Menuju konten utama

Fenomena Logo Levi's Ditutup di Piala Dunia, Tapi Makin Viral

Kenapa gerai Levi's Indonesia menutup logonya? Simak alasannya di sini, mulai dari larangan FIFA terkait sponsor Piala Dunia 2026 hingga jadi tren viral.

Fenomena Logo Levi's Ditutup di Piala Dunia, Tapi Makin Viral
Gerai Levis Paris yang ditutup Logonya. instagram/levis
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ada pemandangan tak biasa di gerai Levi's Indonesia yang berlokasi di Senayan City, Jakarta Selatan. Logo yang biasanya terpampang jelas di depan gerai justru disamarkan dengan menghilangkan tulisannya, tapi tetap menampilkan logo Batwing-nya yang ikonik.

Langkah ini merupakan bagian dari kampanye visual Levi’s yang terjadi secara global sekaligus buntut dari penutupan logo di sebuah stadion Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026.

Alih-alih menganggap penutupan logo tersebut sebagai hambatan, Levi's justru memanfaatkannya sebagai strategi pemasaran yang kreatif, jenaka, dan fresh demi memperkuat identitas merek di mata publik.

Melalui aksi ini pula Levi's ingin membuktikan bahwa kekuatan sebuah brand legendaris tidak melulu bergantung pada teks nama yang terpampang. Cukup dengan siluet yang khas, orang-orang tetap akan mengenali identitas merek tersebut.

Awal Mula Penutupan Logo Levi’s di Piala Dunia 2026

Gerai Levis Paris yang ditutup Logonya

Gerai Levis Paris yang ditutup Logonya. instagram/levis

Toko Levi’s tutup logo memang menjadi salah satu fenomena menarik yang terjadi tahun ini. Namun, apa alasan Levi's Indonesia dan global ramai-ramai menutupi logonya?

Semuanya bermula dari perhelatan Piala Dunia 2026. FIFA diketahui memberlakukan kebijakan “clean venue”, yaitu agar seluruh stadion dibersihkan dari merek non-sponsor. Jadi, setiap venue harus bebas dari identitas visual perusahaan yang bukan merupakan sponsor resmi turnamen.

Salah satu stadion yang terdampak adalah Levi's Stadium di Santa Clara, California, Amerika Serikat, yang memang terpilih sebagai venue Piala Dunia 2026. Namun, karena Levi's bukan sponsor resmi FIFA, nama stadion untuk sementara diubah menjadi San Francisco Bay Area Stadium.

Bersamaan dengan itu, seluruh identitas visual Levi's di area stadion harus ditutup selama turnamen berlangsung. Kebijakan FIFA tentang venue yang streil dari merek non-sponsor sebenarnya terlihat wajar, tapi cara FIFA menutup logo Levi’s justru menarik perhatian publik.

Alih-alih menutupi seluruh area logo dengan bidang persegi biasa, penutup berwarna putih tersebut justru mengikuti siluet khas Batwing, bentuk logo Levi's yang sudah sangat ikonik dan melekat di ingatan publik.

Akibatnya, meskipun nama mereknya tidak lagi terlihat, orang-orang tetap sadar bahwa logo yang ditutupi tersebut adalah milik Levi's. Foto-foto logo Levis’ yang ditutup juga dengan cepat menyebar di media sosial.

Respons Levi's: Larangan Jadi Peluang Bisnis

ilustrasi gerai Levi's

Levis Store di Cat Street, kota Shibuya, Tokyo, Jepang. FOTO/iStockphoto

Alih-alih memandang situasi penutupan logo sebagai sebuah kerugian, Levi's justru meresponsnya dengan cara yang kreatif. Perusahaan langsung membuat kampanye pemasaran dengan menutup logo resminya dan menyisakan siluet Batwing, lengkap dengan tulisan “No One’s Gonna Know."

Dalam situs resmi Levi's Indonesia, logo tanpa nama tersebut terpampang di halaman utama dan justru menjadi alat untuk memasarkan baju-baju bernuansa sepak bola yang selaras dengan momen Piala Dunia.

Di sisi lain, melalui kampanye ini, Levi's ingin menunjukkan bahwa identitas visual yang kuat tidak selalu bergantung pada keberadaan nama atau logo secara utuh. Logo tanpa nama ini pun dapat dilihat di situs dan media sosial resmi Levi’s, termasuk gerai-gerai yang tersebar di banyak negara.

Berdasarkan unggahan Levi’s di media sosialnya, gerai-gerai Levi’s di Paris, London, Brasil, Meksiko, Hong Kong, Berlin, Milan, hingga UAE sudah melakukan penutupan logo menggunakan material berwarna putih yang mengikuti bentuk Batwing.

Levi’s bahkan bergurau dengan membubuhkan caption berbunyi “come visit, if you can find us”, seolah-olah memberitahu bahwa orang-orang tetap akan mengenali logonya walau tertutup.

Tak hanya di luar negeri, gerai Levi’s Indonesia juga mengikuti kampanye ini dan menutup logo tokonya yang ada di Senayan City. Langkah ini juga langsung menarik perhatian publik dan membuat nama Levi’s semakin sering dibicarakan.

Contoh Nyata Efek Streisand

Header diajeng Tahan Diri Tidak Bergosip

Ilustrasi Viral. tirto.id/Quita

Penutupan logo Levi’s, yang juga diikuti oleh Levi’s Indonesia, merupakan contoh nyata fenomena yang dikenal sebagai Efek Streisand. Apa itu?

Dikutip dari situs Verywell Mind, Efek Streisand adalah fenomena ketika seseorang atau organisasi/perusahaan berusaha untuk menyembunyikan, membatasi, atau menghapus suatu informasi.

Namun, yang terjadi sebaliknya justru membuat informasi tersebut semakin menarik perhatian publik dan tersebar lebih luas. Istilah ini diambil dari nama aktris sekaligus penyanyi Barbra Streisand.

Sebagai informasi, pada 2003 silam, Barbra Streisand menuntut seorang fotografer bernama Kenneth Adelman. Fotografer tersebut mengambil foto garis pantai California dan tak sengaja memperlihatkan rumah mewah milik Barbra Streisand sehingga dianggap melanggar privasi.

Sebelum ada gugatan, foto itu hampir tidak mendapat perhatian publik dan hanya diunduh enam kali. Namun, gara-gara gugatan Barbra Streisand, berita soal rumah tersebut menjadi heboh sehingga membuat media dan publik mencari-cari foto yang dimaksud.

Dilarang Tampil, Malah Makin Viral

Ilustrasi Konten di Sosial Media
Ilustrasi Viral. foto/istockphoto/materi adv

Efek Streisand terjadi juga pada penutupan logo Levi’s. Sebelum logonya ditutup oleh FIFA, nama Levi’s memang sudah melegenda, tapi mungkin tidak terlalu banyak didiskusikan atau dibicarakan belakangan ini, terutama di media sosial.

Namun, penutupan logo justru memancing publik untuk kembali membicarakan merek yang satu ini, terutama bagaimana Levi’s memiliki identitas merek yang kuat karena tetap dikenali melalui bentuk logo Batwing-nya.

Meski konteksnya berbeda dengan kasus asli Efek Streisand, fenomena ini menunjukkan pola psikologis yang serupa. Ketika sebuah elemen visual yang sudah sangat dikenal sengaja "disembunyikan", perhatian publik justru tertuju pada hal tersebut.

Orang-orang yang sebelumnya mungkin hanya lewat di depan toko tanpa memperhatikan, kini justru berhenti, mengambil foto, lalu membagikannya ke internet.

Hal inilah yang ikut terjadi di Levi’s Indonesia. Video dan foto penutupan logonya tersebar di media sosial, memancing diskusi netizen, bahkan tak sedikit yang memuji langkah Levi’s dalam merespons kebijakan FIFA.

Tren Tutup Logo Diikuti Brand Lain

ilustrasi gerai Levi's
ilustrasi gerai Levi's. FOTO/iStockphoto

Uniknya, penutupan logo ini malah menjadi tren tersendiri. Sejumlah brand ternama di dunia diketahui meniru langkah Levi’s dalam menutup logo mereka.

Tujuannya tentu demi mendapatkan perhatian publik sekaligus membuktikan bahwa merek tersebut memiliki identitas yang kuat sehingga tetap dikenali walau logonya ditutupi.

Salah satu yang ikut meramaikan tren ini adalah Heinz. Merek saus terkenal tersebut menutupi sebagian label pada botol saus dan menambahkan tulisan "Unofficial Stadium Ketchup" dalam kampanyenya.

Tak hanya itu, Heinz bahkan sempat membagikan produk limited edition tersebut di Toronto. Selain Heinz, Gillette juga ikut menghadirkan materi promosi dengan logo yang disamarkan menggunakan busa cukur.

Ingin tahu berita viral lain yang ramai di Indonesia maupun dunia? Cek selengkapnya di tautan ini:

Kumpulan Artikel Viral

Baca juga artikel terkait VIRAL atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani