Menuju konten utama

Duduk Perkara Pengeroyokan Pesilat Pagar Nusa di Semarang-Demak

Selepas kejadian, kepolisian mengaku langsung bergerak melakukan penyelidikan, termasuk memburu pelaku.

Duduk Perkara Pengeroyokan Pesilat Pagar Nusa di Semarang-Demak
Ayah almarhum, Nadirin (batik biru), saat menerima tamu dari Pagar Nusa yang melayat di kediamannya, Senin (29/12/2025) malam. (FOTO/dok. pagar nusa)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pesilat Pagar Nusa tewas mengenaskan usai menjadi korban pengeroyokan jalanan. Kematian korban menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan organisasi pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Korban bernama Mohammad Bimo Saputra, remaja 17 tahun. Anggota Pagar Nusa Kota Semarang ini diduga dikeroyok sekelompok orang dari geng balapan liar, di perbatasan Semarang–Demak, Jumat (26/12/2025) dini hari.

Rangkaian pengeroyokan brutal utamanya terjadi di Jembatan Layang Ganefo, Mranggen, Demak. Kejadian itu terekam beberapa kamera amatir yang videonya beredar luas di media sosial.

Salah satu video memperlihatkan puluhan orang berkerumun di jalan. Sementara itu, korban sudah babak belur: bibir jontor, pelipis memar, dan darah membasahi wajah. Saat itu, Bimo masih hidup—dia jongkok sembari meminta belas kasih.

Di saat kejadian, Bimo tampak mengenakan celana jeans panjang berwarna biru dan berkaus pendek warna senada. Di beberapa video amatir, korban terlihat sudah tanpa alas kaki. Remaja berambut cepak itu juga mengenakan aksesori kalung dan cincin.

Ada pula video yang merekam korban mendapat pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Korban tak diberi ruang untuk bangkit. Saat sudah tersungkur, kekerasan justru berlanjut. Tubuhnya diinjak dan dihantam benda keras.

Dari puluhan orang yang berkerumun melakukan pengeroyokan itu, hanya satu-dua orang yang mencoba melerai. Namun, leraian itu tak mampu menghentikan aksi keji tersebut.

Yang lebih miris, terdapat video yang menunjukkan Bimo sudah lemas dan tengkurap di jalur pedestrian. Meski begitu, intimidasi verbal dan tindakan kekerasan belum berhenti. Keadaan Bimo kian mengenaskan.

Polisi yang datang ke lokasi kejadian lantas mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Pelita Anugerah Mranggen, Demak. Namun, nyawa korban tak bisa diselamatkan.

Tragedi pengeroyokan berujung kematian ini lantas menjadi sorotan publik. Bukan hanya soal satu korban, tapi tentang brutalitas yang dibiarkan tumbuh di jalanan. Jika tak dihentikan, kekerasan serupa bisa kembali terulang.

Bagi pihak Pagar Nusa, kepergian Bimo bukan sebatas kehilangan individu, tapi juga duka kolektif. Hal itu memicu amarah, terutama bagi para pesilat seperguruan.

"Pagar Nusa berduka. Pagar Nusa tidak terima. Pagar Nusa menyatakan perang terhadap geng balapan liar," begitu seruan organisasi.

Pengeroyokan Pesilat Pagar Nusa di Semarang-Demak

Ketua PW Pagar Nusa Jateng, Arief Rohman (kedua dari kiri), usai bertakziah di rumah korban, di Semarang, Senin (29/12/2025) malam. (FOTO/dok. pagar nusa)

Kronologi versi Pagar Nusa

Korban Bimo semula mengikuti kopdar alias pertemuan anggota Pagar Nusa lintas daerah di Pucang Gading, Mranggen, Demak, Kamis (25/12/2025) malam. Korban sendiri berasal dari Kota Semarang.

Wakil Ketua Pagar Nusa Kota Semarang, M. Ichwan, mengatakan, kopdar di Pucang Gading merupakan pertemuan nonformal. Karena itu, pesertanya mayoritas tidak menggunakan atribut organisasi.

"Kopdar sifatnya kultural. Itu diikuti anak-anak muda yang masih SMP sampai mahasiswa," kata Ichwan saat menjelaskan kronologi kejadian, Senin (29/12/2025).

Menurut informasi yang dia himpun, kopdar selesai di tengah malam. Saat rombongan bubar, korban bersepeda motor mengantar teman-temannya yang hendak pulang ke arah Karangawen, Demak.

Saat melintasi Jalan Brigjend Sudiarto, Kota Semarang—terkenal sebagai lokasi balap liar—rombongan korban diteriaki “gangster”. Mendengarnya, rombongan bergegas menjauh melanjutkan perjalanan.

