Menuju konten utama

INDEF Menilai Pertumbuhan Ekonomi 5,27 Persen Itu Kontradiktif

Capaian pertumbuhan tersebut bersifat paradoks, karena kontradiksi dengan kinerja variabel makro ekonomi, khususnya di kinerja sektor riil.

INDEF Menilai Pertumbuhan Ekonomi 5,27 Persen Itu Kontradiktif
Alat berat dioperasikan untuk bongkar buat peti kemas di New Priok Container Terminal One (NPCT1), Jakarta Utara, Jumat (13/4/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

tirto.id - Pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II/2018 sebesar 5,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,06 persen. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai capaian kinerja perekonomian ini cukup mengejutkan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan capaian pertumbuhan tersebut bersifat paradoks, karena kontradiksi dengan kinerja variabel makro ekonomi, khususnya di kinerja sektor riil yang menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

"Menurut kami perlu disampaikan sejak dini ke pemerintah. Kalau kondisi ini enggak diantisipasi, maka kerugian dampaknya. Bukan karena ini di tahun politik, tapi kami konsen dampaknya ke publik secara keseluruhan," kata Enny di Kantor INDEF Jakarta pada Rabu (8/8/2018).

Pemerintah menyatakan bahwa angka pertumbuhan ekonomi 5,27 persen kontribusi signifikannya dari belanja pemerintah. Pada triwulan II/2018, belanja pemerintah tumbuh 5,26 persen, sehingga kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi naik dari 6,31 persen pada triwulan I menjadi 8,5 persen pada triwulan II/2018.

Realisasi belanja APBN Triwulan II/2018 mencapai Rp 523,70 triliun (23,58 persen). Bahkan realisasi Bansos (bantuan sosial) triwulan II/2018 sebesar Rp27,19 triliun, naik 67,57 persen dibandingkan dengan triwulan Il-2017. Juga ditambah Tunjangan Hari Raya (THR) pegawai negeri sipil.

"Sayangnya akselerasi belanja pemerintah tersebut hanya berdampak pada peningkatan sektor konsumtif [konsumsi rumah tangga]. Sementara sektor produktif [investasi] justru mengalami penurunan, baik dari sisi pertumbuhan maupun kontribusinya," ujar Enny.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada triwulan I/2018 tumbuh 7,95 persen, dengan kontribusi 32,12 persen. Namun pada Triwulan II 2018, hanya tumbuh 5,87 persen dan kontribusinya turun menjadi 31,15 persen.

Bahkan sektor produktif dalam negeri, terutama sektor industri manufaktur non migas justru pertumbuhannya melorot, dari 5,07 persen ke 4,41 persen. Secara keseluruhan pertumbuhan sektor industri anjlok hanya 3,9 persen pada triwulan II.

"Dampak dari peningkatan belanja pemerintah hanya berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga dari 4,95 persen pada triwulan I/2018, menjadi 5,14 persen pada triwulan II 2018. Termasuk ditopang oleh momentum lebaran dengan adanya THR dan Pilkada," ujar Enny.

Namun di sisi lain, pada triwulan II/2018, inventori tumbuh sangat tinggi 44,07 persen (year on year/yoy) dan 18,5 persen (quartal to quartal/q2q). Ia mengatakan hal itu mencerminkan peningkatan produksi sebagai antisipasi permintaan Lebaran, tidak mampu terjual.

Adanya peningkatan konsumsi rumah tangga, pertumbuhan industri manufaktur yang menurun, dan peningkatan inventori, maka ia mengatakan kondisi ini mengindikasikan konsumsi pasar Indonesia dipenuhi barang dari impor.

"Ternyata terjawab oleh peningkatan impor yang signifikan 15 persen lebih sehingga kalau ini diteruskan pasti ada pertanyaan kita yang akan jadi kekhawatiran kita gimana kondisi di semester II/2018. Hal ini terkonfirmasi oleh peningkatan impor yang mencapai 15,17 persen (yoy)," ujarnya.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Maya Saputri

tirto.id - Ekonomi
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri