Menuju konten utama

Drone Iran Diduga Serang Pangkalan Militer Inggris

Inggris sedang menyelidiki serangan yang diduga merupakan drone Iran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan ringan di pangkalan militer.

Drone Iran Diduga Serang Pangkalan Militer Inggris
Petugas polisi berjaga di gerbang pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Akrotiri, wilayah seberang laut Inggris di dekat kota pesisir Limassol, Siprus. (Foto oleh Iakovos Hatzistavrou / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dua drone Iran diduga menyerang Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Akrotiri, Siprus. Serangan ini terjadi setelah Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan bahwa Inggris akan mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalannya untuk menyerang Iran.

“Semua layanan berwenang republik berada dalam siaga dan kesiapan operasional penuh,” kata Presiden Nikos Christodoulides dalam pidatonya pada hari Senin (2/3/2026), dikutip Aljazeera.

Dua drone tipe Shahed menyebabkan kerusakan ringan ketika jatuh di fasilitas militer pada pukul 00.03 waktu setempat (22.00 GMT).

“Saya ingin menegaskan, negara kami tidak berpartisipasi dengan cara apa pun dan tidak berniat menjadi bagian dari operasi militer apa pun,” kata Christodoulides.

Akrotiri, di sebelah barat daya kota pesisir Limassol, adalah salah satu dari dua pangkalan yang tetap dipertahankan Inggris di bekas koloninya sejak kemerdekaan pada tahun 1960. Selain fasilitas militer, pangkalan tersebut juga menjadi tempat tinggal keluarga personel yang bertugas.

Otoritas pangkalan menyarankan warga yang tinggal di sekitar Akrotiri untuk tetap berada di dalam rumah sampai pemberitahuan lebih lanjut setelah adanya “dugaan serangan drone”, serta menambahkan bahwa personel non-esensial akan dipindahkan dan fasilitas Inggris lainnya akan beroperasi seperti biasa.

Serangan pada Senin dini hari, yang merupakan yang pertama terhadap fasilitas militer Inggris itu, menandai eskalasi dalam konflik yang kini memasuki hari ketiga, sejak 28 Februari 2026.

Inggris Selidiki Apakah Drone Tersebut Berasal dari Iran

Menteri Dalam Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah masih menyelidiki rincian serangan untuk menentukan sumber, lokasi, dan waktunya.

“Kami telah melihat serangan Iran — serangan drone dan rudal — terhadap mitra-mitra di kawasan Teluk serta sejumlah wilayah yang tidak terlibat dalam serangan apa pun terhadap Iran, dan ini benar-benar menunjukkan betapa seriusnya dan cerobohnya perilaku rezim Iran,” kata Cooper.

Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, sebelumnya pada Minggu sore mengatakan bahwa pasukan dan warga sipil Inggris di Timur Tengah menghadapi risiko akibat serangan Iran.

Dalam insiden terpisah sebelumnya, Healey mengatakan dua rudal balistik ditembakkan menuju Siprus, meskipun ia “cukup yakin” bahwa negara tersebut bukan targetnya.

Seorang juru bicara pemerintah Siprus kemudian mengatakan bahwa Keir Starmer telah “secara jelas mengonfirmasi bahwa Siprus bukan target” dalam percakapan telepon dengan Presiden Christodoulides.

Pada hari Minggu, jet tempur Eurofighter Typhoon RAF yang beroperasi dari Qatar menembak jatuh sebuah drone Iran dalam patroli udara “defensif”, menurut Kementerian Pertahanan Inggris.

Itu merupakan pertama kalinya jet tempur Inggris menjatuhkan drone Iran sejak serangan antara AS dan Iran dimulai.

Sebelumnya, unit penangkal drone Inggris di Irak juga menembak jatuh drone Iran yang menuju pangkalan koalisi yang menampung personel militer Inggris.

Namun, Sir Keir mengatakan bahwa Inggris telah belajar dari “kesalahan Irak”, tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran, dan “tidak akan bergabung dalam tindakan ofensif saat ini”.

Sir Keir menyatakan bahwa dasar keputusan menerima permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris adalah “pertahanan diri kolektif” para sekutu serta perlindungan nyawa warga Inggris, seraya menuduh Iran menjalankan “strategi bumi hangus”.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra