Iran Mengembangkan Nuklir dan Israel Membunuh Para Ilmuwannya

Penulis: Ahmad Zaenudin - 6 Okt 2021 12:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Semenjak Perang Dunia II berakhir, Israel melakukan aksi pembunuhan terencana yang jauh lebih banyak dibandingkan negara Barat manapun.
tirto.id - Bagi kaum Yahudi, usai terusir dari "tanah yang dijanjikan" lalu menjadi budak bangsa Mesir dan akhirnya berdiaspora ke seluruh dunia, tidak ada yang lebih mengerikan daripada Holocaust. Ketika mereka berhasil membentuk negara modern bernama Israel, ketakutan Holocaust terulang kembali terpatri dalam benak. Alasannya karena Israel--negeri yang dibentuk atas bantuan Inggris--berdiri dekat negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, yang menilai bahwa pendirian Israel tidak sah dan membuat Palestina hancur berantakan.

Israel terutama menganggap Iran sebagai negara yang sangat mungkin memicu terulangnya Holocaust. Sebagaimana dipaparkan Yakakov Katz dalam Israel Vs. Iran: The Shadow War (2012), Iran dianggap Israel sebagai "reinkarnasi Jerman ketika dipimpin Nazi."

Hal ini timbul karena pemimpin Iran dianggap memiliki polah serupa dengan Adolf Hitler, merujuk pada pernyataan publik masing-masing pemimpin. Dalam sebuah pidato yang dilakukan pada 1922, misalnya, Hitler menyebut bahwa "jika saya benar-benar berkuasa, penghancuran orang-orang Yahudi akan menjadi pekerjaan pertama dan terpenting saya." Hal ini serupa dengan Mahmoud Ahmadinejad pada 2005 yang menyatakan bahwa "Israel wajib kita musnahkan dari peta dunia."

Kekhawatirean Israel didukung oleh kenyataan bahwa negeri pewaris Kekaisaran Persia Akhemeniyah tersebut tengah berupaya mengembangkan teknologi nuklir sejak dekade 1950-an. Israel benar-benar takut Holocaut terulang kembali.

Hal ini dijadikan dalih oleh Israel, terutama sejak Ariel Sharon berkuasa pada awal dekade 2000-an. Sebagaimana dipaparkan Ronen Bergman, jurnalis The New York Times dalam Rise and Kill First: The Secret of Israel's targeted Assassinations (2018), Israel menugaskan Mossad untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Awalnya Mossad hanya mengumpulkan informasi pengembangan nuklir Iran, memublikasikan temuan mereka, lalu meminta dunia menekan Iran. Ketika Sharon memberi perintah, Mossad tengah dikuasai Meir Dagan, "sesepuh intelijen" yang sempat bertugas di Jalur Gaza melawan prajurit-prajurit Palestina. Dagan berusaha melumpuhkan kemampuan nuklir Iran dengan cara melacak dan kemudian membunuh orang-orang penting dalam pengembangan nuklir.

"Semenjak Perang Dunia II berakhir," tulis Bergman, "Israel melakukan aksi pembunuhan terencana yang jauh lebih banyak dibandingkan negara Barat manapun." Paling tidak 500 operasi pembunuhan terencana telah mereka lakukan dalam Intifada Pertama, dengan meleyapkan lebih dari 1.000 jiwa, baik sipil ataupun kombatan. Lalu, ketika Intifada Kedua meletus, Israel melipatgandakan operasi pembunuhan. Sejak Intifada Kedua berakhir hingga buku yang ditulis Berman dipublikasikan, Israel telah melakukan 800 operasi pembunuhan terencana.


"Pembunuhan," terang Dagan, "memiliki efek moral, juga praktikal." Dengan membunuh orang-orang yang mengembangkan nuklir Iran, pikir Dagan, secara praktikal Iran dipaksa untuk menemukan pengganti, yang berujung pada penundaan keberhasilan program nuklir. Namun, karena strategi ini juga menghasilkan efek moral, timbul keraguan serta ketakutan dalam diri masyarakat Iran. Membuat sosok pengganti sukar dicari.

"Ya, tanpa membunuh, Israel memang dapat mengulur-ulur waktu Iran [untuk] berhasil mengembangkan program nuklirnya," kata Dagan. "Pikirkan saja, sebuah mobil memerlukan 25.000 komponen untuk dapat bekerja. Andai kami dapat mencuri 1.000 komponen tersebut, Iran bakalan kesulitan membuat mobil. Namun, coba pikirkan, bagaimana kalau sopir dan teknisinya dibunuh?"

"Efektif!" tegas Dagan.

Di bawah kendali Dagan, Mossad membunuh lima ilmuwan nuklir Iran. Lalu menjelang Dagan diberhentikan karena berseteru dengan Benjamin Netanyahu, jenderal Iran yang bertugas mengepalai pengembangan misil bernama Hassan Tehrani Moghaddam sukses dimusnahkan. Yang terbaru--saat Dagan telah pensiun--Mohsen Fakhrizadeh dibunuh Mossad pada akhir November 2020.

Menurut laporan media-media Iran, Fakhrizadeh dibunuh ketika iring-iringan empat mobil yang mengantarkannya pergi ke kota Absard (kota wisata di Iran) bersama sang istri, terhenti karena ada mobil yang meledak di depan mereka. Kemudian muncul empat orang di tengah-tengah iring-iringan dan menembaki mobil yang digunakan Fakhrizadeh. Sang ilmuwan terkena peluru di bagian samping dan belakang tubuhnya. Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi Fakhrizadeh tak dapat diselamatkan.

Tiga hari berselang, sebagaimana dilaporkan Nasser Karimi untuk Associated Press, pemerintah Iran menyebut Fakhrizadeh tewas akibat serangan "perangkat elektronik jarak jauh" yang dikendalikan Israel "tanpa adanya pelaku yang muncul di lokasi kejadian." Serangan jarak jauh itu, klaim Iran, sukses dilakukan berkat bantuan Mujahid-e-Khalq, kelompok pemberontak asal Iran yang berafiliasi dengan Israel.

Meskipun klaim Iran tentang pembunuhan Fakhrizadeh sempat diragukan dan ditertawakan publik, namun Bergman dalam laporannya untuk The New York Times menegaskan bahwa Israel memang menggunakan "perangkat elektronik jarak jauh".

"Perangkat elektronik jarak jauh" yang membunuh Fakhrizadeh merupakan senapan mesin yang dapat menembak 600 peluru per menit, FN MAG buatan Belgia. Senapan ini dikendalikan menggunakan satelit dengan memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) guna mendeteksi keberadaan target.

Israel tak sendirian dalam melakukan aksi pembunuhan terhadap Fakhrizadeh, mereka dibantu Amerika Serikat. Selain membimbing hal-hal teknis, AS juga dirangkul untuk memberikan perlindungan seandainya pembunuhan terhadap Fakhrizadeh berujung pada meletusnya Perang Israel-Iran. Terlebih, tatkala operasi pembunuhan terhadap Fakhrizadeh dilakukan, Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tengah mesra-mesranya.

Meskipun pembunuhan terhadap Fakhrizadeh ditentang negara-negara Arab, khususnya Uni Emirat Arab dan Bahrain, tetapi tidak muncul aksi nyata Dunia Arab untuk melawan Israel. Mengapa demikian? Secara umum, selain membenci Israel, Dunia Arab juga membenci Iran--negeri yang menurut mereka rawan membuat kestabilan Timur Tengah hancur.


Iran: Diatur Inggris Lalu Diacak-acak Paman Sam

Sebelum dunia menginjak abad ke-20, hanya satu kata yang dapat mendeskripsikan Timur Tengah: gersang. Timur Tengah, khususnya Iran, hanya menjadi lahan adu kuat Eropa. Sebagaimana dipaparkan Akbar E. Torbat dalam "Politics of Oil and Nuclear Technology in Iran", hal ini terjadi karena Iran dijadikan jalur yang digunakan kekuatan Eropa dalam mendistribusikan produk mereka, khususnya tembakau.

Awalnya, Inggris memonopoli penggunaan wilayah Iran untuk mendistribusikan tembakau yang mereka miliki. Namun, menjelang abad ke-19 berakhir, terjadi pemberontakan atas monopoli Inggris. Karena ingin memenangkan jalur ini, Rusia lalu berpihak pada ulama-ulama Iran. Tak lama berselang, Iran menjadi "Great Game Rivalry" antara Inggris dan Rusia. Perseteruan dua kekuatan ini melemah karena Rusia harus berhadapan dengan Jepang pada awal abad ke-20, yang menyebabkan cendikiawan Iran, dipimpin oleh Mozaffar al-Din Shah, melalukan revolusi konstitusional.

Selain itu, terdapat peristiwa lain yang mengubah wajah Iran, sekaligus kawasan Timur Tengah lain. Menurut Dilip Hiro dalam "Cold War in the Islamic World: Saudi Arabia, Iran and the Struggle for Supremacy", Timur Tengah bersalin rupa usai geolog Inggris bernama George Bernard Reynold, menemukan minyak di wilayah bernama Shushtar, di pengunungan Maiden-e Naft, Iran, pada akhir dekade 1900-an. Wilayah ini dipercaya masyarakat Iran sebagai tempat tinggal Nabi Sulaiman.

Setelah itu, Anglo-Persian Oil Company (APOC), perusahaan minyak swasta asal Inggris yang beroperasi di Iran, didirikan. Ketika Angkatan Laut Inggris memutuskan beralih dari batubara ke minyak pada Maret 1913, APOC diakuisisi oleh Pemerintah Inggris. APOC, sebut Torbat, merupakan "perusahaan paling penting" bagi Inggris. Alasannya sederhana, tatkala mesin-mesin tempur untuk memenangkan pertarungan telah hadir, minyak adalah sumber kekuatan mesin-mesin tempur itu.

Seperti kisah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia, Inggris hanya peduli pada sumber daya alam Iran, bukan orang-orangnya. Sejak 1913 hingga 1914, 1.385.000 ton minyak dari Iran sukses digondol Inggris. Saban tahun Inggris memperoleh keuntungan hingga 200 juta poundsterling, setara dengan 13 miliar pundsterling saat ini.

Penguasaan minyak Iran oleh Inggris membuat Rusia dan Amerika Serikat marah. Namun kemarahan Paman Sam mereda sejak Standard Oil Co. of California (kini Chevron, dan perusahaan minyak yang mengelola ladang di Arab Saudi berubah menjadi ARAMCO) menemukan ladang minyak di daerah Dhahran, Arab Saudi. Pada 3 Maret 1938, AS resmi menjalin kerjasama dengan Arab Saudi terkait perminyakan. Untuk mengamankan wilayah minyak yang baru ditemukannya, atas izin Arab Saudi, AS mendirikan pangkalan militer. Kedua negara ini menjadi "oil bromance."

Inggris dan AS akhirnya menjadi kekuatan besar yang menancapkan cakarnya di Timur Tengah, dengan Rusia atau Uni Soviet mengawasi dari kejauhan. Karena Iran merasa sengsara atas kehadiran Inggris, mereka perlahan melakukan hubungan dengan Turki Otoman dan Jerman. Singkat kata, hampir semua kekuatan besar abad ke-20 hadir di Timur Tengah.

Ketika dunia akhirnya menggaungkan kemerdekaan, yang menurut konstitusi Indonesia sebagai "hak segala bangsa", wilayah-wilayah di Timur Tengah merdeka satu per satu, menjadi negara-negara yang kita kenal saat ini. Namun, merujuk Athina Tzemprin dalam "The Middle East Cold War: Iran-Saudi Arabia and the Way Ahead", wilayah-wilayah di Timur Tengah itu terbagi secara asal-asalan.

Suku-suku dan penganut kepercayaan yang saling berseteru, bergabung dalam satu negara tertentu. Arab Saudi misalnya, "dibentuk sebagai negara modern atas penaklukan empat wilayah geografis yang sebelumnya jarang disatukan [...] wilayah-wilayah ini mempertahankan rasa identitas daerah mereka yang kuat." Sederhana alasannya, dengan menyatukan kelompok yang saling bertentangan, kekuatan Barat dapat memihak salah satu di antara mereka jika kelak membutuhkan. Selain itu, kekuatan Barat pun melahirkan Israel, yang berdiri di antara negara-negara Arab.


Pada awal dekade kemerdekaan usai Perang Dunia II, ketegangan dunia mulai mereda. Bahkan pada Desember 1953, Presiden Dwight Eisenhower mencetuskan ide pembentukan organisasi internasional yang memungkinkan banyak negara menggunakan nuklir sebagai sumber energi menggantikan listrik. Pakistan dan Indonesia, beserta 52 negara berkembang lainnya, kepincut ide ini. Di Timur Tengah, Iran yang menginginkannya. Dan atas pertolongan AS, Iran bergabung dalam program Atoms for Peace pada bulan Maret 1957. Setahun kemudian, Atomic Research Center pada Tehran University berdiri.

Untuk mengejar ambisinya memiliki sumber energi nuklir, pada tahun 1960 Iran membeli reaktor berkekuatan 5 megawatt electricity (MWe), dan American Machine and Foundry (AMF) bertindak sebagai pengelolanya.

Namun, kemunculan orang-orang Yahudi di "tanah yang dijanjikan" yang berdiri di antara negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim menjadi ranjau yang siap meledak. Dan benar saja, pada 6 Oktober 1973, ranjau itu akhirnya meledak. Guna mengambil alih kembali lahan di Semenanjung Sinai, Mesir dan Suriah menyerang Israel. Perang itu terjadi saat kaum Yahudi merayakan Yom Kippur dan umat Muslim melakukan puasa Ramadan.

Meskipun memiliki kilang minyak di Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, AS berpihak pada Israel. Presiden Richard Nixon mengirimkan persenjataan lengkap dan canggih kepada Israel. Sikap Paman Sam ini dibalas oleh negara-negara Timur Tengah dengan menghentikan pasokan minyak ke AS dan negara-negara lain yang memihak Israel. Harga minyak melonjak, dari $3 per barel menjadi $12 per barel.

Infografik Operasi Pembunuhan Terencana Israel
Infografik Operasi Pembunuhan Terencana Israel. tirto.id/Fuad



Enam tahun berselang, kejutan muncul kembali. Di Iran, di tengah kondisi ekonomi yang kian memburuk dan pemerintahan yang terlalu berpihak pada AS, masyarakat turun ke jalanan memulai Revolusi Iran. Mohammed Reza Pahlevi, Shah of Iran yang naik takhta atas bantuan CIA, diturunkan secara paksa oleh rakyat, dan Ayatullah Khomeini akhirnya menjadi pemimpin Iran.

Di tangan Khomeini, Iran bersalin rupa. Terjadi pergantian pondasi politik, dari Shah (kerajaan) menjadi "Republik Islam Iran." Pergantian pondasi ini sesuai dengan pemikiran Khomeini yang ia tulis secara anonim dalam buku The Secrets Revealed (1942).

"Pemerintah harus dijalankan sesuai dengan hukum Tuhan untuk kesejahteraan negara dan para penganutnya [...] Kesejahteraan ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan pengawasan dari para pemuka agama. Faktanya, prinsip ini telah disetujui dan diratifikasi dalam konstitusi Iran dan sama sekali tidak bertentangan dengan ketertiban umum, stabilitas pemerintah, atau kepentingan negara," tulisnya.

Bagi negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, deklarasi Iran menjadi "Republik Islam" tidak dapat diterima. Sebagai pemilik Makkah dan Madinah, dua kota suci dalam Islam, Arab Saudi merasa paling berhak menyandang gelar "Republik Islam", seandainya mereka menginginkannya. Penolkan juga muncul karena Iran memiliki aliran berbeda dengan Islam yang berkembang di Arab Saudi. Iran adalah Syiah, sementara Arab Saudi adalah Suni. Penggunaan "Republik Islam" dianggap memliki maksud terselubung.

"Kedua negara yang telah menjadi sekutu di orbit yang sama karena kepentingan dan ancaman bersama ini akhirnya pecah," Tulis Tzemprin.

Tak lama usai "Republik Islam Iran" berdiri, Iran melakukan intrik politik memanaskan Bahrain. Bagi Iran, Bahrain seharusnya dipimpin seorang Syiah, alasannya negara itu 70 persen penduduknya merupakan Syiah, bukan Suni. Namun, atas kekuatan Arab Saudi, Bahrain dipimpin seorang Suni.

Atas serangkaian kejadian tersebut, tercipta benang kusut geopolitik Timur Tengah yang mudah meledak. Hampir tiap negara Timur Tengah membenci Israel. Di antara para pembenci Israel itu, terjadi kerjasama yang kuat dengan AS. Dan di tengah-tengah mereka tercipta poros yang saling berseberangan: Arab Saudi vs Iran.

Awalnya, program nuklir Iran baik-baik saja meskipun situasi kian kusut di Timur Tengah. Bahkan di bawah Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, AS mengizinkan pembangunan reaktor nuklir di Iran. Namun, karena Kissinger dan Presidan AS diganti lewat proses pemilu, maka kebijakan AS terkait nuklir Iran pun berganti.


Iran dicurigai membangun reaktor nuklir bukan untuk pengadaan energi, melainkan untuk membuat senjata nuklir. Kabar burung tentang Iran hendak menciptakan senjata nuklir digaungkan oleh Israel, yang menganggap Iran sebagai ancaman besar di kawasan Timur Tengah.

Usai ditalak Paman Sam, Iran akhirnya beralih ke Prancis dan Jerman untuk melanjutkan program nuklirnya. Iran bahkan telah menyalurkan dana sebesar $6 miliar untuk perusahaan Jerman bernama Kraftwerk Union AG, anak usaha Siemens. Tak tanggung-tanggung, Iran pun menggelontorkan dana beasiswa bagi putra-putri terbaiknya agar bersedia sekolah di luar negeri, untuk menjadi ilmuwan nuklir. Massachusetts Institute of Technology, sekolah teknik paling beken di dunia, bahkan kecipratan dana senilai $10 juta agar mau menerima pelajar Iran.

Meski demikian, AS terlalu kuat untuk dilawan Iran. Aksi-aksi Iran untuk merealisasikan program nuklir mentah melalui lobi-lobi politik AS. Bahkan, semenjak Mohammad Khatami menjadi presiden Iran pada tahun 1997, realisasi nuklir Iran seakan jalan di tempat. Baru ketika Mahmoud Ahmadinejad naik takhta pada 2005, program nuklir Iran kembali bergairah.

Bagi Ahmadinejad, Iran memiliki hak untuk mengembangkan nuklir tanpa persetujuan AS. Hal ini direspons AS dengan membangun pangkalan militer baru, lengkap dengan senjata nuklir yang kapan saja siap menyerang Iran. Sementara Isreal anak emas Paman Sam, membendung program nuklir Iran dengan jalan membunuh para ilmuwannya.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh

DarkLight