tirto.id - Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan Israel terbuka untuk membahas gencatan senjata permanen di Gaza selama masa gencatan senjata 60 hari. Namun, Netanyahu memberikan satu syarat mutlak untuk mewujudkan gencatan senjata itu, yakni kelompok pejuang Palestina, Hamas didemiliterisasi.
“Pada awal gencatan senjata ini, kami akan memasuki negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen," ujarnya, merujuk pada proposal gencatan senjata yang didukung AS yang akan mencakup gencatan senjata selama 60 hari, dikutip Reuters, Jumat (11/7/2025).
Demiliterisasi merupakan proses pengurangan atau penghapusan kekuatan militer, persenjataan, dan kemampuan militer di suatu wilayah atau negara tertentu.
Namun, Netanyahu mengatakan bahwa ‘syarat fundamental’ Israel adalah Hamas harus meletakkan senjatanya dan tidak lagi memiliki kemampuan pemerintahan atau militer.
“Jika ini dapat dicapai melalui negosiasi, bagus. Jika tidak dapat dicapai melalui negosiasi dalam 60 hari, kami akan mencapainya melalui cara lain, dengan menggunakan kekuatan, kekuatan tentara heroik kami,” kata Netanyahu.
Sebelumnya, terkait penghentian perang sementara atau gencatan senjata ini menjadi pembahasan tidak langsung oleh Delegasi dari Israel dan Hamas di Doha, Qatar, sejak Minggu (6/7/2025) lalu.
Utusan Amerika Serikat (AS) untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengusulkan gencatan senjata 60 hari sebagai sebuah imbalan usai Hamas melakukan pembebasan separuh dari 20 sandera yang masih hidup di Gaza.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id

