Selepas itu, rombongan korban malah dikejar. Saat itu, Bimo berboncengan dengan rekannya, Bintang. Posisi motor mereka berada di paling belakang sehingga paling rentan menjadi sasaran.

"Menurut korban selamat, yang mengejar banyak, lebih dari sepuluh orang. Pas [melintas] di Pasar Mranggen, korban sempat dilempari batu," beber Ichwan.

Nahas, ketika berada di Jembatan Layang Ganefo Mranggen, Bimo terkejar. Motornya kena tendang sampai dia terjatuh. Aksi main hakim sendiri pun terjadi. Korban Bimo dikeroyok, sementara Bintang berhasil kabur.

"Begitu jatuh, korban langsung dipukuli, ditendang, diinjak. Ada yang mukul pakai papan skateboard,” ujar Ichwan.

Gara-gara pengeroyokan itu, Bimo mengalami luka serius di bagian kepala dan leher. Luka luar pun terlihat jelas.

Polisi Buru Pelaku

Ketua Pagar Nusa Kota Semarang, Ahmad Ghozali, meminta kepolisian secepatnya menangkap para pelaku. Dia memberi atensi kepada rombongan balap liar yang diduga bagian dari pelaku pengeroyokan.

"Kami menuntut polisi membubarkan aktivitas balapan liar di seluruh kawasan Semarang maupun Demak," tulis Ghozali dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (27/12/2025).

Ghozali bahkan sempat mengultimatum kepolisian. Jika aparat lamban usut kasus ini, dia tak bisa lagi membendung solidaritas pesilat dan masyarakat yang ingin memberantas balapan liar.

Aksi pengeroyokan berujung maut itu terjadi di wilayah hukum Polres Demak. Selepas kejadian, kepolisian mengaku langsung bergerak melakukan penyelidikan, termasuk memburu pelaku.

Kapolres Demak, AKBP Ari Cahya Nugraha, membenarkan adanya tindakan pengeroyokan di Jembatan Ganefo. Pada Sabtu (27/12/2025), kepolisian sudah mengamankan tiga orang terkait kasus tersebut.

Namun, dia belum bersedia menjelaskan identitas masing-masing orang yang diciduk. Polisi masih mendalami apakah mereka merupakan pelaku pengeroyokan atau sebatas saksi.

"Kami amankan tiga orang. Perannya apa, apakah terlibat atau tidak, masih diperiksa," jelas AKBP Ari melalui sambungan telepon, Sabtu.

Menurut informasi yang dihimpun, tiga orang yang ditangkap berinisial WS (28), MB (21), serta satu anak berhadapan dengan hukum. Kabarnya, sudah ada dua orang lain yang ditangkap, yakni REA (18) dan MIA (16).

Saat dikonfirmasi lebih lanjut pada Senin (29/12/2025), Kapolres Demak belum menjawab berapa orang yang ditangkap, status hukumnya bagaimana, dan apa peran dalam pengeroyokan itu.

Desakan Usut Tuntas

Ayah almarhum korban Bimo, Nadirin, tak mampu menyembunyikan amarahnya saat menyampaikan tuntutan keadilan. Dengan suara berat, ia menegaskan kematian anaknya tak boleh berlalu tanpa pertanggungjawaban setimpal.

"Ya tentu keluarga kami harus mendapat keadilan. Nyawa anak saya harus diganti nyawa juga," ucapnya menahan emosi di hadapan para pelayat, Senin (29/12/2025) malam.

Nadirin secara khusus meminta aparat tak hanya memburu geng motor yang terlibat, tetapi juga geng skateboard. Ia menyebut salah satu pelaku memukul Bimo dengan papan skateboard—pukulan yang diyakini paling mematikan.

"Jangan hanya memburu geng motor. Buru juga geng skateboard," katanya tegas.

Ketua PW Pagar Nusa Jawa Tengah, Arief Rohman, yang takziah ke rumah duka bersama rombongan mencoba menenangkan keluarga. Dia mengajak semua pihak mempercayakan penanganan kasus kepada kepolisian.

Arief yang juga merupakan Bupati Blora itu mendoakan agar almarhum diampuni segala dosanya, diterima amal baiknya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.

Arief juga tak memungkiri kepergian korban memicu amarah besar di internal perguruan silat. Dia menyebut anggota Pagar Nusa dari berbagai daerah datang untuk bersolidaritas. Namun, dia menegaskan pihaknya terus berupaya menahan eskalasi.

“Kami sudah sekuat tenaga menahan amarah mereka. Kami imbau para pendekar agar tidak bertindak di luar komando organisasi,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait PENGEROYOKAN atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - News Plus
Reporter: Baihaqi Annizar
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi