tirto.id - Pertanyaan apa mobil sejuta umat di Indonesia? biasanya dapat dijawab dengan mudah. Sebab, jawabannya memang biasanya berkisar di mobil yang itu-itu saja. Dulu Toyota Kijang merajai pasar, sebelum dilanjutkan oleh Avanza, yang juga keluaran Toyota. Belakangan, seiring dengan makin ditinggalkannya LCGC, Innova yang merupakan suksesor spiritual Kijang pun sempat menjadi mobil sejuta umat di negeri ini.
Praktis, nyaris sepanjang 2025, Innova selalu memimpin klasemen mobil terlaris di tanah air. Dari Januari sampai September, posisinya tak pernah tergoyahkan, meskipun ada opsi-opsi yang lebih ekonomis, seperti Daihatsu Sigra, Avanza, dan Calya, yang merupakan MPV entry level Toyota.
Namun, memasuki Oktober 2025, sebuah guncangan besar terjadi. Untuk pertama kalinya sepanjang tahun, penjualan mobil di Indonesia tidak lagi dipimpin oleh Innova, tidak pula oleh mobil berjenis MPV, melainkan mobil listrik (electronic vehicle/EV). Sepanjang Oktober hingga November 2025, mobil terlaris di negeri ini adalah BYD Atto 1, yang baru diluncurkan Juli lalu.
Gaikindo mencatat, pada Oktober 2025, penjualan BYD Atto 1 mencapai 9.396 unit, jauh meninggalkan Innova yang "hanya" laku 4.913 unit. Adapun pada November, BYD Atto 1 terjual 8.833 unit, sementara Innova tertahan di angka 4.475 unit. Padahal, sebulan sebelumnya, September 2025, BYD Atto 1 bahkan tidak masuk dalam daftar 10 besar.
Melejitnya BYD Atto 1 sebagai mobil terlaris mencerminkan adanya dua pergeseran tren.
Pertama, harus diakui, EV makin diminati. Dua tahun lalu, market share EV di Indonesia baru menyentuh angka 2 persen. Kini, market share-nya telah mencapai 12 persen. Dari sekian banyak mobil listrik yang terjual itu, seperempatnya tersebar di Jabodetabek.
BYD menjadi aktor krusial di balik meroketnya penjualan EV di Indonesia. Meskipun baru masuk ke Indonesia pada 18 Januari 2024, pabrikan yang berbasis di Shenzhen itu langsung mampu merangsek ke puncak klasemen penjualan EV. Sepanjang 2025 saja (Januari-November), mobil BYD telah terjual 40.151 unit, jauh meninggalkan Chery yang ada di posisi kedua dengan penjualan 17.931 unit. Hebatnya lagi, jenama premium milik BYD, Denza, juga bisa bertengger di lima besar berkat 7.176 unit mobil yang berhasil mereka jual.
Kedua, soal jenis mobil. Dalam beberapa tahun terakhir, prediksi bahwa SUV bakal menggeser MPV di Indonesia sering kali muncul dan hal ini memang sudah terbukti dengan keberhasilan SUV mengalahkan MPV pada 2021-2022 lalu. Namun, larisnya BYD Atto 1 menunjukkan bahwa, ternyata, masih ada tempat untuk city car di hati masyarakat Indonesia.
BYD di Tengah Demam Mobil Listrik
Sudah cukup lama sejak city car menjadi mobil idola konsumen di tanah air, dan hadirnya BYD Atto 1 jelas merupakan angin segar di tengah besarnya minat terhadap mobil-mobil bongsor. Namun, apa sebenarnya yang membuat BYD Atto 1 tak hanya memimpin penjualan EV tetapi juga mobil di Indonesia secara keseluruhan?
Pertama-tama, kita harus tengok soal harga beserta kompetitornya. Sebagai mobil yang versi termurahnya dijual di bawah Rp200 juta, BYD Atto 1 memang membidik konsumen yang biasanya bakal membeli mobil LCGC. Saat ini, mobil-mobil LCGC saat ini dijual di angka Rp150-160 jutaan. Sementara itu, BYD Atto 1 varian Dynamic (paling bawah), dibanderol Rp199 juta.
Sepintas, terlihat ada perbedaan harga signifikan antara rata-rata harga LCGC dan BYD Atto 1 varian terbawah. Namun, perlu dicatat bahwa sebenarnya ada juga mobil LCGC yang harganya bahkan di atas BYD Atto 1 Dynamic, yaitu Honda Brio Satya E CVT, dengan harga on the road Rp202,5 juta.
Nah, Honda Brio Satya E CVT, yang bisa dikategorikan sebagai city car ini, dapat dikatakan sebagai "versi semi-premium" dari seri Brio Satya. Segmen pembeli inilah yang secara khusus diincar oleh BYD Atto 1, yakni mereka yang belum benar-benar mampu membeli mobil kelas menengah tetapi sudah mampu membeli LCGC level atas. Kurang lebih, yang ditawarkan BYD adalah: "Sama-sama keluar duit Rp200 juta, Anda pilih mana? EV atau LCGC?"
Dengan harga segitu, BYD Atto 1 sudah memberikan banyak hal yang tidak mampu diberikan Honda Brio Satya E CVT. Contohnya: unit entertainment 10,1 inci yang kompatibel dengan Apple CarPlay dan Android Auto, panel instrumen 7 inci yang menyajikan informasi tentang mobil, cruise control, parking sensor berkamera, sistem monitor tekanan ban (TPMS), brake assist, airbag yang lebih banyak, serta keyless entry.
Bahkan, ketika Atto 1 Premium (Rp235 juta) dibandingkan dengan Brio Satya varian teratas (Rp263,2 juta) sekalipun, fiturnya masih tidak kalah.

Selain soal fitur, BYD Atto 1 sebagai EV menawarkan keunggulan lain, yaitu efisiensi pengeluaran "bahan bakar". Ada dua opsi pengisian daya BYD Atto 1, yaitu di SPKLU dan di rumah (home charging).
Di SPKLU, biayanya Rp2.360 per kWh. Untuk menempuh 40 km/hari, biaya total tahunannya hanya Rp4,45 juta. Dengan home charging, total biaya tahunan untuk isi daya malah hanya Rp2,45 juta. Di sisi lain, untuk mobil konvensional seperti Brio Satya E CVT, dengan jarak tempuh sama, biaya yang mesti dikeluarkan bisa mencapai Rp7,2 juta per tahun, itu pun kalau bensinnya Pertalite.
Tentu saja, selain keunggulan value for money dan efisiensi biaya pengisian daya, ada satu faktor lain yang tak bisa dipisahkan dari kesuksesan BYD Atto 1, yaitu keseriusan BYD menggarap pasar Indonesia. Sampai akhir 2025, mereka menargetkan punya 100 dealer di seluruh Indonesia dengan pelayanan mencakup 3S (sales, service, sparepart) dan stasiun pengisian daya.
Tak cuma itu, pabrik lokal BYD di Subang juga tak lama lagi bakal beroperasi. Saat ini semua mobil BYD di Indonesia masih didatangkan dengan skema CBU alias diimpor utuh dari Tiongkok. Dengan skema begitu saja harganya bisa murah meriah. Bayangkan yang terjadi jika pabrik perakitan BYD nanti dilakukan sepenuhnya di Indonesia! Perlu dicatat pula, BYD sudah menjadikan Atto 1 sebagai prioritas di pabriknya kelak.
Pemerintah: Cukup Subsidinya, Sekarang Beli Mandiri!
Namun, di tengah segala euforia itu, ada satu hal yang sedikit mengganjal, yakni soal subsidi EV yang digadang-gadang bakal berakhir pada 31 Desember 2025. Artinya, mulai tahun depan, harga semua mobil listrik bakal mengalami "normalisasi" dan, normalnya, harga BYD Atto 1 bisa mencapai lebih dari Rp300 juta.
Fenomena itu memicu kekhawatiran tersendiri bagi para pelaku industri EV, termasuk BYD yang, sampai kini, masih berharap insentif EV dilanjutkan. Meskipun nantinya mobil-mobilnya bakal dirakit secara lokal, harga jualnya hampir bisa dipastikan takkan bisa sama dengan harga subsidi.
Dari sini, kita mungkin boleh bersikap sedikit skeptis soal melonjaknya penjualan BYD Atto 1 sepanjang Oktober-November 2025. Boleh jadi, lonjakan itu merupakan aji mumpung sebelum harga EV mengalami normalisasi per 1 Januari 2026. Apabila memang subsidi tidak dilanjutkan, ada kemungkinan BYD Atto 1 masih akan merajai penjualan mobil nasional pada Desember 2025, tetapi setelah itu angkanya berpotensi merosot tajam.
Namun, bisa jadi juga penurunan yang terjadi tidak sedrastis itu. Sebab, saat ini, penetrasi EV sudah mencapai 12 persen. Artinya, sudah makin banyak orang yang menjajal mobil listrik dan, dari sini, tak menutup kemungkinan pemasaran tradisional dari mulut ke mulut akan membuat penjualan EV terjaga.
Apalagi, infrastruktur EV juga bukan lagi barang langka. Dengan begitu, selama mampu menjaga kualitas produknya, seharusnya para produsen tak perlu khawatir akan adanya penurunan besar-besaran karena mereka sudah punya segmen pasar, dan itulah yang harus dijaga baik-baik.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































