Menuju konten utama

ESDM Kaji Pengalihan Subsidi LPG untuk Gasifikasi Batu Bara

Dengan adanya subsidi, harga jual DME diharapkan bisa menjadi lebih ekonomis.

ESDM Kaji Pengalihan Subsidi LPG untuk Gasifikasi Batu Bara
Yuliot Tanjung melambaikan tangan saat bersiap untuk dilantik menjadi Wakil Menteri Investasi oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/7/2024). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah membuka peluang pengalihan anggaran subsidi LPG 3 kilogram (kg) untuk program gasifikasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME). Dus, harga jual pengganti gas minyak cair tersebut diharapkan bisa menjadi lebih ekonomis.

Karena itu, saat ini Kementerian ESDM tengah menghitung secara detil harga pokok produksi (HPP) proyek pengembangan dimetil eter ini.

"Jadi kita lagi memperhitungkan berapa HPP untuk DME kalau memang ada subsidi itu kan juga merupakan pengalihan subsidi dari untuk LPG yang ada saat ini," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, dikutip Sabtu (13/12/2025).

Yuliot menuturkan, program DME disebut menjadi sebuah keniscayaan untuk mengurangi realisasi impor LPG.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi LPG domestik hanya 1,3 juta ton. Dengan demikian, Indonesia disebut masih harus mengimpor sekitar 7-7,5 juta ton LPG setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sayangnya, proyek hilirisasi batu bara ini mandek sejak Air Products & Chemical Incyang sebelumnya digadang-gadang sebagai investor utama—menyatakan mundur.

"Kita akan melakukan substitusi impor dengan mendorong DME. DME ini adalah hilirisasi dari batubara dengan menggunakan low calorie dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan LPG," kata Bahlil di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2025).

"Nah, ini sekarang hasil studinya sudah serahin kepada Danantara dan insyaAllah di awal tahun atau di akhir tahun ini sudah bisa kita eksekusi secara bertahap," sambungnya.

Sebagai informasi, keterbatasan sumber daya gas menjadi salah satu penyebab Indonesia belum mampu memproduksi LPG dalam jumlah besar. Gas alam yang dimiliki Indonesia disebut berkualitas C1 dan C2, sedangkan LPG membutuhkan gas C3 dan C4.

Karena itu, konversi dari batu bara menjadi DME dinilai sebagai solusi yang realistis. Teknologi itu memungkinkan batubara kalori rendah yang selama ini kurang dimanfaatkan diubah menjadi bahan bakar rumah tangga pengganti LPG.

“Selama ini gas kita kualitasnya C1, C2, sementara LPG itu C3, C4. Maka apa yang harus dilakukan? Kita dorong hilirisasi batubara jadi DME. Dengan begitu, kita bisa hemat devisa, manfaatkan sumber daya dalam negeri, dan bantu ekonomi lokal,” ujar Bahlil.

Baca juga artikel terkait SUBSIDI ENERGI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana