Menuju konten utama

Isu PHK Masif, Menperin Sebut Tekanan Industri Hanya Temporary

Agus Gumiwang meyakini tekanan terhadap pasar dan bahan baku yang terjadi imbas perang Iran saat ini tidak akan berlangsung permanen.

Isu PHK Masif, Menperin Sebut Tekanan Industri Hanya Temporary
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita di Gedung Kementerian Perindustrian, Widya Chandra, Jakarta Selatan, Rabu (12/11/2025). tirto.id/Qonita Azzahra

tirto.id - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, merespons kekhawatiran publik menyusul peringatan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengenai potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor dalam tiga bulan ke depan.

Agus mengakui kondisi industri saat ini memerlukan perhatian serius. Namun, ia menekankan tekanan yang dihadapi bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga negara-negara lain.

"Kita ini sekarang dalam kondisi yang mungkin harus diberi perhatian. Dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia. Dan saya tetap percaya dengan resiliensi dari sektor manufaktur," ujar Agus Gumiwang di Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).

Ia merujuk pada pengalaman melewati krisis-krisis sebelumnya, termasuk pandemi Covid-19. Ketahanan sektor manufaktur, menurutnya, telah terbukti berulang kali.

“Sudah berkali-kali kita mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir Covid-19. Di mana teman-teman manufaktur bisa membuktikan resiliensinya," katanya.

Ilustrasi PHK Massal

Ilustrasi PHK Massal. foto/istockphoto

Agus meyakini tekanan terhadap pasar dan bahan baku yang terjadi imbas perang Iran saat ini tidak akan berlangsung permanen.

"Bahwa ada tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak. Dan saya yakin ini sifatnya temporary,” tuturnya.

Untuk menjaga agar sektor manufaktur tetap berkontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi, Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Keuangan melakukan sinergi kebijakan.

Agus menyebut kedua kementerian sudah duduk bersama membedah kendala yang dihadapi pelaku industri di lapangan.

"Kami berdua, Kementerian Keuangan dan Kementerian Perindustrian sudah duduk, kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku industri. Nah itu kemudian mencarikan jalan keluarnya," jelasnya.

Pembahasan kedua kementerian berfokus pada stimulus dan insentif yang diperlukan agar pertumbuhan manufaktur dapat menopang perekonomian nasional dengan lebih cepat dan baik. Perhatian juga diberikan pada upaya mendorong ekspor produk manufaktur.

Dia menjelaskan, saat ini ekspor manufaktur Indonesia tercatat cukup baik. Data BPS menunjukkan 75 hingga 80 persen ekspor nasional merupakan produk manufaktur. Namun dari sisi output, hanya sekitar 20 persen yang diekspor, sementara 80 persen diserap pasar domestik.

Agus menilai perlunya pergeseran strategi tanpa mengorbankan pasar dalam negeri. Ia memikirkan bagaimana mengubah pola dengan meningkatkan porsi ekspor.

"Kita juga perlu untuk melihat kemungkinan kita meningkatkan ekspor produk-produk kita ke luar negeri sehingga kita bisa mengubah sedikit rasio antara output manufaktur yang 80 persen domestik 20 persen ekspor tanpa mengurangi porsi domestiknya, tanpa kita mengurangi perlindungan terhadap market dalam negeri," kata dia.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengonfirmasi adanya sinyal pelemahan pada sektor industri nasional di awal tahun 2026. Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani memperingatkan adanya early warning signals pada sektor manufaktur padat karya.

APINDO sambut baik pembentukan Satuan Tugas Nasional

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W. Kamdani menyampaikan paparan saat acara Media Briefing APINDO Indonesia Quarterly Update di Jakarta, Selasa (13/5/2025). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU

Ia mengungkapkan bahwa berbagai indikator menunjukkan penurunan kinerja yang cukup tajam pada Maret 2026. PMI Manufaktur tercatat di level 50,1, posisi terendah dalam delapan bulan terakhir, sementara Indeks Kepercayaan Industri (IKI) turun ke 51,86 dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga menunjukkan tren melesu ke 122,9.

“Dinamika yang terjadi saat ini memang menunjukkan adanya sinyal peringatan dini yang perlu dicermati secara serius, khususnya di sektor manufaktur padat karya,” ujar Shinta kepada Tirto.

Shinta menjelaskan bahwa dunia usaha saat ini tengah menghadapi tekanan dari tiga kanal utama atau triple pressure sebagai dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pertama, tekanan biaya (cost pressure). Lonjakan harga energi dunia dan harga avtur domestik telah memicu kenaikan biaya produksi. Harga bahan baku seperti plastik bahkan melonjak hingga lebih dari 50 persen, yang dibarengi dengan kenaikan biaya logistik sebesar 15–20 persen.

Kedua, kompresi permintaan (demand compression). Inflasi yang meningkat di negara-negara G20 melemahkan daya beli pasar ekspor maupun domestik. Kondisi ini menyebabkan penurunan pesanan dan utilisasi kapasitas industri.

Ketiga, pengetatan finansial (financial tightening). Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS menjadi pukulan berat bagi industri manufaktur.

“Rupiah yang melemah meningkatkan biaya impor bahan baku, di mana sekitar 70 persen industri kita masih bergantung pada impor, serta memperketat akses pembiayaan,” jelas Shinta.

Baca juga artikel terkait BADAI PHK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama