Jejak Kemajuan Dirgantara di Langit Indonesia

Oleh: Suhendra - 22 Juni 2016
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia Air Show (IAS) 1986 diadakan untuk merayakan pesawat CN 235, hasil rancangan bersama Indonesia-Spanyol. IAS 1986 merupakan pameran udara skala internasional yang pertama digelar Indonesia. Pada waktu itu tak semua negara mampu menggelar pameran skala besar seperti Indonesia. Berselang 10 tahun, pesawat N250 lahir, IAS kembali digelar untuk merayakannya. Namun, sudah 20 tahun Indonesia absen unjuk gigi di pameran angkasa.
tirto.id - Tepat tiga tahun sebelum pameran dirgantara ternama, Dubai Airshow diselenggarakan, Indonesia sudah mampu menggelar pameran dirgantara skala internasional Indonesia Air Show (IAS) 1986. Pameran ini lebih didominasi sebagai ajang tampil kemampuan industri dirgantara nasional yang sedang naik daun di mata internasional.

Sejarah kemampuan orang Indonesia merakit pesawat nyaris seusia Republik Indonesia. Ketika Republik Indonesia baru saja berdiri, setidaknya Nurtanio Pringgoadisuryo dan kawan-kawannya dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sudah mulai membuat pesawat kecil jauh sebelum IAS 1986. Pesawat Si Kumbang yang dipajang di markas Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung adalah salah satunya.

Setelah kelahiran Si Kumbang, rentetan gemilang dunia industri dirgantara Indonesia terus berkembang. Nama-nama pesawat terbang rakitan dalam negeri makin bertambah, seperti helikopter Super Puma hingga pesawat terbang CN235.

Berawal dari CN235

Kembalinya BJ Habibie ke Indonesia pada 1973 merupakan masa penting bagi perkembangan industri pesawat terbang Indonesia. Habibie punya bekal pengalaman penting sebagai ahli industri pesawat di Masserschmitt Jerman, untuk dibawa pulang ke tanah air. Presiden Soeharto memintanya untuk memimpin industri dirgantara Indonesia.

Industri ini berawal dari Industri Pesawat Terbang Nurtanio di era Presiden Soekarno. Nurtanio merupakan salah satu perintis industri dirgantara Indonesia. Setelah kematian Nurtanio pada 1966, lembaga pembuatan pesawat yang semula bernama Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) berganti nama jadi Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (LIPNUR).

Setelah Habibie menjadi Presiden Direktur, pada 26 April 1976, LIPNUR berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Sebelum kedatangan Habibie, ketika IPTN masih berupa LAPIP, jenis pesawat yang dibuat adalah pesawat kecil. Pesawat Gelatik, yang merupakan lesensi dari PZL 104 Wilga dari Polandia, adalah pesawat yang berpenumpang paling banyak dari sebelumnya. Pesawat ini bisa memuat 4 orang, termasuk pilot.

Di bawah BJ Habibie, IPTN bekerja sama dengan CASA Spanyol memproduksi pesawat bersayap yang berpenumpang lebih banyak. IPTN juga menggandeng Bell untuk memproduksi helikopter. Pesawat C-212 dan Helikopter NBO-105 Helicopters, NAS 332 Super Puma dan Nbell-412 berhasil dirakit dan diproduksi di IPTN, Bandung, Jawa Barat.

Kerja sama IPTN dengan CASA makin berkembang. Di tahun 1980, IPTN dan CASA sepakat untuk bersama merancang CN235, sebuah pesawat berpenumpang 45 orang. Di tahun 1983, pesawat CN 235 Tetuko berhasil diterbangkan dan diproduksi massal.

Semenjak itu, Habibie memiliki ide untuk mengadakan pameran kedirgantaraan yang kemudian diberi nama bernama IAS 1986. Pameran ini berlangsung sejak 22 Juni-1 Juli 1986. Habibie, yang kala itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi merangkap Direktur IPTN, bertindak sebagai penanggung jawab pameran dirgantara pertama di Indonesia.

Pagi 23 Juni 1986, pameran yang diadakan di Lapangan Udara Kemayoran Jakarta Pusat ini dibuka oleh Presiden Soeharto. Meski relatif masih jarang, tapi Indonesia cukup sukses menggelar ajang akbar ini.

“Hari ini menjadi hari yang bersejarah, sebab mulai hari ini akan berlangsung pameran kedirgantaraan yang bersifat internasional yang tidak terlalu banyak negara yang dapat menyelenggarakannya,” kata Presiden Soeharto, saat memberikan sambutan, dikutip dari teks pidato dari laman soeharto.co.

