Kebijakan Energi

Menguji Emisi Karbon Mobil Listrik yang Disebut Lebih Tinggi

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 24 Okt 2023 06:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
KPBB sebut jika dilihat dari efisiensi energi per unit kendaraan, BEV lebih efisien dengan segala sumber listrik yang digunakan (batu bara, LNG dan PLTA).
tirto.id - Hasil kajian McKinsey and Company menyebutkan emisi karbon mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid dan konvensional. Hal ini karena proses pembuatan baterai BEV mengeluarkan emisi sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding (mobil) hybrid dan bensin karena proses ekstraksi mineral lithium, kobalt dan nikel.

Merujuk kajian tersebut, untuk mencapai dekarbonisasi ekosistem mobil listrik diperlukan energi listrik terbarukan dengan mengurangi bauran sumber listrik dari fosil baik untuk energi kendaraan listrik juga pemprosesan mineral untuk pembuatan baterai itu sendiri.

Selanjutnya, perlu ada fasilitas daur ulang (recyling) baterai yang tersedia sehingga baterai bekas kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dapat didaur ulang atau dijadikan energi penyimpanan sekunder, sehingga ekosistem end to end dari KBLBB dapat terbentuk.

Sebuah jaringan Supply Chain juga menyebutkan bahwa mobil listrik secara agregat menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi daripada Supply Chain mobil bahan bakar fosil.

Proses produksi mobil listrik itu sendiri menghasilkan emisi yang lebih besar daripada memproduksi mobil berbahan bakar fosil, terutama energi untuk produksi baterainya itu sendiri. Emisi yang lebih besar ini tidak serta-merta dapat “ditebus” dari efisiensi emisi ketika mengendarai mobil listrik.

Selain itu, proses produksi baterai mobil listrik membutuhkan material kobalt dan lithium, di mana sejak penambangannya, proses produksi, transportasi, membutuhkan energi yang besar dan menjadi sumber penghasil emisi karbon dari Supply Chain mobil listrik.

Namun kajian life cyle emision oleh Polestar dan Rivian 2021 di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Pasifik yang dilaporkan pada Polestar and Rivian Pathway Report (2023), menyatakan emisi yang dihasilkan kendaraan listrik lebih rendah, yaitu 39 tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e), dibandingkan kendaraan listrik hybrid (HEV) sebesar 47 tCO2e, dan kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE) yang mencapai 55 tCO2e.

“Angka emisi ini berbeda tidak terlalu jauh per ton CO2 per km-nya jika bersamaan bensin yang digunakan lebih bio atau green fuel,” ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, R Hendro Martono, Sabtu (21/10/2023) sebagaimana dikutip Antara.

Roadmap EV yang dibuat Kemenperin serta langkah strategis untuk mencapai net zero emission lebih cepat dari target pemerintah 2060 melalui sektor alat transportasi yang mengarah pada green mobility.




Stasiun pengisian kendaraan listrik untuk KTT AIS Forum
Petugas PLN memeriksa jaringan listrik di area stasiun pengisian daya untuk baterai kendaraan listrik Central Parkir ITDC Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (2/10/2023). Sebanyak 12 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging 200 kW, 10 unit SPKLU Slow Charging, dan 20 unit Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) Gen 2 disiapkan di Nusa Dua untuk pengisian daya kendaraan listrik pengangkut delegasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum 2023. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/tom.


Hendro menekankan bahwa life cycle emissions menunjukkan jumlah total gas rumah kaca dan partikel yang dikeluarkan selama siklus hidup kendaraan mulai dari produksi hingga penggunaan dan pembuangan (disposal), ditunjukkan dengan satuan tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e).

“Masih adanya emisi ini sangat tergantung dari input energi bahan bakar dari hulu maupun hilir (kendaraan itu sendiri) dan secara gradual akan menurun jika bahan input ini dilakukan secara green fuel,” kata dia.

Ia menyayangkan kritikan sejumlah pihak yang tidak memahami konteks secara tidak utuh. Ia menyarankan agar mereka melihat peta jalan KBLBB atau roadmap EV yang dibuat Kemenperin serta langkah strategis untuk mencapai net zero emission lebih cepat dari target pemerintah 2060 melalui sektor alat transportasi yang mengarah pada green mobility.

Lewat peta jalan tersebut, pemerintah menargetkan untuk mendorong porsi kendaraan listrik roda dua dan empat yang lebih banyak di 2035 dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.

Guna mendorong percepatan EV, Kemenperin bersama Kemenko Kemaritiman dan Investasi (Marves) tengah merevisi Perpres 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan, agar menarik bagi pabrikan EV untuk masuk ke Indonesia.

“Hal itu diperlukan untuk memperkuat suplai agar masyarakat juga dapat menikmati kendaraan listrik dengan harga terjangkau. Selain itu, pabrik baterai yang direncanakan mulai beroperasi pada 2025 dapat menekan harga kendaraan EV mengingat faktor biaya terbesar ada di komponen baterai,” kata Hendro.

