tirto.id - Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah pada hari Jumat, 20 Maret 2026, yang singkat dan sedih dapat menjadi acuan bagi khatib yang bertugas.
Organisasi masyarakat (Ormas) Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Hal ini termuat dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Bagi umat Islam, Idul Fitri merupakan momen haru karena bulan Ramadhan telah usai. Sebab, Ramadhan menjadi bulan yang istimewa. Selama Ramadhan, umat Islam memiliki momen kedekatan spiritual yang intens. Hari-hari selama bulan Ramadhan diisi dengan berbagai ibadah dan kebaikan. Tak hanya itu, Allah juga melipatgandakan amalan ibadah hambaNya di bulan Ramadhan.
Tidak ada jaminan umur manusia akan sampai ke Ramadhan berikutnya. Sebab itu, ulama terdahulu dan umat Islam banyak yang menangis di penghujung Ramadhan karena kecintaannya terhadap bulan suci ini.
Memasuki Idul Fitri, sebagian orang juga merindukan keluarga yang telah tiada. Di momen Idul Fitri ini lah, umat Islam biasanya melafalkan doa dan ziarah kubur untuk orang-orang tercinta yang telah wafat.
Isi Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 Singkat & Sedih
Khutbah Idul Fitri dapat memuat sejumlah pesan yang relevan dengan kondisi umat Islam. Berikut isi khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 yang dapat disampaikan kepada para jemaah:
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِي الْمَحْشَرْ. نَبِيٌّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.
اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Segala puji hanyalah bagi Allah. Atas karunia-Nya, pagi ini kita dapat berkumpul untuk merayakan kemenangan besar dengan menjalankan salat Idul Fitri. Atas izin Allah pula, kita berhasil melalui Ramadhan lalu dengan berbagai kebaikan.
Selawat dan salam semoga tercurah pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan segenap kaum muslimin di mana pun sampai hari kiamat kelak.
Jemaah salat Idul Fitri yang dirahmati Allah...
Hari ini kita merayakan kemenangan, tapi sekaligus kita sedang berduka. Kita berduka karena tamu agung, kekasih hati kita, Bulan Suci Ramadan, telah meninggalkan kita semalam.
Baru kemarin rasanya kita memulai sahur pertama. Baru kemarin kita merasakan nikmatnya dahaga yang terbayar saat berbuka. Selama bulan Ramadhan pula, kita telah menunaikan ibadah puasa, shalat tarawih, hingga beritikaf untuk meraih lailatul qadar. Di bulan Ramadhan, kita telah berupaya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, mendekatkan diri dengan penuh keikhlasan dan hati yang lapang.
Hal ini telah sejalan dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri, yakni mencapai ketakwaan. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Namun kini, masjid-masjid akan kembali sunyi dari lantunan tadarus. Suasana syahdu di sepertiga malam akan segera berganti dengan hiruk-pikuk dunia yang melelahkan. Hari ini, kesedihan masih terasa di hati kita semua. Kita bersedih bukan karena hari raya ini tidak membahagiakan, melainkan karena kita baru saja melepas kekasih yang paling tulus, yaitu bulan suci Ramadan.
Meski begitu, ibadah kita kepada Allah tak boleh berkurang. Mari kita bawa semangat Ramadan keluar dari masjid. Jangan biarkan kejujuran, kedermawanan, dan kesabaran kita ikut pergi bersama berakhirnya bulan puasa. Jadilah pribadi yang mencerahkan semesta, yang tangannya ringan menolong sesama, dan hatinya lapang memaafkan khilaf saudara.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
"Barang siapa yang beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." (HR. Bukhari & Muslim)
Melalui hadis tersebut, Nabi Muhammad mengingatkan kita agar ibadah tidak berhenti di bulan Ramadhan. Allah tetap Tuhan kita setelah Ramadhan berakhir, shalat tetap wajib, sedekah tetap dianjurkan, dan hawa nafsu tetap harus dikendalikan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Sesuai dengan semangat tajdid, mari kita jadikan kesedihan ini sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesalihan kita jangan hanya bertahan di bulan Ramadan. Mari kita isi bulan Syawal ini dengan peningkatan ibadah, baik bersifat horizontal maupun vertikal.
Ibadah yang intens ini perlu kita lakukan secara istiqomah di bulan Syawal. Hal ini juga diperintahkan Nabi Muhammad dalam sebuah hadis:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)
Jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia.....
Mari kita jadikan Momen Idul Fitri untuk menjadi momen yang suci, saling memaafkan, dan terus menghidupkan amal kebaikan di bulan Ramadhan. Ramadhan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka tugas kita sekarang adalah menjaga dan menerapkan nilai-nilai yang telah kita pelajari.
Sebagai penutup mari kita berdoa, semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, memberikan keberkahan dalam hidup kita, dan menjaga hati kita untuk tetap dekat kepada Allah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ
(7x)
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
فَيَاعِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ
اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
اللَّهُمَّ إنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ، اللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
Taqabbalallahu minna wa minkum, shalihal a’maal, kullu ‘aamin wa antum bi khairin.
Wassalaamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id
































