Gugatan Koosmariam terhadap Garuda Indonesia Bisa Berujung Damai

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 14 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
Kuasa hukum Koosmariam, David Tobing, mengatakan kasus yang menimpa kliennya tidak menutup kemungkinan adanya opsi damai.
tirto.id - Kuasa hukum dari Koosmariam Djatikusumo, David Tobing, yang menggugat pihak Garuda Indonesia atas kecelakaan di dalam pesawat, mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya opsi damai. Namun, dia akan melihat itikad baik dan proses pengadilan yang akan berlangsung.

David menjelaskan bahwa setiap jalannya persidangan antara dua pihak yang berseteru pasti ada tahap mediasi. Saat itu dia akan melihat sejauh apa itikad baik dari Garuda Indonesia dalam menyelesaikan persoalan ini.

"Saya enggak mau mendahului proses hukumnya, tapi tentunya kan memang akan ada mediasi. Kalau lihat statement Garuda di media bilang akan menyelesaikan masalah ini. Saya akan lihat nanti prosesnya," ujar David saat memberikan keterangan pers dengan beberapa media di Jakarta pada Jumat (13/4/2018).

Sebelum gugatan dilayangkan, Garuda Indonesia mengatakan akan bertanggung jawab, tapi satu setengah bulan terakhir tidak proaktif membantu pengobatan fisik maupun psikis.

"Kalau ada upaya perdamaian dan seperti apa itu, akan saya serahkan kepada ibu (Koosmariam). Karena ibu yang merasakan penderitaannya," ucapnya.

Koosmariam mengalami kejadian ini saat terbang dari Bandara Soekarno Hatta-Jakarta menuju Bandara Blimbingsari Banyuwangi dengan maskapai Garuda Indonesia GA-264 pada 29 Desember 2018.

Seorang pramugari datang membawakan dua teh panas pesanan teman yang duduk di sisi kirinya, dimana salah satu gelas untuk diberikan kepada Koosmariam. Saat itu, kondisi pesawat dalam keadaan stabil dan tidak sedang goyang.

Pramugari tersebut menyodorkan nampan berisi dua gelas teh panas tersebut lewat atas kepala Koosmariam untuk diberikan ke teman sebelah kanannya.

Entah bagaimana, gelas berisi teh panas itu tumpah mengguyur leher, dada, serta tangannya. Sontak, Koosmariam yang sedang tertidur itu bangun dan kesakitan. Kulitnya melepuh dan mengelupas hingga meninggalkan luka bakar yang membekas di tubuhnya.

"Kondisi luka sampai saat ini masih berwarna merah dengan tepian hitam dan masih terasa pedih kalau terkena keringat dan air sabun dan sering timbulkan gatal yang amat sangat. Rasa gatal itu suatu rasa sakit yang kecil. Gatal-gatal kalau saya lupa atau saya enggak bisa tahan, bisa kena garuk. Kalau kena garuk lebih sulit sembuh," kata Koosmariam.

Ia juga menuturkan, menurut dokter, penyembuhan dengan menumbuhkan jaringan baru untuk menutup lukanya akan sulit dilakukan. Dokternya meminta menunggu waktu 6 bulan sambil rawat jalan dengan menggunakan salep karena ia membatasi untuk mengkonsumsi obat minum, yang dapat mengganggu ginjalnya.

"Dokter tunggu 6 bulan ke depan untuk lihat perkembangan kondisinya seperti apa. Katanya bisa pakai laser untuk menyembuhkan, tapi daerah payudara kan banyak syaraf," ucapnya.

Dokter mengungkapkan kepadanya bahwa kalau jaringan kulitnya tidak bisa tumbuh, maka akan ambil jaringan dari paha untuk ditanam di kulit dadanya. "Rasa kaget, serem, enggak nyaman, Garuda kan enggak tahu. Saat ini saya dalam perawatan psikiater setelah satu setengah bulan lost contact dengan pihak Garuda," terangnya.



Selama pengobatan yang ditanggung Garuda Indonesia, ia merasa diposisikan seperti pengemis oleh manajemen Garuda Indonesia. Lantaran, Garuda Indonesia kurang proaktif menanyakan kabarnya.

Sementara itu, pada Kamis (12/4/2018), Corporate Secretary Garuda Indonesia, Hengki Heriandono menyatakan pihaknya akan bekerjasama dengan pihak terkait untuk menyelesaikan kejadian ini dengan baik sesuai ketentuan berlaku.

Atas nama Garuda Indonesia, ia menyatakan prihatin dan sangat menyesalkan kejadian tersebut dan menganggap kejadian tersebut adalah pelajaran untuk ke depannya lebih memperbaiki layanan.
"Kami akan terus berupaya meningkatkan pelayanan kami kepada penumpang ke depannya," ucapnya dalam keterangan tertulis.


Baca juga artikel terkait KOOSMARIAM TERSIRAM AIR PANAS atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Maya Saputri