tirto.id - “Charlotte, bintang kecilku yang besar. Segera setelah aku tiba di tempat yang indah, lelah, aku akan memikirkanmu, menikmati pemandangan, dan dengan sedikit keberuntungan, berburu babi hutan kecil.”
Itulah surat terakhir yang ditulis Bruno Manser untuk kekasihnya, Charlotte Belet, sebelum menghilang di hutan hujan Sarawak, di jantung Pulau Borneo.
Bertahun-tahun sebelumnya, ia datang ke Asia Tenggara, meninggalkan gemerlap Eropa, menetap bersama suku Penan di Sarawak, hidup nomaden di rimba Kalimantan, hingga identitasnya melebur ke dalam ritme, keyakinan, dan kosmologi masyarakat yang ia bela.
Pada masa itu, di tengah laju pembalakan hutan masif, ia mengorganisasi perlawanan damai bersama orang Penan, menghadapi intimidasi aparat dan tekanan politik pemerintah Malaysia. Hingga akhirnya, ia lenyap ditelan rimba Kalimantan, meninggalkan warisan perlawanan bagi masyarakat adat.
Genesis Seorang Pemberontak
Lahir dari keluarga mapan pada 25 Agustus 1954 di Basel, Swiss, Bruno Manser merasa tidak cocok dengan masyarakat modern yang kaku dan materialistis. Ia lebih tertarik pada alam liar. Ia bahkan pernah berkemah di halaman rumah saat badai salju, seolah ingin menguji batas tubuhnya dan merasakan kedekatan langsung dengan alam.
Masa remajanya banyak menyerap gagasan pasifisme Gandhi, Taoisme, hingga Zen, mencari makna di luar agama dan struktur sosial Swiss. Salah satu insiden yang menyingkap kenekatannya terjadi di kelas tujuh, saat ia sengaja menelan biji kecubung gunung (morning glory) yang mengandung zat halusinogen. Hal itu membuatnya jatuh sakit dan tak bisa melanjutkan sekolah.
Pada usia 19 tahun, ia ikut wajib militer, tetapi menolak memegang senjata. Itu merupakan pelanggaran serius di Swiss sehingga ia dijatuhi hukuman empat bulan penjara. Alih-alih menjadi lemah, ia justru meneguhkan pandangannya bahwa kebebasan sejati tak bisa dibatasi hukum negara.
Selepas penjara, ia masuk sekolah kedokteran. Namun itu membuatnya merasa terasing. Ia pun memilih kembali ke kehidupan agraris, dekat dengan tanah dan siklus alam.
Manser pindah ke wilayah yang disebut Graubünden, mendaftar di sekolah pertanian, lalu menghabiskan 12 tahun sebagai penggembala sapi di padang rumput Alpen. Di sana ia belajar bertahan hidup, dari membuat keju tradisional, merawat ternak, memperbaiki alat, hingga menghadapi cuaca ekstrem.
Tubuhnya terlatih menghadapi dingin, lapar, dan lelah, sementara keterampilan tangannya berkembang, dari menjahit pakaian hingga membuat peralatan sendiri. Minatnya pada speleologi juga tumbuh, memberinya kemampuan menjelajah ruang gelap dan sempit.
Meski hidup di Alpen membentuk fisik dan mentalnya, ia merasa masih mencari sesuatu yang lebih mendasar. Ia mendambakan masyarakat yang hidup sepenuhnya selaras dengan alam, tanpa uang, tanpa akumulasi, tanpa hierarki. Obsesi itu membawanya ke perpustakaan, menekuni literatur antropologi, hingga akhirnya menemukan peta Borneo dan kisah tentang suku Penan yang misterius.
Uji Nyali Menuju Timur
Pada 1983, di usia 30 tahun, Bruno Manser memulai perjalanannya dari Bangkok, menempuh jalur kereta. Sebelum menyeberang ke Sarawak, ia mencoba bertahan hidup di sebuah pulau tak berpenghuni dekat Trengganu, salah satu negara bagian di Malaysia. Selama enam minggu ia mencoba hidup sepenuhnya dari alam, tanpa teknologi modern, tanpa perbekalan, tanpa pengetahuan lokal. Beberapa kali ia mengalami demam, bahkan sempat keracunan karena memakan tanaman beracun.
Pada 1984, Manser tiba di Kuching, Sarawak. Akses ke pedalaman, terutama Taman Nasional Gunung Mulu, sangat dibatasi. Dengan kecerdikan, ia bergabung dengan tim ekspedisi gua dari Inggris, menggunakan pengetahuan speleologi-nya sebagai "akses masuk".
Setelah ekspedisi itu selesai, ia beranjak ke hutan hujan primer, meninggalkan dunia modern, hanya bermodal ransel dan tekad baja. Tujuannya menemukan suku Penan, kelompok nomaden terakhir yang selama ini hanya ia kenal lewat literatur.

Manser menghabiskan berminggu-minggu sendirian. Saat akhirnya bertemu suku Penan, orang-orang tersebut curiga. Hambatan bahasa membuat komunikasi sulit. Namun sikap Manser berbeda. Ia datang tanpa senjata, tanpa barang dagangan, tanpa sikap menggurui. Ia menempatkan diri sebagai murid. Kesediaannya makan apa pun yang mereka makan dan tidur beralaskan tanah, tanpa menuntut perlakuan khusus, membuatnya perlahan diterima—meskipun sempat berminggu-minggu ia hanya membuntut di belakang suku nomaden tersebut, tanpa ada yang mengindahkan.
Dari 1984 hingga 1990, ia hidup sepenuhnya sebagai bagian dari Penan. Ia meninggalkan pakaian Barat, memotong rambut dengan poni tradisional, mengenakan cawat dari kulit kayu, berjalan tanpa alas kaki.
Ia diberi nama “Laki Penan” oleh tetua Along Sega, pengakuan bahwa ia telah menyatu dengan cara hidup mereka. Ia juga belajar bahasa Penan secara otodidak, mencatat kosakata dan tata bahasa.
Dalam dokumenter Bruno Manser – Laki Penan (2007), ia berpuasa di gua selama berminggu-minggu. Wawasan terpenting yang ia peroleh adalah konsep molong, tidak mengambil lebih dari yang diperlukan. Prinsip ini bagian dari spiritualitas dan hukum adat Penan. Sumber daya hutan dijaga demi keseimbangan, bukan dieksploitasi habis-habisan.
Ia juga mencatat ketiadaan kepemilikan pribadi yang kaku. Hasil buruan dibagi rata untuk semua anggota kelompok. Hidup dalam masyarakat egaliter yang damai ini mengkristalkan keyakinan politik dan ekologis Manser. Bahwasanya dunia modern telah kehilangan sesuatu yang mendasar tentang kemanusiaan.
Invasi Industri Kayu dan Pelarian
Pada pertengahan 1980-an, deru gergaji dan buldoser menembus hutan hulu Limbang dan Baram, memecah ketenangan hutan. Perusahaan kayu besar, seperti Samling, yang dekat dengan elit politik Sarawak, mendapat konsesi resmi untuk menebang hutan primer, rumah leluhur Penan.
Manser menyaksikan langsung dampak deforestasi. Hutan teduh berubah tandus dan panas. Sungai jernih menjadi cokelat berlumpur akibat erosi. Ikan-ikan mati. Pohon sagu sebagai sumber pangan utama digilas buldoser untuk jalan logging. Pohon buah dan Tajem ditebang tanpa pandang bulu. Situs pemakaman leluhur digusur. Hewan buruan lari jauh ke pedalaman.
Dalam Voices from the Rainforest (1996:72), Manser merekam kesaksian Penan yang putus asa melihat dunia mereka hancur. “Hal ini memecah belah komunitas yang bersangkutan dan menurunkan kualitas hidup: mencemari air minum, merusak lahan,” tuturnya.
Pada September 1985, di bawah koordinasi Manser dan kepemimpinan adat Along Sega, Penan memblokade jalur penebangan kayu. Ratusan pria, wanita, dan anak-anak, berdiri menghadang buldoser dan truk, membentangkan rotan dan kayu, menjadikan tubuh mereka sebagai barikade.
Blokade tersebut menghentikan operasi penebangan selama berbulan-bulan dan menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Negara merespons dengan keras. Polisi, Pasukan Polisi Hutan, dan tentara, dikerahkan untuk membongkar blokade. Penangkapan massal terjadi, disertai intimidasi dan kekerasan.
Pemerintah Sarawak di bawah Tan Abdul Taib Mahmud melabeli Manser “Musuh Negara Nomor Satu". Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menganggapnya memiliki “arogansi Eropa yang tak tertahankan” dan menuduhnya ingin membiarkan Penan hidup “seperti hewan” demi romantisisme Barat. Taib menuduhnya melakukan “kolonialisme lingkungan” dan mencampuri urusan internal negara berdaulat.
“Orang-orang ini datang ke Sarawak dan tinggal di hutan, lalu menasihati masyarakat kami untuk tidak menerima pembangunan... bahwa pemerintah kami korup karena ingin membawa pembangunan. Mereka mengatakan kepada penduduk asli bahwa mereka harus tetap seperti apa adanya agar para antropolog dari Eropa dapat datang dan mempelajari masyarakat primitif kami,” tutur Mahathir, dikutip oleh James Ritchie dalam bukunya, Bruno Manser: The Inside Story James Ritchie (1994:113).
Selama 1986 hingga 1990, Manser hidup dalam pelarian di hutan bersama kelompok Penan. Mereka berpindah dari satu kamp tersembunyi ke kamp lain untuk menghindari penangkapan.
Pada 1990, pemimpin Penan banyak ditangkap, blokade dihancurkan dengan kekerasan, dan ruang gerak Manser dipersempit. Ia sadar perjuangan di hutan saja tidak cukup. Dunia luar harus tahu.
Dengan berat hati, ia meninggalkan hutan, lalu kembali ke Swiss untuk membawa suara mereka ke forum internasional. Pelariannya dramatis, mirip film-film fiksi; ia menggunakan paspor palsu, mencukur rambut, mengenakan jas, dan berhasil melewati pemeriksaan imigrasi ketat, sebelum terbang kembali ke Eropa.

Konfrontasi dan Perjalanan Akhir
Setibanya di Basel pada 1991, Manser langsung mendirikan Bruno Manser Fonds (BMF), organisasi yang fokus pada pelestarian hutan hujan tropis dan pembelaan hak-hak masyarakat suku Penan. Rumah sederhananya di Heuberg 25, Basel, menjadi markas. Melalui BMF, ia menulis buku, menggelar tur ceramah, dan melobi politisi Eropa.
Pada 1993, bersama Martin Vosseler, ia melakukan aksi mogok makan selama 60 hari di depan Gedung Parlemen Swiss di Bern. Tuntutannya adalah moratorium impor kayu tropis dan kewajiban deklarasi asal kayu untuk semua produk. Aksi ini membuatnya kehilangan berat badan drastis, bahkan hampir meninggal.
Seturut Keith Harmon Snow dalam “Manser, Bruno (1954–2000) and the Penan of Sarawak “ di buku The Encyclopedia of Religion and Nature (2005:1046), Manser dengan tepat menyadari bahwa kebijakan ekonomi negara-negara industri maju akan menentukan masa depan masyarakat adat, termasuk suku Penan.
Memasuki 1999, meski dilarang masuk Malaysia, ia kembali menyelinap ke Kuching dengan menyamar sebagai pengusaha. Mengenakan jas pernikahan saudaranya yang kedodoran, ia membawa perlengkapan paralayang bermotor. Pada hari Idulfitri, ia terbang di atas kota, melayang tepat di atas kediaman Kepala Menteri, Tan Sri Taib Mahmud.
“Sebuah tim polisi dan petugas Imigrasi yang menunggu segera membawa Manser, yang mengenakan kaos bergambar domba, ke dalam kendaraan roda empat yang terlihat menuju pusat kota,” tulis koran New Straits Times terbitan 30 Maret 1999.
Manser pun ditangkap, lalu dipenjara, sebelum dideportasi kembali ke Swiss. Meski begitu, aksi tersebut mempermalukan aparat keamanan Malaysia dan meninggalkan pesan kuat bahwa tembok kekuasaan bisa ditembus oleh tekad satu orang.
Pada awal 2000, kabar bahwa penebangan mendekati Batu Lawi, kawasan suci bagi Penan, membuat Manser diliputi rasa bersalah dan kerinduan. Ia memutuskan kembali ke Sarawak, kali ini menempuh jalur darat melalui Kalimantan, menyeberangi perbatasan hijau menuju Sarawak. Ia sempat ditemani Sekretaris BMF, John Kuenzli, sebelum melanjutkan perjalanan sendirian.
Setelah mengirim surat terakhir untuk kekasihnya di Swiss, dengan sketsa sederhana sebagai tanda perpisahan, Bruno Manser berjalan menuju Batu Lawi bersama Paleu (orang Penan) dan anaknya.
Pada 25 Mei 2000, ia meminta mereka berhenti di kaki gunung karena ingin mendaki puncak keramat itu seorang diri. Sejak saat itu, Manser lenyap di hutan lebat Batu Lawi dan tidak pernah terlihat lagi.
Hilangnya Bruno Manser memunculkan spekulasi yang tak pernah terpecahkan. Ada yang meyakini ia mengalami kecelakaan fatal di medan curam dan licin. Teori lain, yang paling banyak dipercaya pihak keluarga, BMF, dan komunitas Penan, berlandaskan pada dugaan bahwa Manser merupakan buronan dengan harga di kepalanya. Apalagi, kawasan itu dipenuhi oleh penebang liar, tentara, serta preman perusahaan. Bahkan, orang dari suku Penan pernah melaporkan, mereka mendengar suara helikopter dan melihat jejak sepatu bot militer di sekitar waktu hilangnya Manser.
Ada pula spekulasi yang bilang bahwa Manser memilih bunuh diri atau menghilang sukarela, menyatu dengan hutan yang ia cintai, meski surat-surat dan rencana masa depan bersama BMF melemahkan kemungkinan ini.
BMF bersama Penan meluncurkan ekspedisi pencarian besar-besaran, menyisir hutan Batu Lawi dengan teliti. Namun tidak ditemukan pakaian, tulang, atau peralatan logam. Manser seolah-olah menguap. Pada 10 Maret 2005, setelah lima tahun tanpa kabar, Pengadilan Sipil Basel-Stadt secara resmi menyatakan Bruno Manser meninggal dunia.
Warisan paling nyata dari visinya adalah proyek Pemetaan Komunitas oleh BMF yang mendokumentasikan hampir 10.000 kilometer persegi wilayah adat, mencatat lebih dari 7.000 sungai, 1.800 pegunungan, serta ribuan situs pohon sagu dan kuburan leluhur dengan nama asli Penan. Pada 2019, proyek tersebut meraih penghargaan internasional Prix Carto dan kini menjadi bukti utama dalam tuntutan hukum Hak Adat Bumiputera di Malaysia.
Meskipun jasadnya tak pernah ditemukan, jejak Manser terukir di setiap peta wilayah adat yang digambar BMF, di setiap keputusan pengadilan yang memenangkan hak tanah adat, dan di dalam ingatan kolektif suku Penan.
Seperti kata Along Sega, sang mentor, sebelum kematiannya pada 2011: “Saat Bruno tinggal bersama kami, dia membantu kami melindungi hutan. Sekarang kami harus berjuang sendiri. Tanpa bantuan dari luar, ini sangat sulit.”
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id






























