tirto.id - Di tengah tanggung jawabnya sebagai Kepala Desa Puspasari, Sri Darawangi (42) menjalani perjuangan panjang melawan kanker payudara. Sejak didiagnosis pada 2020, ia terus menjalani berbagai tahapan pengobatan. Di balik proses tersebut, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan menjadi penopang utama agar ia layanan kesehatan terjamin.
Sri mengungkapkan telah menjadi peserta BPJS Kesehatan selama sekitar satu dekade. Awalnya, ia menemukan benjolan pada payudara yang kemudian diperiksa melalui tindakan biopsi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa benjolan tersebut bersifat ganas.
“Sejak 10 tahun yang lalu, sudah lama menggunakan BPJS Kesehatan. Saya tahun 2020 terdeteksi ada benjolan di payudara dan saya melakukan biopsi, dinyatakan di lab dan hasilnya itu positif ke arah kanker,” ujar Sri.
Usai menerima diagnosis, Sri segera menjalani rangkaian terapi. Ia mengaku bersyukur karena seluruh layanan medis yang dibutuhkan dapat diakses melalui Program JKN.
“Alhamdulillah, sejak pertama menjalani pemeriksaan di RS Trimitra, seluruh pengobatan saya ditanggung BPJS Kesehatan. Pelayanannya juga cepat, saya langsung mendapat penanganan di IGD dan kamar perawatan tanpa menunggu lama,” jelasnya.
Dalam perjalanan pengobatan, hasil pemeriksaan USG menunjukkan kanker yang dideritanya telah menyebar ke organ hati. Setelah itu, ia mendapat rujukan dokter dan rumah sakit yang melayaninya.
“Alhamdulillah saya dipertemukan dengan rumah sakit yang terintegrasi bagi para penyintas kanker yaitu RS Sentral Medika Cibinong DI SWICC. Qadarullah saya juga bertemu dokter yang menangani kondisi saya dengan sangat baik. Saat mengetahui saya memiliki BPJS Kesehatan, beliau langsung membantu mengarahkan proses administrasi dan pengobatan sehingga saya bisa menjalani kemoterapi di rumah sakit tersebut,” kata Sri.
Selama menjalani pengobatan, Sri merasakan besarnya manfaat Program JKN. Ia memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan akan sangat besar apabila seluruh terapi ditanggung secara mandiri.
“Kalau misalkan saya tidak ikut program kesehatan ini, berapa uang yang saya keluarkan. Dihitung saja saya melakukan kemo sebanyak 22 kali dan sekali kemo saja sampai 30 juta rupiah. Belum obat yang harus saya konsumsi setiap bulan, itu kan rutin tidak boleh putus. Belum juga obat untuk terapi hormon di perut, kurang lebih saya tiga tahun menggunakan zoladex. Itu juga semuanya alhamdulillah dijamin, tidak ada selisih yang harus saya bayar. Makanya kemudahan fasilitas yang JKN berikan untuk saya sangat-sangat bermanfaat. Terima kasih banyak,” terangnya.
Ke depan, Sri berharap fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Program JKN di Kabupaten Bogor semakin lengkap, terutama untuk layanan radioterapi.
“Mudah-mudahan ke depannya di Kabupaten Bogor layanan kesehatan yang tersedia melalui JKN semakin lengkap dan teritegrasi, terutama untuk radioterapi. Untuk rumah sakit yang ada di Kabupaten Bogor juga bisa lebih kompleks pengobatannya. Saya juga bersyukur karena selama menjalani pengobatan, pelayanan yang diberikan sangat baik dan tidak membedakan pasien BPJS maupun umum," tuturnya.
Selain menjalankan tugas sebagai kepala desa, Sri juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjadi peserta JKN dan menjaga status kepesertaan tetap aktif. Ia turut mengenalkan Program REHAB kepada warga yang memiliki tunggakan iuran agar dapat kembali memperoleh perlindungan kesehatan.
“Alhamdulillah di sini saya selalu menginfokan ke kader, dan kader yang meneruskan ke warga untuk yang belum ikut segera ikut Program JKN. Memang ada beberapa yang bermasalah karena menganggap BPJS Kesehatan buat yang sakit saja. Mereka abai tidak dibayar, giliran sudah sakit berapa yang harus dikeluarkan. Alhamdulillah kita juga suka ikut Program REHAB dari BPJS Kesehatan. Saya juga pernah membantu seseorang menggunakan program itu karena keadaan ekonomi dan alhamdulillah sekarang BPJS Kesehatannya sudah aktif kembali,” ujarnya.
Menutup ceritanya, Sri menyampaikan apresiasi kepada BPJS Kesehatan dan seluruh peserta JKN yang secara tidak langsung turut menopang keberlangsungan program melalui semangat gotong royong.
“Saya juga berterima kasih kepada para peserta yang alhamdulillah sehat sehingga BPJS Kesehatannya tidak dipergunakan. Jadi itu mungkin subsidi untuk kami. Saya ucapkan terima kasih, semoga semuanya sehat,” tutup Sri.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































