Menuju konten utama

Kasih Negeri Dalam Sepiring Nasi

Trihana Verlita Graciano menyusuri jalan menuju SMA PGRI Waingapu, sekolah yang ia tempuh selama 30 menit

Kasih Negeri Dalam Sepiring Nasi
Suasana dapur Trihana Verlita Graciano Tobias di rumahnya di Waingapu. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/02_6199.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias (tengah) berpose menggunakan seragam di depan rumah bersama kedua orang tuanya. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/05_6202.jpg
Sejumlah pelajar melintas di depan SMA PGRI Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/09_6205.jpg
Menu makan bergizi gratis (MBG) untuk siswa-siswi SMA PGRI Waingapu yang disediakan oleh SPPG Kamalaputi Sumba Timur 2. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/07_6204.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias (kedua kanan) mengambil makan bergizi gratis (MBG). ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/10_6206.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias menikmati makan bergizi gratis (MBG) di SMA PGRI Waingapu. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/13_6209.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias (tengah) bermain bersama anak-anak di Bukit Wairinding, Kabupaten Sumba Timur, NTT. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/12_6208.jpg
Sejumlah pelajar melintas di Hiliwuku, Kabupaten Sumba Timur, NTT. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/01_6198.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias bermain kuda di Bukit Wairinding, Kabupaten Sumba Timur, NTT. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga
2025/11/05/04_6201.jpg
Trihana Verlita Graciano Tobias berjalan menuju sekolah. ANTARAFOTO/ Rivan Awal Lingga

tirto.id - Di sela pagi yang cerah saat mentari menari lembut di balik dedaunan, Trihana Verlita Graciano Tobias melangkah ringan menyusuri jalan menuju SMA PGRI Waingapu, sekolahnya yang ia tempuh selama 30 menit.

Gadis remaja berusia lima belas tahun itu dikenal tekun dan penuh semangat, meski hidupnya bergelayut pada harapan yang sederhana. Ia menyimpan mimpi menjadi seorang guru, sebuah cita-cita yang tumbuh dari tanah kering.

Langkah demi langkah ia hayati dalam diam, seraya membayangkan hangatnya semangkuk makan pagi yang kini tak lagi sekadar harapan. Sejak program makan bergizi gratis (MBG) hadir di sekolahnya, pagi siswi kelas 11 itu tak lagi diiringi oleh rasa lapar.

Ratusan paket makan bergizi gratis (MBG) telah tersaji, menanti jemari kecil yang lapar ilmu di SMA PGRI Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Makanan bukan semata pengisi perut yang kosong melainkan suluh bagi pikiran yang ingin menyala.

Sebelum hadirnya program MBG, Trihana dan kawan-kawan menapaki pagi dengan perut hampa melangkah ke sekolah dalam keadaan lapar. Di ruang kelas mereka berjuang menautkan perhatian meski kepala ringan dan tubuh rapuh oleh perut yang belum bersua nasi.

Sekarang, sejak hadirnya program MBG, gadis yang gemar berkuda itu selalu menanti dengan riang detik-detik menuju pukul sembilan pagi di sekolah. Dengan perut yang tak lagi kosong dan hati penuh semangat, ia merasakan hadirnya daya baru yang lebih jernih untuk menyimak pelajaran dan lebih berseri menyambut pagi di sekolah yang menjadi tumbuhnya harapan.

Saat itulah, bersama sahabat-sahabat sebayanya ia menikmati santapan bergizi gratis yang telah diracik cermat oleh tangan ahli gizi dengan menu sayur sop, tahu dan tempe, sebutir telur penuh energi, dan manisnya semangka yang menyegarkan.

Program mulia itu tak lepas dari peran SPPG Kamalaputi Sumba Timur 2 yang hadir laksana pemadam kelaparan di tengah gersangnya perut-perut kecil yang merindukan asupan gizi.

Awalnya SPPG tersebut hanya mampu meracik 2.000 paket MBG, kemudian secara bertahap hingga saat ini sebanyak 3.417 porsi hangat dan bernutrisi berhasil mereka antarkan setiap harinya ke sepuluh sekolah di Kota Waingapu.

Begitulah kasih negeri yang dititipkan dalam sepiring nasi agar langkah para pelajar tak tertatih oleh lapar melainkan tegap menuju cahaya pengetahuan.

Foto dan teks: Rivan Awal Lingga

Editor : Akbar Nugroho Gumay

Baca juga artikel terkait PHOTO STORY atau tulisan lainnya dari Qurrota Ayun

Oleh: Qurrota Ayun