Dua Wajah Jakarta

Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Potret kemiskinan di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico
Ratusan gedung yang mencakar langit menjadi simbol kemewahan Jakarta. Namun di tengah menjulangnya mal-mal mewah, apartemen puluhan lantai, juga deretan perumahan elite, kita tak bisa memungkiri kalau Jakarta punya wajah lain: perkampungan kumuh, warga yang tinggal di bantaran sungai, dan mereka yang hidup di tengah keterbatasan.
14 November 2016
Ratusan gedung yang mencakar langit menjadi simbol kemewahan Jakarta. Namun di tengah menjulangnya mal-mal mewah, apartemen puluhan lantai, juga deretan perumahan elite, kita tak bisa memungkiri kalau Jakarta punya wajah lain: perkampungan kumuh, warga yang tinggal di bantaran sungai, dan mereka yang hidup di tengah keterbatasan. Jakarta adalah bukti di mana ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin begitu nyata dan tampak di pelupuk mata.


Salah satu potret ketimpangan ekonomi terlihat di pemukiman pinggir rel kereta api Tanah Abang, Jakarta Pusat. Puluhan rumah semi permanen berdinding kardus, triplek bekas, dan beratapkan seng berkarat berjejer di kawasan tersebut. Udara pengap, lembab, dan bau tak sedap semakin terasa ketika memasuki pemukiman yang telah berdiri sejak tahun 1990-an itu. Tak sampai satu kilometer dari pemukiman kumuh itu, berdiri kokoh apartemen mewah yang harga satu unitnya seharga miliaran rupiah.

Begitu pula yang bisa disaksikan di kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara. Ratusan rumah berdinding triplek berjajar berhimpitan. Disaksikan gedung-gedung vertikal yang berdiri kokoh dan pongah. Warga terus bertahan meskipun hunian tersebut tak sehat dan tak layak ditinggali. Ancaman penggusuran menjadi hal biasa bagi mereka. Tak ada pilihan lain untuk mereka yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung. Pendapatan mereka tak cukup untuk mengontrak rumah yang layak atau rumah susun sederhana, apalagi membeli apartemen wah yang berdiri megah tak jauh dari pemukiman itu.

Jika ketimpangan ekonomi ini tak bisa diatasi, dampaknya akan semakin memburuk dan bisa menimbulkan konflik sosial. Hal itu bisa dibuktikan dari riset Bank Dunia yang menyebutkan daerah-daerah dengan tingkat ketimpangan ekonomi lebih tinggi, rasio konfliknya menjadi 2 kali lebih besar dibandingkan daerah dengan tingkat ketimpangan lebih rendah. Hal tersebut terus menjadi pekerjaan besar bagi siapapun yang memimpin ibukota.

Foto dan teks: Andrey Gromico
Dari Sejawat
Infografik Instagram