tirto.id - Lebaran 2026 tanggal berapa? Apakah Idul Fitri 1447 H kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah akan sama dengan Muhammadiyah pada 20 Maret? Ataukah tahun ini lebaran juga berbeda hari seperti awal puasa? Bagaimana prediksi BMKG?
Lebaran menjadi salah satu momen keagamaan paling penting bagi umat Islam di Indonesia. Selain menandai berakhirnya bulan Ramadan, Idul Fitri juga dimaknai sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Pada momentum tersebut, masyarakat biasanya merayakan dengan berbagai tradisi yang telah mengakar kuat, seperti salat Id berjamaah, saling bermaafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar.
Di Indonesia, perayaan Idul Fitri juga identik dengan tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman. Jutaan orang melakukan perjalanan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Oleh karena itu, kepastian tanggal Lebaran 1447 H menjadi informasi penting bagi masyarakat untuk merencanakan perjalanan, mengatur cuti, serta menyusun agenda pertemuan keluarga. Apalagi, kemungkinan akan terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dan Pemerintah dalam menentukan Idul Fitri 2026.
Lebaran Muhammadiyah 2026 Tanggal Berapa & Kapan Sidang Isbat?
Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026. Hal ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadhan 1447 H atau 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.
Saat Matahari terbenam pada hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24.00 UTC, terdapat wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi Bulan lebih dari sama dengan 8 derajat.
Sementara itu, Pemerintah belum menetapkan 1 Syawal 1447 H dan masih akan menggelar Sidang Isbat pada 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 1447 H versi pemerintah. Sidang isbat dilakukan sebagai prosedur utama karena pemerintah menggunakan gabungan metode rukyatul hilal dan hisab dalam menentukan 1 Syawal.
Sidang isbat penentuan Idul Fitri 2026 digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Nantinya, dalam sidang isbat tersebut ada 2 kemungkinan keputusan. Pertama, pada 29 Ramadhan tersebut (19 Maret), hilal sudah terlihat. Jika ini yang terjadi, maka Ramadhan versi pemerintah akan berdurasi 29 hari. Artinya, keesokan harinya, Jumat, 20 Maret 2026, sudah masuk Idul Fitri.
Namun, ada kemungkinan kedua, yakni hilal tidak terlihat pada 29 Ramadhan (19 Maret 2026). Jika kondisi ini terjadi, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, pemerintah akan menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan akhir mengenai awal Syawal tersebut akan ditetapkan pemerintah setelah mempertimbangkan hasil pemantauan hilal di berbagai titik rukyat di Indonesia serta data hisab yang disampaikan oleh para ahli astronomi dan perwakilan organisasi masyarakat Islam. Hasil sidang isbat kemudian diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama pada 19 Maret tersebut, menjelang waktu shalat isya.
Prediksi BMKG Kapan Idul Fitri 2026: Apa Hilal Terlihat 19 Maret?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan layanan informasi astronomi terkait posisi Matahari dan Bulan sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriah, termasuk untuk penetapan 1 Syawal 1447 H. Informasi tersebut berupa data hilal hasil perhitungan astronomi (hisab) pada saat Matahari terbenam, yang kemudian dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan rukyat atau observasi hilal.
Berdasarkan Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam 19 Maret 2026 sebagai penentu awal bulan Syawal 1447 H, fenomena ijtimak (konjungsi) diperkirakan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UT atau 08.23.23 WIB, 09.23.23 WITA, dan 10.23.23 WIT.
Ijtimak merupakan peristiwa ketika bujur ekliptika Matahari dan Bulan berada pada posisi yang sama, yakni 358,45 derajat. Periode sinodis Bulan sejak konjungsi sebelumnya, yang menandai awal Ramadan 1447 H, hingga konjungsi berikutnya diperkirakan berlangsung selama 29 hari 13 jam 22 menit.
Selanjutnya, waktu Matahari terbenam ditentukan ketika bagian atas piringan Matahari tepat berada di garis horizon teramati. Pada 19 Maret 2026, waktu Matahari terbenam di wilayah Indonesia tercatat paling awal terjadi pada pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua, sedangkan yang paling akhir berlangsung pada pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.
Dengan mempertimbangkan waktu konjungsi dan waktu Matahari terbenam tersebut, dapat disimpulkan bahwa ijtimak terjadi sebelum Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal tersebut.
Secara astronomis, kondisi ini memungkinkan pelaksanaan rukyat hilal sebagai penentu awal Syawal dilakukan setelah Matahari terbenam pada 19 Maret 2026. Sementara itu, bagi pihak yang menggunakan metode hisab dalam penetapan awal bulan Hijriah, penentuan awal Syawal tetap harus mempertimbangkan kriteria-kriteria visibilitas hilal pada saat Matahari terbenam.
BMKG juga mencatat bahwa ketinggian hilal di Indonesia pada saat Matahari terbenam 19 Maret 2026 berkisar antara 0,91 derajat di Merauke, Papua, hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh. Sementara itu, Elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara 4,54⁰
di Waris, Papua sampai dengan 6,1⁰ di Banda Aceh, Aceh.
Dalam menentukan visibilitas hilal, pemerintah mengikuti kriteria MABIMS, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasinya minimal 6,4 derajat. Jika melihat data BMKG tersebut, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia sudah memenuhi syarat, karena ada yang mencapai 3,13 derajat di Sabang. Namun, sudut elongasinya belum memenuhi karena tertinggi adalah 6,1 derajat.
Dengan kondisi tersebut, penetapan 1 Syawal 1447 H masih harus menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar pemerintah pada 19 Maret 2026. Sidang tersebut akan menentukan apakah Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, atau Sabtu, 21 Maret 2026.
Pembaca dapat mengakses artikel mengenai Lebaran 2026 melalui tautan ini.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id






























