel bagian barat, seperti Palembang, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, akan datang pada awal hingga pertengahan Juni 2026.
Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin juga masuk dalam daerah rawan karhutla karena memiliki lahan gambut yang cukup luas. Belum lagi di daerah-daerah itu terbentang areal perkebunan, baik milik perorangan maupun korporasi.
Kemarau di Sumsel diprediksi bersifat di bawah normal yang berarti curah hujan lebih rendah dari rata-rata, sementara puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