Salah satu kesuksesan acara ini hadirnya pesawat-pesawat dari beberapa negara. Amerika misalnya, memamerkan pesawat jet militer Falcon 15, Perancis membawa Mirage 2000 dan Uni Soviet memamerkan An 124 Ruslan, yang dianggap pesawat paling besar di dunia kala itu. Tentunya ada aerobatik udara. Dari Angkatan Udara Inggris ada Red Arrows, yang tersehor seantero dunia. Sebanyak 260 perusahaan menghadiri acara ini yang digelar di kawasan seluas 50 hektar.

“Ini akan menjadi pameran dirgantara yang pertama di Asia Tenggara,” kata BJ Habibie dikutip dari flightglobal.com sebelum berlangsung acara IAS 1986.

Pada IAS 1986, fokus pemerintah waktu itu untuk mendemonstrasikan pada dunia luar dan bangsa Indonesia sendiri bahwa sudah menginjak era industri dirgantara. Hal itu terbukti dengan CN-235 hasil desain bersama dengan CASA Spanyol. Waktu itu idenya lebih banyak ditekankan kepada teknologi dengan dukungan dana sepenuhnya oleh pemerintah.



IAS 1996 Lebih Meriah

Setelah CN 235 rakitan Indonesia bersama CASA Spanyol sukses terbang Indonesia makin bersemangat membangun industri dirgantara. Hingga akhirnya IPTN berhasil menelurkan N250. Pesawat ini dianggap prestasi besar dirgantara Indonesia.

Nama Habibie, yang memimpin IPTN sebagai sosok utama di balik pesawat N250. Popularitas Habibie di Indonesia meningkat karena industri pesawat yang dianggap mulai jaya ketika usia Republik Indonesia mencapai 50 tahun pada 1995. Pada tahun itu juga, pesawat asli rancang bangun putra-putri Indonesia N250 berhasil mengudara untuk pertama kalinya (first flight) selama 55 menit pada 10 Agustus 1995.

Setahun setelahnya, pemerintah mencanangkan tahun bahari dan dirgantara. Tentu saja tahun yang tepat untuk mengadakan IAS yang kedua. Gagasan Habibie agar IAS bisa diadakan tiap sepuluh tahun sekali akhirnya terpenuhi. IAS 1996 tidak berlangsung di Lapangan Terbang Kemayoran yang tinggal sejarah. Melainkan di bandar udara Soekarno-Hatta, Tangerang. Pameran ini berlangsung dari 22 Juni hingga 30 Juni 1996.

Dalam pameran ini, selain N250 beberapa besawat dari negara lain juga dipamerkan. Ada pesawat penumpang besar Boeing 777 dari Amerika, pesawat jet supersonic legendaris Concorde hadir, pesawat penumpang besar Airbus A340 dari Perancis, pesawat tempur Sukhoi Su-30 dan Ilyusin IL-76 andalan Rusia, juga Pesawat militer Amerika yang tak bisa dideteksi radar, F-117 buatan Lockheed alias "siluman" ikut meramaikan Indonesia Air Show 1996.

Dalam acara pembukaan, sebanyak 23 penerjun dari Angkatan Udara unjuk kebolehan. Tiap penerjun membawa satu bendera peserta IAS 1996 itu. Beberapa atraksi udara juga memeriahkan IAS 1996. Dari tim aerobatik Angkatan Udara Inggris ada Red Arrows dan Golden Dreams. Ada Thunderbird dari Angkatan Udara Amerika. Indonesia juga tak ketinggalan menampilkan tim aerobatiknya, "Elang Biru" yang menggunakan 6 pesawat tempur F-16.

Ajang IAS kedua ini jauh lebih meriah daripada kegiatan sepuluh tahun sebelumnya. Maklum saja untuk kali pertama pesawat “murni” buatan Indonesia dipamerkan di mata dunia. Seratus empat belas pesawat dari 22 negara peserta digelar di pelataran parkir IAS 1996.

Di balik dari pamer teknologi itu, tentu saja ada yang lebih penting. Bukan perkara jadi yang paling unggul bagi Indonesia. Ada keuntungan ekonomis yang diraih pemerintah Indonesia. Setidaknya transaksi yang dilakukan mencapai 4,48 miliar dolar AS atau sekitar Rp10,304 triliun. Senilai 2,73 miliar dolar AS merupakan transaksi dengan IPTN dan 1,75 miliar dolar AS dengan perusahaan nasional lainnya.

Kesuksesan Indonesia menggelar dua airshow skala internasional pada masa lalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi perjalanan industri dirgantara Indonesia. Namun, apakah hanya cukup menjadi kenangan manis saja? Kita tunggu Indonesia Airshow ketiga, di mana pesawat N219 dan R80 bisa mengudara beberapa tahun ke depan, mengulang capaian CN235 dan N250.

Yang paling penting, bukan perkara Indonesia mampu membuat pesawat lalu dan memamerkannya, tapi bagaimana industri dirgantara Indonesia tetap berkelanjutan. Pameran udara hanya sebagai pendukungnya.

Baca juga artikel terkait EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight