Menuju konten utama

Indofood Ungkap Dampak Rupiah Loyo ke Susu Indomilk, Harga Naik?

Pelemahan rupiah disebut berdampak pada biaya produksi susu dan upaya menambah populasi sapi perah.

Indofood Ungkap Dampak Rupiah Loyo ke Susu Indomilk, Harga Naik?
Paviliun Indomilk (PT.Australia Indonesian Milk Industries) di Lapangan Merdeka, Jakarta. FOTO/Wikicommon
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - General Manager Research and Development Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), Tjatur Lestijaman, mengakui pelemahan nilai tukar rupiah berdampak terhadap proses produksi susu.

Menurutnya, hal ini disebabkan industri susu nasional, termasuk Indofood, masih sangat bergantung pada bahan baku impor yang transaksinya menggunakan dolar Amerika Serikat (AS).

"Kurang lebih memang karena 80 persen dari kebutuhan susu ini masih impor dan harganya juga terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap bahan baku untuk Indomilk," ucapnya saat konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Meski demikian, Tjatur memastikan Indofood tidak akan sepenuhnya menaikkan harga produk sebagai dampak pelemahan rupiah kepada konsumen. Menurut dia, perusahaan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat agar harga produk susu tetap terjangkau.

Untuk menekan dampak kenaikan biaya produksi, Indofood disebut melakukan berbagai program efisiensi di pabrik. Namun, Tjatur tidak menjelaskan secara rinci langkah efisiensi yang diterapkan perusahaan.

"Kami berkomitmen bahwa kita enggak akan 100 persen pasang [kenaikan] harga [ke] konsumen. Jadi, kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa terjangkau," urainya.

"Dengan pemikiran seperti itu, kami melakukan program-program efisiensi di pabrik-pabrik kami sehingga biayanya juga bisa ditekan, sehingga pengaruh dari inflasi dolar ini tidak 100 persen kita pasang ke konsumen," lanjut Tjatur.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Makmun mengatakan pelemahan rupiah juga berdampak pada upaya pemerintah menambah populasi sapi perah melalui impor.

Menurut dia, harga impor sapi perah indukan mengalami kenaikan, meski belum terlalu signifikan. Sebagian besar sapi perah impor tersebut berasal dari Australia.

"Kita semangatnya ingin menambah populasi, memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah, umumnya. Kan kita mengambilnya dari Australia ya," ucapnya dalam kesempatan yang sama.

"Tahun lalu, rata-rata teman-teman itu mengimpor harga sekitar Rp45 juta per ekornya, sapi perah bunting. Nah, tahun ini [naik], [tapi] tidak juga sampai ke Rp50 [juta], ada di bawah juga. Ada kenaikan, tapi tidak terlalu jauh juga dari kondisi yang ada," sambung Makmun.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana