INDEF Sebut Pertumbuhan Ekonomi Terancam Stagnan

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 8 Agustus 2018
Dibaca Normal 1 menit
Eko Listiyanto mengatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam APBN akan meleset.
tirto.id - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ekonomi semester I 2018 sebesar 5,27 persen hanya bersifat sementara.

Pasalnya, kata Direktur INDEF, Enny Sri Hartati, momentum yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi—Puasa dan Lebaran—sudah berakhir.

"Pertumbuhan ekonomi meningkat, namun ternyata kinerja sektor riil sebagai penopang utama penyerapan tenaga kerja tidak menggeliat," ujar Enny di Kantor INDEF Jakarta pada Rabu (8/8/2018).

Secara umum, pelaku usaha di Indonesia terutama sektor retail selalu menjadikan momen Lebaran sebagai penyumbang besar, yakni sekitar 35 persen dari omzet penjualan tahun berjalan.

Sementara sektor industri riil hanya tumbuh 3,97 persen dan industri non-migas tumbuh sebesar 4,41 persen (year on year/yoy).

Sehingga, ia berpendapat, akan sulit terjadi akselerasi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, secara keseluruhan pertumbuhan sektor industri anjlok dikisaran 3,9 persen pada triwulan II 2018.

Enny mengatakan, ada beberapa sektor industri prioritas pemerintah yang turun jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, seperti industri makanan dan minuman, industri otomotif, tekstil dan pakaian. Selain itu, industri elektronik dan farmasi juga melambat jika dibandingkan dengan triwulan II tahun lalu.


"Libur panjang menghentikan proses produksi domestik. Cuti bersama yang terlalu panjang menghentikan kegiatan produksi sementara," ujar Enny.

Stagnasi pertumbuhan ekonomi tersebut, kata Enny, juga dipengaruhi dari pertumbuhan inventori yang sangat tinggi 44,07 persen (yoy) dan 18,5 persen (qtq). Inventori tersebut memiliki andil 0,46 persen terhadap pertumbuhan PDB.

"Padahal secara historis, peran inventori ini selalu negatif," ujar Enny.

Sementara itu, pengamat dari INDEF, Eko Listiyanto mengatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen dalam APBN akan meleset. Hingga akhir tahun 2018, ia menilai pertumbuhan ekonomi relevan dengan kisaran 5,2 persen.

"Kalau enggak arahnya ke 5,1 persen [pertumbuhan ekonomi], karena ada pengetatan ekonomi global saya sih masih berharap bisa 5,2 secara hitung-hitungan masih bisa," kata Eko.

Ia pun menyarankan pemerintah agar membenahi kinerja sektor industri dan ekspor untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.


Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Alexander Haryanto