Hendro menegaskan, Kementerian Perindustrian sebagai pemangku kebijakan senantiasa bekerja keras mewujudkan green mobility. Ia berharap para pemangku kepentingan tidak mengolah opini dari potongan-potongan pernyataan tanpa disertai pemahaman konteks secara utuh, mendidik dan konstruktif.

“Kami memiliki kewajiban untuk memberikan koreksi pemberitaan yang dilengkapi dengan naskah teknokratis atas opini yang keliru serta cenderung menyudutkan,” tegas Hendro.


Kendaraan listrik delegasi KTT ASEAN
Sejumlah kendaraan listrik delegasi KTT ASEAN terparkir di area Parkir Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (1/9/2023). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/foc.

Emisi Karbon Mobil Listrik Jelas Lebih Rendah?

Direktur Eksekutif Energy Watch, Daymas Arangga Radiandra menjelaskan, dalam beberapa hasil kajian menyebutkan bahwa sudah jelas mobil listrik emisi karbonnya lebih rendah daripada mobil konvensional.

Penelitian dari Universitas Cambridge, Exeter, dan Nijmegen pada 2019 misalnya, menunjukkan bahwa di 95 persen lokasi di dunia mengendarai mobil listrik lebih ramah lingkungan dibandingkan mengendarai mobil berbahan bakar fosil.

Mobil listrik menghasilkan emisi 200 gr CO2 per mil (per 1,6 kilometer), dibandingkan mobil bahan bakar fosil sebesar 275 gr CO2 per mil. Mobil listrik ini memperoleh energi dari baterai yang dapat di-charge.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2017, bahkan mobil listrik murni (EV) menghasilkan 0 gram/km emisi CO2. Sementara mobil listrik Plug in Hybrid (PHEV) atau mobil dengan kombinasi dari BBM dan baterai yang dapat diisi ulang di luar sistem mesin menghasilkan 45 gram/km emisi CO2.

Selain itu, mobil listrik hybrid (HEV) menghasilkan emisi CO2 sebesar 70 gram/km. Emisi tersebut lebih tinggi karena mobil HEV masih mengandalkan bensin yang dikombinasikan dengan baterai yang diisi dari putaran mesin. Adapun mobil konvensional berbahan bakar bensin menyumbang 125 gram/km emisi CO2.

Sementara itu, kajian PT PLN (Persero) menyebutkan menggunakan kendaraan listrik masyarakat sudah turut berkontribusi untuk mengurangi emisi 56 persen. Sebagai gambaran, 1 liter bahan bakar minyak (BBM) setara dengan 1,2 kilowatt hour (kWh) listrik. Emisi karbon 1 liter BBM setara dengan 2,4 kilogram (kg) CO2e, sedangkan 1,2 kWh listrik emisinya setara 1,02 kg CO2e.

Selain ramah lingkungan, keunggulan kendaraan listrik adalah lebih hemat. Sebagai gambaran, mobil dengan BBM dengan jarak tempuh 10 kilometer (km) menghabiskan 1 liter BBM, sedangkan mobil listrik dengan jarak sama menghabiskan 1,2 kWh.

Maka, dengan asumsi tarif listrik sebesar Rp1.699,53 per kWh, hanya diperlukan sekitar Rp2.500 untuk mobil listrik dan sekitar Rp14 ribu untuk mobil BBM dalam menempuh jarak 10 km. Dengan begitu menggunakan mobil listrik lebih hemat sekitar 75 persen dari pada menggunakan mobil BBM.

“Dalam kajian-kajian yang dibuat oleh institusi dan konsultan sudah jelas mobil listrik emisi karbonnya lebih rendah,” kata Daymas kepada reporter Tirto, Senin (23/10/2023).

Daymas menuturkan, perlu dipahami bersama saat ini adalah bagaimana ekosistem hulu ke hilir kendaraan listrik, mulai dari diproduksi, beroperasi hingga demolisasi. Bagaimana rantai emisi yang terproduksi dan tereduksi dibandingkan dengan mobil konvensional.

Apabila itu sudah dipahami, barulah bisa menyimpulkan, berapa jumlah emisi karbon yang dihasilkan oleh mobil listrik atau hybrid atau konvensional selama mobil itu dibuat, hingga tidak dapat dipakai lagi.

Hal senada disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi. Dia menyebut emisi karbon mobil listrik masih lebih rendah dibandingkan mobil konvensional atau mobil hybrid sekalipun. Apalagi mobil listrik menjadi salah satu solusi untuk mencapai zero emission pada 2030.

Indonesia baru-baru ini diketahui mendeklarasikan target penurunan emisi. Dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) terbaru, Indonesia menaikkan target pengurangan emisi menjadi 31,89 persen di 2030 dengan target dukungan internasional sebesar 43,20 persen.

"Itu syaratnya semua kendaraannya konvensional sudah diganti dengan mobil listrik,” kata Fahmy kepada reporter Tirto, Senin (23/10/2023).


Melihat Efisiensi Energi Per Unit Kendaraan

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safrudin menjelaskan, jika dilihat dari efisiensi energi per unit kendaraan, BEV lebih efisien dengan segala sumber listrik yang digunakan (batu bara, LNG dan PLTA). Ini selaras dan mencerminkan emisi yang lebih rendah yang dimiliki BEV dibandingkan kendaraan BBM.

Berdasarkan hitungan dia, energi kendaraan BBM yang ada pada tanki kendaraan hanya 46 persen saja yang benar-benar terpakai untuk menggerakkan roda di jalan. Selebihnya hilang pada proses transfer BBM dan proses pembakaran di ruang pembakaran, digunakan untuk auxiliary electricity, drivetrain losses dan parasitic losses. Sementara total aggregate energi losses pada kendaraan listrik adalah 11 persen dengan perhitungan total energi loss 31-35 persen.

Namun demikian, dengan teknologi regenerative braking system, maka BEV dapat memanen 22 persen energi dengan menangkap kembali energi saat terjadi proses pengereman. Yaitu saat kendaraan direm, maka diarahkan untuk menggerakkan dinamo motor yang menghasilkan listrik yang kemudian disimpan di dalam battery.

“Perhitungan efisiensi BBM nasional menunjukan terjadinya penghematan energi minimal sebesar 31 persen atas pergeseran (shifting) dari kendaraan BBM (ICE) ke kendaraan listrik (BEV),” kata Ahmad Safrudin kepada Tirto, Senin (23/10/2023).

Efisiensi itu ditunjukan dengan menggunakan analisa perbandingan pertama, yakni BEV dengan Energi Listrik Batu Bara. Dengan demikian, maka serta merta akan menghemat energi primer (BBM) sebesar 21,29 juta KL/tahun, sehingga total konsumsi BBM untuk transportasi jalan raya turun dari 68,68 juta KL/tahun menjadi 47,39 juta KL/tahun.

Menurut dia, status ini sudah memperhitungkan coal fired power-plant loss (PLTU batu bara) sebesar 67 persen. Dengan menggunakan data total konsumsi BBM untuk transportasi jalan raya pada 2019 sebesar 68,68 juta KL/tahun, maka maka sekitar 37,08 juta KL/tahun BBM hilang pada berbagai titik inefficiency kendaraan BBM sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

“Sehingga secara nasional BBM yang benar-benar dipergunakan untuk menggerakkan roda di jalan raya adalah 31,59 juta KL/tahun," ujar dia.

Analisis kedua, BEV dengan Listrik dari PLTGU (LNG). Penggunaan listrik LNG fired power-plan (PLTGU) untuk memenuhi kebutuhan energi transportasi jalan raya sebesar 31,59 juta KL/tahun di atas; mampu menurunkan total konsumsi energi hingga 48 persen, sehingga pergeseran kendaraan ICE ke BEV mampu menekan total konsumsi energi untuk transportasi jalan raya ini hanya tinggal 35,71 juta KL/tahun.

“Ini juga sudah memperhitungkan 56 persen power-plant loss,” kata dia.

Terakhir, BEV dengan listrik dari Renewable Energy (PLTA). Pergeseran kendaraan BBM ke BEV dengan pemanfaatan PLTA (hydropower) maka mampu menakan total konsumsi energi sampai dengan 75 persen sehingga total konsumsi energi untuk transportasi jalan raya adalah 17,17 juta KL/tahun.

Dengan demikian, kata dia, dapat disimpulkan bahwa BEV lebih efisien dengan segala sumber listrik yang digunakan (batu bara, LNG dan PLTA) dan ini selaras serta mencerminkan emisi yang lebih rendah yang dimiliki BEV dibandingkan kendaraan ICE maupun HEV.

Sebagai catatan, biarpun emisi BEV dari sumber listrik PLTU Batu Bara lebih rendah, tapi tetap harus dilakukan phase-out PLTU Batu Bara sesegera mungkin untuk digantikan dengan renewable power plant, sehingga dapat dicapai percepatan penurunan emisi kendaraan baik emisi GRK maupun emisi pencemaran udara.

“Untuk itu, kini saatnya menghentikan black campaign yang membangkang Perpres No 55/2019 tentang KBLBB dengan berbagai cara, termasuk cara-cara yang terlihat elegan dalam mengkampanyekan HEV (kendaraan Hybrid),” kata Ahmad Safrudin.

Black campaign ini, menurut dia, akan menjadi kesia-siaan dan kontraproduktif terhadap proses pembangunan industri otomotif nasional sesuai dengan acuan Perpres di atas. Jangan sampai upaya memosisikan BEV atau KBLBB sebagai andalan dalam merebut dan menguasai teknologi kendaraan nasional ini set back dan memosisikan kita kembali semata sebagai pasar atas produk otomotif impor.


Baca juga artikel terkait KENDARAAN LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz

DarkLight