tirto.id - Aktivitas pembelajaran tatap muka di Kabupaten Sikka kembali dimulai pada Senin (31/8/2026), setelah dihentikan selama lebih dari dua pekan akibat gempa bumi Flores yang melanda wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Namun, tidak semua siswa kembali belajar di gedung sekolah masing-masing. Sejumlah sekolah yang mengalami kerusakan berat harus merelokasi kegiatan belajar mengajar karena bangunannya dinilai tidak layak dan berisiko digunakan.
Salah satunya SMPN 1 Maumere. Sekolah yang berada di pusat Kota Maumere itu mengalami kerusakan pada sejumlah bagian bangunan akibat gempa.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patris Federiko, mengatakan SMPN 1 Maumere menjadi salah satu sekolah yang seluruh aktivitas pembelajarannya harus direlokasi.
“Paling utama SMPN 1 Maumere dari 30 rombongan belajar yang ada di sekolah tersebut harus direlokasi seluruhnya karena dari sisi teknis tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar,” kata Patris.
Menurut dia, keputusan relokasi dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik, terutama jika terjadi gempa susulan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 30 tiang bangunan SMPN 1 Maumere mengalami retak dan kemiringan akibat gempa. Kondisi tersebut menyebabkan gedung sekolah tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Sebanyak 618 siswa dari 30 rombongan belajar kemudian direlokasi ke Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Sikka yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari sekolah mereka.
Pantauan Tirto pada Senin (31/8/2026), lokasi sementara di SKB Maumere masih dipersiapkan oleh para guru dan tenaga kependidikan. Ruang kelas dan fasilitas pendukung belum sepenuhnya siap sehingga siswa SMPN 1 Maumere belum mulai belajar di lokasi tersebut pada hari pertama pembelajaran tatap muka.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, pada Senin pagi mendatangi lokasi tersebut untuk melihat kesiapan tempat belajar sementara.
Kepala SMPN 1 Maumere, Maria Heliana, mengatakan pihaknya menyiapkan delapan ruangan sementara untuk kegiatan belajar mengajar dan satu ruangan untuk perpustakaan. Selain delapan ruangan di SPNF SKB, terdapat dua tenda yang dibangun di halaman sekolah untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Maria mengatakan bangunan SMPN 1 Maumere mengalami kerusakan pada 30 tiang penopang yang retak. Selain itu, rangka atap ruang kelas VIIID di lantai dua patah. Tembok gedung perpustakaan juga mengalami kerusakan berat.
Setelah dilakukan pengecekan, pihak sekolah disarankan untuk sementara tidak menggunakan gedung sekolah.
“SMPN 1 Maumere terdapat 618 siswa, 48 guru dan 15 tenaga kependidikan yang semuanya akan melaksanakan KBM di SKB Maumere sampai ada pemberitahuan lanjut,” ujarnya.

24 Sekolah Rusak Total
Patris menjelaskan kerusakan bangunan sekolah akibat gempa tidak hanya terjadi di SMPN 1 Maumere. Dinas PKO Sikka bersama konsultan yang ditugaskan telah mengidentifikasi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Hasil identifikasi menunjukkan terdapat 70 sekolah yang mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 24 sekolah mengalami kerusakan total yang mencakup 96 ruang kelas.
Kerusakan tersebut membutuhkan penanganan khusus agar kegiatan pendidikan tetap berjalan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan tenda sebagai tempat pembelajaran sementara.
“Dari 70 sekolah yang diidentifikasi bersama para konsultan, sebanyak 24 sekolah rusak total dengan 96 ruang kelas. Kerusakan ruang kelas ini harus diintervensi dengan tenda,” jelas Patris.
Ia mengatakan sekolah dengan tingkat kerusakan bangunan di atas 50 persen harus merelokasi aktivitas pembelajarannya ke tempat lain. Penentuan lokasi relokasi dilakukan berdasarkan kesepakatan sekolah dan orangtua siswa serta dikoordinasikan dengan Dinas PKO Kabupaten Sikka.
“Kami juga akan meminta kepada semua sekolah melaksanakan pertemuan dengan orangtua murid untuk memahami kondisi ini, sehingga orangtua murid punya satu pemahaman bahwa anaknya bisa belajar dengan nyaman di sekolah,” ujarnya.
Dinas PKO Kabupaten Sikka juga mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar tidak memaksakan penggunaan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat.
Kebijakan pembelajaran tatap muka selama masa tanggap darurat tersebut tertuang dalam Surat Edaran Plt. Kepala Dinas PKO Kabupaten Sikka Nomor PKO.400.3.5/32/VIII/2026 tentang Aktivitas Pembelajaran Tatap Muka di Masa Tanggap Darurat Bencana.
Untuk jenjang SD hingga SMP, pembelajaran tatap muka kembali dimulai pada Senin (31/8/2026). Sementara itu, PAUD dan TK masih menjalani pembelajaran dari rumah selama satu minggu.
Selain memastikan lokasi belajar aman, kegiatan pada hari-hari awal sekolah juga diarahkan pada pemulihan kondisi psikologis siswa melalui kegiatan trauma healing.
Pendekatan tersebut dilakukan karena para siswa kembali ke lingkungan pendidikan setelah mengalami langsung situasi bencana dan masih menghadapi potensi gempa susulan.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id

































