Menuju konten utama

Freeport Umumkan Force Majeure di Tambang Grasberg

Pemulihan dan peningkatan operasi dilakukan bertahap di Grasberg. Tambang kemungkinan baru akan beroperasi kembali pada paruh pertama 2026.

Freeport Umumkan Force Majeure di Tambang Grasberg
Area tambang terbuka PT Freeport di Timika, Papua. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Freeport McMoRan Inc, pada Rabu (24/9/2025) mengumumkan keadaan kahar atau force majeure di tambang Grasberg, Papua Tengah.

Awal bulan ini, perusahaan tersebut menghentikan sementara penambangan di Grasberg setelah aliran material basah menghalangi akses ke beberapa bagian tambang bawah tanahnya, sehingga membatasi rute evakuasi bagi tujuh pekerja. Freeport juga pekan lalu menemukan dua anggota tim yang tewas dalam insiden tersebut.

Melansir dari Reuters, Jumat (26/9/2025), perusahaan tersebut menyatakan bahwa pemulihan dan peningkatan operasi akan dilakukan secara bertahap di Grasberg—salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia—, dan kemungkinan operasi akan terjadi pada paruh pertama tahun 2026.

Perusahaan juga mengindikasikan bahwa produksi pada tahun 2026 di Indonesia berpotensi anjlok 35 persen dari perkiraan sebelumnya. Terlebih, smelter baru mereka di Gresik, Jawa Timur, masih rusak akibat kebakaran tahun lalu dan masih ditutup.

Sementara itu, harga tembaga di London Metal Exchange melonjak lebih dari 3 persen ke level tertinggi dalam lebih dari 15 bulan pada hari Rabu, menyusul pengumuman Freeport.

"Kami tidak terkejut dengan revisi penurunan panduan, tetapi pemangkasan kali ini lebih signifikan dari yang kami perkirakan," ujar analis Jefferies.

Para analis juga mengatakan bahwa gangguan ini akan menyebabkan pasar tembaga yang lebih ketat, yang akan berdampak positif bagi operasi Freeport di Amerika.

Kini, Freeport memperkirakan penjualan terkonsolidasi tembaga dan emas pada kuartal III akan lebih rendah masing-masing sekitar 4 persen dan 6 persen, dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 1 miliar pon tembaga dan 350 ribu ons emas.

Goldman Sachs juga memangkas proyeksi pasokan tambang tembaga global untuk 2025 dan 2026. Hal ini buntut terjadinya insiden longsoran di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang dioperasikan PT Freeport Indonesia, anak usaha Freeport-McMoRan.

Selain itu, Goldman Sachs memperkirakan total kehilangan pasokan tembaga mencapai 525.000 ton imbas dari gangguan tersebut. Proyeksi pasokan tambang global pun dipangkas sebesar 160.000 ton pada paruh kedua 2025 dan 200.000 ton pada 2026.

Produksi Grasberg kini diperkirakan turun 250.000 hingga 260.000 ton pada 2025 dan berkurang 270.000 ton pada 2026. Freeport menilai produksi kuartal IV 2025 akan semakin rendah karena area tambang yang tidak terdampak baru bisa kembali beroperasi pertengahan kuartal, dengan porsi sekitar 30 persen-40 persen dari kapasitas tahunan.

Sisa area tambang Grasberg diperkirakan baru dapat beroperasi kembali pada 2026. Goldman Sachs menegaskan, kehilangan produksi ini melampaui perkiraan normal gangguan pasokan global yang biasanya mereka perhitungkan.

Akibatnya, proyeksi pertumbuhan produksi tambang global 2025 dipangkas dan hanya naik 0,2 persen dibanding tahun sebelumnya 0,8 persen. Sedangkan untuk 2026, proyeksi pertumbuhan diturunkan menjadi 1,9 persen dari semula 2,2 persen.

Gangguan di Grasberg juga mengubah proyeksi neraca tembaga global Goldman Sachs untuk 2025 dari surplus 105.000 ton menjadi defisit 55.500 ton. Sementara pada 2026, neraca pasokan tembaga diperkirakan masih mencatat surplus tipis.

Tak hanya itu, PT Freeport Indonesia (PTFI) juga sedang mengevaluasi dampak insiden tersebut terhadap rencana produksi ke depan. Proyeksi produksi akan direvisi dengan mempertimbangkan jadwal perbaikan yang diperlukan serta tahapan pemulihan dan peningkatan kembali produksi.

"Saat ini, informasi yang tersedia belum cukup untuk memperkirakan proyeksi produksi di masa depan. PTFI akan mengoptimalkan rencana produksi seiring evaluasi lanjutan. Proyek-proyek modal akan ditinjau dan diarahkan untuk memprioritaskan sumber daya yang dibutuhkan demi pemulihan operasi yang aman," tulis Freeport dalam keterangannya.

Baca juga artikel terkait PT FREEPORT MCMORAN atau tulisan lainnya dari Natania Longdong

tirto.id - Insider
Reporter: Natania Longdong
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana