tirto.id - Iran sedang mempertimbangkan rencana untuk mengizinkan kapal-kapal tanker minyak untuk melewati Selat Hormuz, dengan ketentuan yakni minyak yang diangkut diperdagangkan menggunakan mata uang yuan China, bukan dolar AS.
Informasi ini dilaporkan oleh CNN dengan mengutip seorang pejabat senior Iran. Rencana ini merupakan bagian dari upaya Iran untuk mengatur ulang lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Perang antara Iran melawan Israel dan AS masih berlanjut hingga hari ini, Senin (16/3/2026). Ketegangan itu memanas setelah Iran memutuskan untuk membatasi kapal di Selat Hormuz yang berdampak pada ekonomi global karena pasokan minyak dunia yang melewatinya terancam.
Kenapa Iran Dorong Perdagangan Minyak Pakai Yuan?
Iran mendorong penggunaan yuan China dalam perdagangan minyak karena beberapa alasan ekonomi dan geopolitik.
Dengan yuan, Iran sepertinya ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Selama ini hampir semua perdagangan minyak dunia menggunakan dolar, sehingga Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam sistem keuangan global.
Ketika suatu negara terkena sanksi dari AS, transaksi dalam dolar bisa diblokir melalui sistem perbankan internasional. Iran sendiri sudah lama terkena sanksi ekonomi dari AS, sehingga sulit menjual minyak secara normal.
Keputusan menggunakan yuan tak bisa lepas dari latar belakang China sebagai pembeli utama minyak Iran setelah negara itu mengalami sanksi ekonomi dari AS.
Penggunaan yuan juga berpotensi untuk melemahkan dominasi dolar dalam perdagangan minyak dunia. Jika semakin banyak transaksi minyak menggunakan yuan, maka pengaruh ekonomi AS dalam sistem energi global bisa berkurang.
Jika benar Iran akan mengizinkan kapal tanker lewat Selat Hormuz dengan alasan perdagangannya menggunakan yuan, maka bisa menjadi salah satu strategi untuk menekan AS dalam perang antara mereka.
Berapa Harga Minyak Dunia?
Harga minyak mentah AS naik tajam pada Minggu (15/3) malam yang sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel sebelum turun sedikit ke sekitar 98,9 dolar AS.
Harga minyak dunia jenis Brent mencapai sekitar 104 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini menunjukkan bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap konflik di kawasan Timur Tengah.
Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah Presiden Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan serangan militer terhadap fasilitas ekspor minyak penting Iran di Kharg Island, seperti dilaporkan CNBC (15/3/2026).
Dalam serangan sebelumnya, AS sudah menargetkan aset militer Iran di pulau tersebut. Namun, pemerintah AS mengatakan bahwa serangan itu tidak mengenai fasilitas minyak.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat bisa saja menargetkan infrastruktur minyak Iran jika Iran terus menyerang kapal tanker di Strait of Hormuz.
Seperti diketahui, sekitar 90% ekspor minyak Iran dikirim dari Kharg Island, sehingga jika fasilitas itu diserang, sebagian besar ekspor minyak Iran bisa langsung terhenti.
Yang dikhawatirkan oleh para pengamat adalah jika AS menyerang Kharg Island dengan menargetkan infrastruktur minyaknya, bukan tidak mungkin akan membuat Iran marah dan akan membalas dengan lebih brutal.
Jika AS benar-benar melakukan ancamannya, Iran diprediksi akan menyerang pusat minyak di negara-negara Timur Tengah lainnya. Dan efeknya akan dirasakan oleh hampir semua negara di dunia yang mendapatkan pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































