Menuju konten utama

Fantasi Hubungan Sedarah dan Selera Bokep Orang Indonesia

Keberadaan komunitas fantasi seksual sedarah erat kaitannya dengan selera bokep yang ditontonnya, selain faktor psikologi dan gangguan preferensi seksual.

Fantasi Hubungan Sedarah dan Selera Bokep Orang Indonesia
Ilustrasi Pendidikan Seksual. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan dengan grup Facebook “Fantasi Sedarah” yang berisi percakapan dan foto-foto tentang hubungan seksual sedarah atau inses, serta foto anak-anak kandung maupun saudara kandung. Grup tersebut diikuti oleh puluhan ribu anggota, seolah menyiratkan tak sedikit orang Indonesia menggandrungi fantasi hubungan seksual dengan anggota keluarga sendiri.

Usai viral dan memantik kontroversi, grup Facebook tersebut ditutup oleh Meta karena melanggar aturan. Pada 18 Mei, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan ke pihak Meta sebanyak enam grup media sosial bertema serupa.

Meski sudah ditutup, sejumlah tangkapan layar percakapan anggotanya kadung tersebar di berbagai media sosial. Salah satu percakapannya menunjukkan fantasi asusila seorang pengikut grup terhadap anak perempuannya sendiri, beserta tampilan foto anak bawah umur yang menjadi objek fantasinya.

Keberadaan dan popularitas grup semacam ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun telah ditutup, konten dan diskusi yang sempat berlangsung menunjukkan bahwa fantasi seksual inses telah menjadi konsumsi dan bahan obrolan banyak orang.

Fantasi Liar yang Menggambarkan Selera Bokep

Viralnya grup “Fantasi Sedarah” memunculkan pertanyaan: dari manakah asal mula fantasi inses atau hasrat seksual terhadap anggota keluarga sendiri? Bagaimana ia dapat menjangkau begitu banyak individu?

Secara historis, inses dianggap sebagai praktik tabu di hampir semua masyarakat karena alasan sosial, moral, dan biologis. Namun, di era digital, batas-batas tabu tersebut tampak makin kabur.

Salah satu faktor potensial yang dianggap membentuk fantasi seksual itu adalah paparan konten pornografi yang menyuguhkan narasi role play inses, cerita fiksi hubungan seksual antar-anggota keluarga.

Meskipun kategori eksplisit bertema inses dan pelecehan anak telah dihapus dari situs-situs seperti Pornhub sejak 2020, varian kategori lain yang mengandung elemen serupa tetap populer. Biar bagaimanapun, video bokep dengan kategori anggota keluarga adalah salah satu konten paling laris di dunia porno.

Berdasarkan data situs porno Pornhub per 2024, kategori “MILF” adalah kategori terpopuler kedua yang paling banyak ditonton, di bawah kategori “Hentai”. Sementara itu, “Step Mom” atau “Ibu Tiri” juga tercatat sebagai kategori yang paling banyak dicari di berbagai situs porno.

Jika ditelaah lebih jauh, kategori “MILF” atau “Mother I’d Like to F***” merupakan kategori porno yang memiliki konteks sosial-budaya. Berdasarkan jurnal Sexuality & Culture, bokep MILF begitu digandrungi karena melahirkan fantasi terhadap sosok ibu.

Sosok ibu yang dianggap mengayomi dan penuh pengorbanan menciptakan ketegangan erotis. Ia dipandang sebagai sosok berpengalaman dan dominan dalam perihal seksual.

Dari data terakhir 2017 yang diperoleh, berdasarkan rekapitulasi statistiknya, Indonesia menempati posisi ketiga dengan tema pencarian bokep kategori “Ayah”. Secara spesifik, tema ayah atau daddy menggambarkan seorang sosok yang lebih tua, menyetubuhi remaja, atau keluarga tiri.

Tema-tema film incestuous role play atau berpura-pura berperan sebagai ayah dan anak termasuk yang paling banyak dicari berbagai situs porno. Gambaran data di atas sedikit banyak memotret selera seksual dan fantasi tabu masyarakat kita.

Korelasi antara fantasi seksual menyimpang dan tontonan video porno menjadi relevan di Indonesia. Meskipun pemerintah melarang konten bokep, berdasarkan data Statista, Indonesia merupakan negara kedua yang paling banyak menonton bokep di seluruh dunia di laman Pornhub.

Sepanjang 2024, tayangan bokep Pornhub yang ditonton dari layanan internet Indonesia adalah sebanyak 765.4 juta tayangan, berada di bawah Amerika Serikat (AS) dengan jumlah 3.172 juta tayangan.

Berdasarkan data di situs porno lain, Indonesia juga menempati posisi tertinggi ketiga penonton terbanyak Xvideos, di bawah AS dan Brazil. Jumlahnya mencapai 5,7 persen dari total kunjungan di situs tersebut sepanjang 2024.

Ilustrasi Pendidikan Seksual

Ilustrasi Pendidikan Seksual. foto/istockphoto

Sebenarnya, ada teori psikologi lain yang menjelaskan dari mana asal fantasi inses, tidak hanya dari tayangan seksual. Misalnya, melalui pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud lewat konsep kompleks Oedipus (Oedipal complex). Menurut teori ini, anak-anak sebenarnya sedari dini mengembangkan ketertarikan seksual terhadap orang tuanya.

Dorongan tersebut terpendam di alam bawah sadar, serta tidak muncul karena alangan norma sosial di masyarakat. Namun, ketika terjadi dinamika keluarga tidak sehat, dorongan seksual ini dapat muncul, terkhusus kepada anggota keluarga sendiri, sebagaimana dikutip dari jurnal Postgraduate Medicine.

Sayangnya, teori psikoanalisis Freud tidak bisa dibuktikan secara ilmiah sehingga ditolak komunitas akademik. Selain itu, pandangan lainnya berkaitan dengan gangguan neuropsikologis dan gangguan preferensi seksual.

Maka dari itu, pandangan mengenai fantasi inses yang dikaitkan dengan preferensi tontonan bokep lebih mudah diterima khalayak umum.

Dengan demikian, fantasi seksual bertema inses muncul dari interaksi kompleks antara faktor psikologis, kognitif, budaya, dan neurologis. Keberadaan media seksual yang “menormalisasi” tema tersebut dapat memperbesar kemungkinan fantasi ini berkembang dan menetap.

Fantasi Seksual Menyimpang Berpotensi Mewujud Perbuatan?

Salah satu kekhawatiran terhadap tema inses di grup Facebook “Fantasi Sedarah” muncul dikarenakan melibatkan anak kecil. Beberapa unggahan di grup tersebut menggambarkan secara vulgar keinginan orang dewasa menggagahi anak di bawah umur, bahkan anak kandungnya sendiri.

Fantasi seks ke arah pedofilia mengundang kekhawatiran pelbagai pihak, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Pasalnya, fantasi seksual terhadap anak-anak tak mustahil berujung pelecehan dan kekerasan seksual.

Hal itu bisa dilihat dari maraknya kasus kekerasan di rumah tangga, termasuk kekerasan seksual. Berdasarkan data terbaru KemenPPPA, rumah menjadi tempat paling rentan bagi korban kekerasan, dengan jumlah kasus mencapai 5.909, jauh dibanding sekolah, fasilitas umum, dan tempat kerja. Bentuk kekerasan yang dialami juga lebih banyak berupa kekerasan seksual (4.196).

"[Keberadaan grup "Fantasi Sedarah" dan sejenisnya] mengancam keselamatan dan masa depan anak-anak Indonesia. Fantasi seksual yang melibatkan inses bukan hanya tidak pantas, tetapi juga dapat merusak persepsi publik terhadap hubungan keluarga yang sehat," ujar Sekretaris Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu, dalam keterangannya, Sabtu (17/5/2025).

Fantasi tabu semacam itu sukar dinyatakan terang-terangan di dunia nyata. Maka dari itu, di ruang maya yang anonim, ia tumbuh subur. Mereka bertemu secara daring dan bertukar hal-hal yang berkaitan dengan hasrat liar yang mereka pendam.

Psikolog forensik Michael C. Seto dalam Internet Sex Offenders (2013) menyebutkan, komunitas daring bertema tindakan seks menyimpang tak jarang ditemukan di ruang maya. Orang-orang yang mengembangkan fantasi tabu menemukan pembenaran melalui komunitas daring yang memperkuat ilusi bahwa tindakan mereka dapat diterima.

Jika melihat percakapan grup “Fantasi Sedarah”, hasrat liar tersebut sebagian tertuju pada anak di bawah umur. Biar bagaimanapun, anak-anak dianggap tidak mengancam secara psikologis sehingga menjadi objek fantasi. Anak-anak yang “tak bisa melawan” rawan menjadi incaran predator seksual.

Tidak hanya itu. “Bagi sebagian predator seksual, semakin rentan seorang anak, semakin ia menggairahkan,” ungkap Amanda Naylor, pemerhati kasus pelecehan seksual anak dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barnardo's.

Ilustrasi Fantasi Seksual

Ilustrasi Fantasi Seksual. foto/istockphoto

Populernya kategori pornografi tabu di situs-situs porno membuktikan bahwa fantasi seksual menyimpang lebih umum daripada yang disangka publik. Tontonan semacam itu pun tidak menutup kemungkinan melahirkan tindakan seksual menyimpang. Dalam hal ini adalah kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Menurut penelitian oleh Hald & Malamuth (2008) yang terbit di Archives of Sexual Behavior, tontonan pornografi eksplisit tidak selalu memengaruhi tindakan seksual di dunia nyata. Meski kecil, kemungkinan dan pengecualian selalu ada, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti impulsivitas tinggi atau kebiasaan menormalisasi agresi seksual.

Orang-orang yang melakukan agresi seksual, pemerkosaan, pedofilia, dan tindakan menyimpang lainnya, bisa dipastikan cenderung mengonsumsi konten-konten porno tersebut.

“Banyak pedofil dan orang yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak kecil mengalami periode peningkatan [karena tayangan video porno],” ujar Michael Sheath, konselor kekerasan seksual dari Lucy Faithfull Foundation, Inggris, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Periode peningkatan yang dimaksud adalah normalisasi karena menonton video-video porno tersebut, misalnya tayangan inses, video seks dengan anak di bawah umur, hingga video bokep pemerkosaan.

Konten bokep menyimpang yang diputar dan ditonton berulang-ulang lambat laun dianggap lazim oleh orang-orang tersebut. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bertajuk “Processes Underlying the Effects of Adolescents’ Use of Sexually Explicit Internet Material: The Role of Perceived Realism”, dipublikasikan di jurnal Communication Research.

Partisipan penelitian, yang menganggap pornografi sebagai konten realistis (menggambarkan dunia nyata), cenderung menginternalisasi cara pandang seks dari video tersebut ke kehidupan nyata. Artinya, bagi mereka, pornografi bukan sekadar hiburan, tetapi juga sumber pembelajaran tentang “bagaimana seks seharusnya terjadi”, termasuk juga tindakan seksual menyimpang.

Terlebih, lewat komunitas daring, orang-orang berpikiran sama berkumpul, berbagi pengalaman, berkirim foto, saling mendukung satu sama lain untuk melanggengkan tindakan asusila mereka. Tidak mustahil, jika grup semacam ini dibiarkan, bisa jadi anak atau anggota keluarga kita jadi korbannya.

===============

Abdul Hadi merupakan akademisi di bidang psikologi, lulusan Magister Psikologi Sosial dan Kesehatan Utrecht University.

Tirto.id membuka peluang bagi para ahli, akademisi, dan peneliti, untuk memublikasikan hasil riset keilmuan. Jika berminat, silakan kirim surel ke mild@tirto.id untuk korespondensi.

Baca juga artikel terkait FANTASI SEKS atau tulisan lainnya dari Abdul Hadi

tirto.id - GWS
Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Fadli Nasrudin