Donasi Kay-Oxford Jadi Kontroversi, Apa Risiko Galang Dana Online?

Oleh: Widia Primastika - 16 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Bagi para pendonor, jangan lupa menelusuri profil penggalang dana agar tak terjebak kampanye fiktif.
tirto.id - Nama saya Kay Jessica. Terimakasih telah mengunjungi halaman ini. Saya dari Indonesia dan saya sedang menggelar gelar Magister Hukum saya dari Universitas Oxford, Inggris. Cerita ini akan menjadi tulisan yang panjang mengenai kisah dan perjuangan saya untuk mendapatkan gelar Master dari Universitas Oxford, Inggris.

Ini adalah kali pertama dimana saya bercerita mengenai hidup saya secara terbuka, di situs ini. Saya menyimpan masalah ini hampir setahun lamanya. Baru sekarang, saya memiliki keberanian untuk membuat halaman penggalangan dana ini, karena saya tidak memiliki pilihan lain selain mencoba opsi ini dan berharap saya dapat berhasil menggalang dana demi mendapatkan gelar saya dari Universitas Oxford.

Kegelisahan dan ketakutan ini selalu menghantui saya setiap hari dan setiap detik, mengingat ada kemungkinan saya dapat kehilangan gelar Magister Hukum saya dari Universitas Oxford, jika saya tidak menyelesaikan permasalahan biaya yang ada. Maka dari itu, saya akan menjelaskan kepada teman-teman pembaca semua mengenai situasi dan permasalahan yang saya hadapi pada saat ini.

Tiga paragraf pembuka tadi adalah kampanye donasi yang dilakukan oleh Kay Jessica di situs donasi Kitabisa.com. Kay menceritakan kesulitan keuangan yang dia alami untuk melanjutkan kuliah, selain usaha-usaha yang telah ia lakukan untuk bisa membayar biaya kuliahnya di salah satu universitas terbaik di dunia itu. Uang yang ia butuhkan Rp178.576.669.

Di Indonesia, permintaan donasi untuk biaya pendidikan pribadi kalah banyak dibandingkan kampanye donasi kesehatan. Namun, ternyata melalui akun di Kitabisa.com, Kay berhasil mengumpulkan Rp181.734.969, melebihi target yang dia harapkan. Kay juga melakukan penggalangan dana melalui situs gofundme dan berhasil menghimpun sumbangan hingga 770 poundsterling dari target 9.500 poundsterling. Di kedua situs tersebut, penggalangan dana sudah dihentikan, kemungkinan karena biaya yang dibutuhkan sudah terpenuhi.

Galang Dana Online Semakin Jamak

Kay memang bukan orang pertama yang melakukan kampanye digital untuk mengetuk hati orang-orang baik. Di luar Indonesia, ada banyak macam dari situs donasi online. Contohnya adalah BT MyDonate, CharityChoice.co.uk, EveryClick.com, Go Fund Me, Donors Choose, Scholar Match, dan lain sebagainya.


Pada 2018, Charity Navigator, organisasi yang mengevaluasi organisasi amal di Amerika Serikat pernah membeberkan studi tentang penggalangan dana online terhadap 154 organisasi nirlaba. Studi tersebut mendapati bahwa donasi online meningkat 23 persen pada tahun 2017, meskipun traffic situs mereka menurun 1,4 persen dari tahun sebelumnya.

Begitu juga di negara tetangga kita, Singapura yang mengakui peningkatan uang yang mengalir ke portal amal. The Straits Time melaporkan bahwa pada situs Giving.sg, misalnya, sejak 2015 hingga 2017 telah berhasil mengumpulkan 50 juta dolar Singapura atau sekitar 500 miliar rupiah.

Kenaikan nilai sumbangan pun dicatat oleh Give.asia. Pada tahun yang sama, mereka berhasil mengumpulkan sumbangan hingga 10,8 juta SGD, lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar 4,5 SGD.

Bagaimana dengan di Indonesia?

CEO Kitabisa.com Alfatih Timur mengatakan bahwa di era digital, penggalangan dana secara online semakin diminati orang, karena bisa menjembatani donatur dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan.

“Kami yakin ada banyak orang di luar sana yang punya dana, tapi enggak tahu mau nyumbang ke mana. Jadi, ide dasarnya adalah menjadi jembatan antara orang-orang yang mau kegiatan sosial membantu sesama, dengan orang-orang yang mau berdonasi,” ujar Alfatih.

Alfatih pun membeberkan bahwa situsweb yang dikelolanya terus mengalami peningkatan jumlah donasi setiap tahunnya. Pada 2016, penggalangan dana mereka total mencapai Rp61 miliar. Sedangkan pada 2017, mereka berhasil meningkatkan total donasi (akumulasi dengan tahun sebelumnya) hingga Rp193 miliar, dan terus meningkat sampai Rp472 miliar pada 2018.

Menuai Pro-Kontra

Meski memudahkan, keberadaan dari kampanye galang dana digital ini menuai kontroversi. Kay Jessica memang dengan cepat mendapat uluran dana, tetapi ia pun banyak disindir karena dipersepsikan bukan termasuk golongan miskin.


Ahmad Taufiq, seorang pegawai dinas pemerintah yang berkantor di Jakarta, menyampaikan pendapatnya di Twitter bahwa yang dilakukan Kay adalah sah.

“Berhubung si peminta sumbangan (kabarnya) orang mampu, pendapat saya berhenti di ‘saya tak melihat ada yang salah dengan sumbangan’. Selama tak ada upaya manipulasi, eksploitasi, pemaksaan, serta tak melanggar hukum dan agama, apa salahnya sih orang minta sumbangan?” tulis pria berusia 31 tahun ini.

Meski Ahmad tak bersimpati dengan penggalangan dana yang dilakukan Kay, ia heran dengan komentar warganet yang menyindir habis-habisan kehidupan Kay.

“Massifnya reaksi kontra ini bikin saya bergidik. Saya jadi penasaran, apakah untuk konteks yang lain, netizen juga akan mensyaratkan hal-hal berat agar orang bisa hidup enak? LPDP tak boleh jalan-jalan? Buruh tak boleh beli iPhone? Anak kiri tak boleh nongkrong di Starbucks?” tambahnya.

Di sisi lain, warganet khawatir jika donasi yang didapat Kay akan dimanfaatkan untuk berfoya-foya oleh sang penerima sumbangan. Di sisi lain, risiko kampanye fiktif juga tentu ada. Namun, perlu diingat bahwa risiko ini juga mengintai penggalangan dana secara offline.

Dalam artikel yang dimuat The Conversation, Aseem Prakash dan Nives Dolsak menyarankan kepada para donor untuk meningkatkan pengawasan mereka terhadap sumbangan amal, khususnya donasi online. Mereka mencontohkan adanya badan amal yang justru menggunakan uang untuk membeli kendaraan mewah, berwisata, hingga menyewa jasa kencan. Untuk itu, ada baiknya pendonor mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penerima agar terhindari dari penipuan.

Pengawasan Donasi Online

Sejak 2007, Inggris telah memiliki Dewan Standar Penggalangan Dana yang menjadi regulator atas seluruh kegiatan penggalangan dana. Lembaga itu adalah Fundraising Regulator, yang juga membuat saran dan panduan untuk publik terhadap sistem donasi online.

Di Kitabisa.com, menurut Alfatih Timur, juga terdapat aturan tentang penggalangan dana online. Orang-orang yang akan melakukan kampanye mesti melewati proses verifikasi.

“Yang pasti semua orang yang mau galang dana itu harus menampilkan KTP dan foto diri. Jadi, identitas itu sama kayak bikin akun di fintech. Itu wajib untuk semua users,” ujar Alfatih.


Setelah lolos mekanisme itu, pihaknya akan melakukan tinjauan terhadap cerita yang dipaparkan oleh penggalang dana. Jika kampanyenya adalah untuk kepentingan medis, Kitabisa.com akan bekerjasama dengan rumah sakitnya.

“Terus kalau dia [menggalang dana untuk kepentingan] non-medis, kami juga punya jaringan lembaga-lembaga sosial di luar daerah, seperti ACT, dompet duafa untuk melakukan pengecekan, 'Betul-enggak ada [kasus] ini?',” katanya.

Ketika memasuki proses pencairan dana, situswebnya mewajibkan penggalang dana untuk melampirkan bukti kuitansi. Setelah itu, pihaknya melakukan pengecekan terhadap pencairan. Jika penggalang dana melanggar, mereka akan digugat secara pidana.

Agar pendonor tak waswas, mereka juga bisa melakukan pemantauan dan melaporkan penggalang dana melalui fitur public report yang disediakan. Fitur tersebut digunakan mereka untuk menyelidiki kampanye donasi online tersebut dan pemilik situs akan menahan dana yang telah disumbangkan. Jika aksi donasi itu fiktif, donatur berhak meminta pengembalian uang mereka atau memindahkan donasi ke kampanye lainnya.

Jangan Lupa Berterima Kasih

Bagi para penggalang dana, ingatlah untuk bertanggung jawab atas dana publik yang Anda terima. Selain soal etika, cara Anda bertanggung jawab merupakan kampanye bagi praktik penggalangan dana online secara umum. Jika Anda menunjukkan sikap penuh tanggung jawab, orang yang menyumbang tidak akan kapok. Yang belum pernah menyumbang pun bisa tergerak untuk menyumbang di kemudian hari.

Infografik donasi online
Infografik donasi online. tirto.id/Fuad


Dalam kampanye yang dilakukan Kay Jessica, ia menjanjikan kepada warganet akan menjadi akademikus yang berkontribusi bagi Indonesia. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik, Kay juga berjanji akan meminta email atau kontak media sosial dari para donatur untuk mengirimkan lembar pertanggungjawaban dan bukti pembayaran ke Universitas Oxford. Bagi perusahaan yang memberikan donasi untuknya, Kay bersedia menerima bantuan dengan jaminan ikatan kerja.

Sebelum melangkah ke soal etis yang lebih berat, tentu saja ada satu hal yang tak boleh luput: berterima kasih. Roy Potter adalah salah satu orang yang memiliki nasib seperti Kay. Melalui situs gofundme, dia menceritakan perjalanan pendidikannya yang begitu sulit dan harus berpindah-pindah kampus karena kesulitan keuangan.

Akhirnya, ia berhasil mendapatkan gelar Master of Science dalam bidang studi gender di London School of Economics. Kini, Potter kembali membutuhkan dana karena ia kembali diterima di Universitas Oxford pada Maret 2017. Namun, karena tak memiliki biaya, ia pun menunda pendaftaran sampai 2018. Sayangnya, hingga tahun itu, ia belum berhasil menutupnya.

Kepada publik, Potter berjanji akan menjadi akademikus untuk menebus kebaikan warganet serta menjanjikan kepada masyarakat untuk bisa segera lulus. Potter beruntung. Kisahnya berhasil memikat hati donatur. Dari target 30.000 poundsterling, ia bisa mengumpulkan uang hingga 31.103 poundsterling. Potter pun melakukan update di halaman kampanyenya.

“Terima kasih banyak atas dukungannya, telah percaya kepada saya dan ikut dalam perjalanan ini. Ini artinya, orang-orang sangat ingin membantu saya untuk mengubah dan meningkatkan kualitas hidup, dan sebagai konsekuensinya, semoga saya bisa membantu orang lain."

Baca juga artikel terkait BEASISWA atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani